
Seorang wanita dengan perut yang semakin membuncit berjalan ke arah pria yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang mulai berbeda dari biasanya, "Sudah lama, Fer?" mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Cukup lama untuk rasa tidak sabar menunggu masukan dari kamu," kelakarnya. Vara terkekeh, ia sudah cukup tahu permasalahan apa yang kini dihadapi pria yang pernah mencintainya. Mungkin ... hingga saat ini. "Anak-anak kemana, Ra? Tumben Yura tidak mengikuti kamu kemana-mana lagi?"
Vara terkekeh, "Yura dan Aidan sedang tidur. Mungkin karena lelah di sekolah sampai di cafe tadi mereka langsung tidur."
"Agh, aku sampai melupakan jika Aidan dan Yura sekarang sudah sekolah. Apa mereka merindukanku?"
"Sepertinya begitu. Yura selalu saja bertanya kenapa kamu sudah jarang berkunjung lagi ke cafe."
Fero tersenyum menanggapinya. Rasa sayangnya kepada Aidan dan Yura tidak berubah. Ia tetap menganggap mereka sebagai anak kandungnya, "Aku tahu kamu pasti bisa menjawab pertanyaan anak-anak dengan baik. Yang pasti, aku tidak pernah melupakan mereka. Aku tetap menganggap mereka sebagai anak kandungku," jelas Fero.
__ADS_1
"Terimakasih atas kasih sayang kamu kepada anak-anakku. Tetapi saat ini sudah ada calon bayi yang harus lebih kamu sayangi."
Menghela nafas berat, "Kamu sepertinya sudah cukup tau masalahku kali ini."
Vara menggangguk, "Hanya sedikit. Jadi apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku? Mungkin aku bisa membantu dengan memberi saran atau masukan."
Fero memandang lama wanita yang kini nampak semakin cantik saja di matanya. Dengan perut buncitnya yang justru membuat tubuh Vara semakin terlihat seksi. Memandang lama mata sendu itu. Meyakinkan kembali jika ada yang kini semakin terkikis di hatinya.
"Aku sudah meminta izin kepada Mas Rangga untuk bertemu kamu. Mas Rangga sepertinya cukup mengerti dengan keadaan kamu saat ini."
"Bagus jika seperti itu. Dia akan menjadi pria bodoh jika menyia-nyiakan wanita seperti kamu," tulus Fero. Vara bisa melihat raut kesedihan dari wajah Fero ketika mengatakannya.
__ADS_1
"Aku yakin kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Seperti Zia. Walau hanya bertemu satu kali dengannya, aku cukup tahu, jika dia wanita yang baik dan cocok untuk kamu," menghela nafasnya sejenak, "Jadi apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku? Apa ini masalah Zia?" tanya Vara pada intinya.
Fero menggangguk lemah, "Zia menolak keras menikah denganku. Aku tahu perbuatanku kepadanya sangat sulit untuk dia maafkan. Aku tidak ingin anakku merasakan seperti yang Aidan dan Yura rasakan, Ra. Hatiku sangat sakit ketika membayangkannya."
"Apa kamu menikahinya atas dasar rasa tanggungjawab saja?"
"Aku tidak ingin anakku lahir tanpa seorang ayah, Ra."
"Itu bukan jawaban, Fer! Jalan hidup masing-masing orang berbeda. Kamu tidak bisa menyamakan kehidupan yang aku lewati dengan Zia."
"Itu yang ingin aku tanyakan kepada kamu, Ra. Apa alasan kamu saat itu tidak mau memberitahukan kepada Rangga jika kamu sedang hamil dan memutuskan untuk membesarkan Aidan dan Yura tanpa sosok seorang ayah?"
__ADS_1
"Yang ada di dalam pikiranku saat itu hanyalah kemungkinan terburuk, Fer. Kemungkinan jika Mas Rangga menolak hadirnya Aidan dan Yura yang tumbuh dalam rahimku," lirihnya.