Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Menerima tawaran (Nadia)


__ADS_3

"Jadi kamu kapan mau memberikan kami ponakan selucu Aidan dan Yura, Nad? Sudah hampir dua bulan kamu menikah dengan Adit, apa belum ada tanda-tanda hadirnya adiknya si kembar di sana?" Riri terkekeh saat mengucapkan pertanyaan yang ia sendiri sudah tau jawabannya.


Nadia mencebik, melemparkan bantal yang sedang di pangkuannya ke arah Riri. Ia sungguh jenuh mendapatkan pertanyaan yang sama dan hampir setiap hari ditanyakan kedua orang tuanya dan sekarang Riri seperti ingin mengibarkan bendera perang kepadanya dengan pertanyaan yang sama. Jika ada benda selain bantal yang lebih tajam dan bisa menutup rapat-rapat mulut Riri, mungkin Nadia tidak akan melemparkannya. Bagaimana pun juga Riri tetap sahabatnya.


Riri mengusap kepalanya yang terkena ujung bantal hasil lemparan Nadia, "Biasa aja dong, Nad. Aku kan cuma nanya, ya gak Ra, Mel?"


Vara dan Melani hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Riri yang seperti tidak tahu apa-apa. Nadia melototkan matanya ke arah Riri yang membuatnya bergidik.


"Iya, Nad, iya." Riri mendekat ke arah Nadia memeluk sahabatnya itu erat.


"Le-lepas, Ri. Sesak nih aku," nafas Nadia terengah-engah ketika mengucapkannya.


Riri melepaskan pelukannya sambil terkekeh, melihat wajah cemberut dari Nadia membuatnya gemas hingga mencubit kedua pipi Nadia dengan jemarinya.


"Kebiasaan deh," Nadia bersungut-sungut mengelus kedua pipinya.


"Oh iya sampai lupa, katanya ada yang mau kamu ceritakan kepada kami, Nad?" tanya Melani setelah Riri kembali ke posisi duduk semula.


Wajah Nadia seketika lesu ketika mengingat apa yang ingin ia ceritakan kepada sahabatnya.


"Tentang Adit?" tanya Vara.


Nadia mengangguk, "Siapa lagi yang jadi bahan cerita aku akhir-akhir ini selain dia," keluh Nadia.


"Kamu berantem sama Adit?" timpal Melani.


"Tentu saja, setiap hari juga aku berantem. Lebih tepatnya berdebat dengan dia," Nadia merengut mengingat ia dan Adit yang tidak pernah akur. "Dia selalu saja mencari masalah kepadaku," tutur Nadia.


Vara, Melani dan Riri lebih mendekatkan tubuh mereka ke arah Nadia yang kini sedang duduk di karpet bulu bewarna pink. Sudah menjadi kebiasaan di dalam persahabatan mereka untuk saling mencari solusi di setiap masalah yang sedang dihadapi di antara mereka. Walau pun memiliki kesibukan masing-masing, tetapi mereka akan selalu mengusahakan untuk berkumpul satu minggu sekali untuk berbagi cerita atau menghilangkan stress dengan mencari hiburan bersama akibat banyaknya pekerjaan.


"Bukannya kamu bilang akhir-akhir ini sikap Adit sudah mulai berubah kepada kamu, Nad?" Vara mengingat pesan yang dikirimkan Nadia di grup chat mereka beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Nadia mengangguk, "Beberapa hari ini sikap Adit kepadaku memang cukup aneh, seperti sering memberikan perhatian kepadaku jika aku belum makan bahkan sering membantu pekerjaanku membersihkan apartemen," jelas Nadia.


"Lantas apa yang membuat kamu sering berdebat dengan Adit akhir-akhir ini?"


"Beberapa hari yang lalu Adit mengajakku untuk pergi honeymoon ke Bali, tentu saja aku langsung menolak. Untuk apa coba pergi honeymoon segala, sedangkan aku dan dia tidak memiliki perasaan satu sama lain. Hanya menghabiskan uang saja," Nadia menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar dan menjulurkan kakinya sebentar lalu melipatnya kembali. "Tetapi akhirnya aku tidak bisa menolak ajakannya kali ini, Adit beralasan jika mertua aku yang menyuruhnya untuk mengajakku honeymoon. Padahal aku tau, itu cuma akal-akalan dia saja," cebik Nadia.


"Tapi dari yang aku lihat, kamu sudah mulai mencintai Adit, Nad," ungkap Melani mantap.


"Jangan bercanda deh, Mel. Yang benar saja aku jatuh cinta kepada playboy itu!" elak Nadia.


"Mulut kamu boleh berkata tidak, tapi dari tatapan mata kamu tidak bisa membohonginya, Nad. Hati dan ucapan memang sering berbeda," ucap Melani sambil mengambil kembali kentang goreng yang semula ia letakkan di atas meja.


"Kamu kalau lagi bahas serius begini kenapa makan terus sih, Mel?" Riri mendengus.


"Supaya aku ada tenaga buat mengeluarkan kata-kata bijak di dalam diriku, Ri," Melani terkekeh dan langsung mendapatkan gempalan tangan Riri di pundaknya.


"Aku setuju dengan ucapan Melani, yang aku lihat kamu memang sudah mulai mencintai Adit. Kenapa mesti membohongi perasaan kamu sendiri? Kamu harus cukup jujur dengan perasan kamu sendiri, Nad," nasihat Vara.


Nadia menunduk, ia cukup malu jika mengakui perasaannya yang sudah mulai mencintai Adit, entah sejak kapan perasaan itu muncul? Nadia pun tidak tahu jawabannya. Mungkin saja dengan perhatian-perhatian kecil yang diberikan Adit kepadanya membuat ia mulai nyaman dengan perhatian itu dan mengubah hatinya yang semula menolak kehadiran Adit di dalam hidupnya menjadi sebuah perasaan cinta.


"Sepertinya kalian benar, jika aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya. Tapi hatiku masih ragu, aku sangat takut jika Adit masih sering bermain wanita di luar sana. Aku sungguh takut dikhianati, Ra, Mel, Ri. Kalian tau sendiri jika aku dan Adit hanya terikat di dalam perjodohan," Nadia sudah mulai berkaca-kaca saat mengucapkannya.


"Kamu tidak boleh menakuti hal yang belum terjadi seperti itu, Nad. Bisa saja Adit sudah berubah, banyak orang yang harus melakukan kesalahan terlebih dahulu untuk menjadi lebih baik. Dan menjadikan kesalahannya dulu sebagai pelajaran untuk tidak melakukannya lagi untuk menjadi sosok yang lebih baik setelahnya," Melani menangkup pipi Nadia yang sudah basah. "Kamu terima saja tawaran Adit untuk pergi honeymoon. Mungkin setelah pulang dari sana kalian bisa menjadi pasangan yang saling terbuka satu sama lain dan sebagai perantara kedekatan kalian berdua selama berada di sana," sambungnya.


"Kamu lihat saja Vara, dia bahkan memiliki kisah yang lebih tragis dari pada perjodohan yang kamu alami. Tapi Vara masih bisa terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang, bahkan kita sahabatnya sendiri. Dan sekarang, seperti yang kita lihat. Vara sudah mulai bahagia dengan pernikahannya bersama Rangga. Kamu cukup memberi kesempatan kepada Adit untuk membuktikan apakah dia juga mencintai kamu atau tidak. Untuk masa lalunya yang kamu takuti itu, kita tidak pernah bisa mengubah masa lalu seseorang. Kita hanya bisa menerima masalalu dari pasangan kita masing-masing. Seperti ucapan Melani tadi, seseorang bahkan harus melakukan kesalahan terlebih dahulu untuk menjadi sosok baru yang lebih baik," ucap Riri menggenggam kedua tangan Nadia.


"Baiklah, aku akan coba untuk melawan pikiran buruk yang sering menghantuiku akhir-akhir ini. Seperti ucapan kalian tadi, aku juga akan menerima ajakan Adit tanpa adanya keterpaksaan lagi untuk honeymoon bersamanya. Semoga saja perasaanku kali ini tidak salah," ucap Nadia mengingat kisah cintanya dengan mantannya dulu yang berakhir dengan perpisahan.


Vara hanya tersenyum mendengarkan pembicaraan Nadia, Melani dan Riri. Deringan telepon dari ponsel milik Vara membuat percakapan mereka seketika terhenti.


"Aku angkat teleponnya dulu," Vara beranjak keluar dari dalam kamar Melani karena tidak mau mengganggu pembahasan serius yang sedang dibicarakan ketiga sahabatnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Vara masuk ke dalam kamar dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya. "Aku pamit dulu, aku harus ke rumah sakit sekarang juga," ucap Vara yang mulai terisak.


"Apa yang terjadi, Ra?" panik Riri yang langsung beranjak ke arah Vara diikuti Melani dan Nadia.


Vara menyambar tasnya yang berada di atas sofa, "Yura terjatuh, kakinya terkena pecahan kaca dan lukanya cukup dalam, sekarang aku harus buru-buru ke rumah sakit. Karena Yura tidak mau kakinya dijahit," jelas Vara.


"Aku akan mengantarkan kamu, Ra," sambar Melani cepat.


"Tidak perlu, Mel. Mas Zigo sudah menungguku di bawah."


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan dan tetap tenang, Ra. Yura sedang membutuhkan dukungan dari kamu."


"Terimakasih, Mel. Aku berangkat dulu," pamit Vara.


"Kami akan menyusul sebentar lagi."


Vara mengangguk dan segera berlalu keluar dari dalam kamar Melani.


.


.


.


Happy Reading😉


jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, rate bintang 5 dan votenya jika berkenan. Sambil menunggu Vara dan Rangga update, mari mampir ke karya baru aku yang berjudul :


— Menikahi Pria Kaku —


Terimakasih ^_^

__ADS_1


__ADS_2