Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Kembali ke rumah


__ADS_3

"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Sebaiknya kamu segera sarapan. Jangan membuat anakku kelaparan di dalam sini." meletakkan telapak tangan ke perut Zia seraya mengelusnya.


Zia mengangguk. Jantungnya bekerja dari batas normal ketika tangan kekar itu mengelus perutnya. Perasaan hangat tiba-tiba saja menyeruak di dalam tubuhnya.


***


Sudah tiga hari Vara di rawat di rumah sakit. Hari ini adalah hari dimana Vara sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya.


"Ibu dimana, Mas?" tanya Vara ketika tidak menemukan Ibunya.


Rangga tidak menjawab ucapan Vara. Dengan sigap tangannya memindahkan Vara ke kursi roda dengan hati-hati.


"Mas..." rungut Vara ketika Rangga tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Ibu ada di luar ruangan berasama Yura dan Aidan, Sayang."


"Kenapa Ibu tidak masuk ke dalam saja, Mas?"

__ADS_1


"Entahlah. Mas juga tidak tahu pasti. Tadi Yura meminta Ibu untuk mencari Kakak Rai yang ia lihat juga berada di rumah sakit ini. Aidan pun juga ikut, karena takut Yura akan menyusahkan Ibu."


"Apa sudah siap, Sayang?" tanya Mama Mita dengan tangan menggendong bayi Lula yang membuat pembicaraan mereka terhenti.


"Sudah, Ma."


"Baiklah, ayo kita pulang cucu Nenek yang cantik!"


***


"Dari mana saja kamu, sayang? Apa kamu kembali merepotkan nenek?" tanya Vara. Mengelus rambut pirang putrinya.


"Nda... Yura kan anak baik... Nda pernah merepotkan nenek... Iya kan, Nek?" memiringkan kepala ke arah kiri ketika neneknya sudah berada tepat di sampingnya."


"Tentu saja... Nenek tidak pernah merasa direpotkan oleh kamu." ungkap Ibu Ana. Wanita parubaya itu menatap lucu mata Yura yang meminta pembelaan darinya.


"Tidak merepotkan bagaimana? Kamu mengajak nenek berkeliling rumah sakit hanya untuk mencari orang yang entah seperti apa bentuknya!" cetus Aidan. Rangga versi mini nampak kesal dengan kelakuan kembarannya.

__ADS_1


"Kakak ini kenapa? Jika Kakak tidak mau menemani Yura mencari Kak Rai, kenapa Kakak ikut bersama kita tadi!" cibir Yura. Bibirnya seketika mengerucut disudutkan oleh Aidan.


"Sudahlah, kalian ini selalu saja bertengkar! Ayo pulang, Adik kalian sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah." timpat Lala yang baru saja datang.


"Kakak Aidan jahat, Onty!" rengek Yura meminta bantuan Lala.


Lala terlalu gemas melihat ponakannya yang begitu centil itu. Segera ia menggendong Yura dan menghadiahi gigitan di pipi bulatnya.


"Sakit, Onty!" rengek Yura lagi. Pipinya bahkan memeraj akibat hadiah dadakan dari Onty Lalanya.


"Sudah, sudah. Ayo kita segera pulang. Vara harus segera istirahat!" lerai Mama Mita yang masih setia menggendong Alula. Untung saja bayi itu masih nyenyak dalam tidurnya tanpa merasa terganggu dengan suara cempreng Yura.


"Ayo adik bayi, kita pulang!" Yura begitu antusias membawa adik bayinya itu untuk pulang ke rumah mereka.


Gadis kecil itu sudah tidak sabar untuk mengajak adik bayinya bermain boneka di kamarnya. Walau Yura tahu, untuk saat ini adiknya tidak akan bisa ia ajak untuk bermain.


"Adik kamu itu masih bayi! Mana mungkin bisa kamu ajak bermain boneka di kamar kamu!" ledek Lala yang tahu apa yang ada di dalam pikiran Yura. Tangan Lala masih setia menggandeng tangan mungil Yura berjalan mengikuti keluarganya dengan raut wajah masam Yura mendengarkan ucapan Ontynya.

__ADS_1


__ADS_2