
"Ka-kamu mau apa?" Zia ketakutan. Kilatan amarah dan gairah nampak jelas di mata Fero.
Ketakutan Zia semakin bertambah ketika tubuh Fero sudah berada di atasnya. Fero menyeringai melihat ketakutan dari wanita yang berada di bawah kungkuhannya, "Bukannya ini yang lo mau, huh?!" mengusap bibir Zia dengan jempolnya.
"Lepaskan aku, Fer! Aku mohon... Aku akan pergi dari hidup kamu jika memang kamu tidak menginginkannya," Zia terisak. Berharap Fero meluluhkan hatinya untuk melepaskan dirinya saat ini.
__ADS_1
"Gue akan melepaskan lo setelah ini," tanpa basa-basi Fero langsung membenamkan bibirnya pada bibir Zia. Pukulan tangan Zia pada dadanya tak membuat Fero melepaskan ciumannya. Bukan ciuman yang seperti yang Zia mau. Ciuman lembut yang Zia harapkan selama ini dari orang yang dicintainya ternyata harus berubah menjadi ciuman kasar.
Gaun sepanjang lutut yang dikenakannya sudah berhasil Fero lepaskan. Zia berteriak, berharap orang yang lewat di depan pintu kamarnya bisa mendengarkan teriakannya dan menolongnya. Fero kembali membenamkan bibirnya ketika teriakan Zia mengganggu aktivitasnya. Semua kain yang Zia kenakan terlepas begitu saja dengan keganasan Fero.
Fero semakin menggila melihat tubuh polos yang ada di depan matanya. Zia mencoba menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Ucapan memohon untuk Fero melepaskan dirinya tak henti ia ucapkan. Matanya membulat sempurna ketika melihat Fero yang sudah sama polosnya dengan dirinya.
__ADS_1
"Ja-jangan, aku mohon. Aku akan pergi dari hidup kamu tanpa kamu meminta. Izinkan aku untuk pergi dari sini, maafkan aku yang sudah membuat kamu tidak nyaman dengan kehadiranku kembali," Zia masih mencoba merayu, air matanya mengalir deras. Berharap Fero mendengarkan ucapannya dan mau melepaskan dirinya.
Fero tidak menghiraukan ucapan Zia. Hanya seringaian licik yang terpancar dari raut wajahnya. Zia berteriak kesakitan ketika Fero menyatukan tubuh mereka. Hanya air mata yang mewakili kesakitan hati dan tubuhnya. Rasa cintanya seolah runtuh saat itu juga ketika Fero memperlakukan dirinya dengan sangat kasar.
Zia menatap lama pria yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Air mata masih nampak mengalir membasahi pipi putihnya. Merasakan sesak pada dadanya. Jika Fero tidak mencintai dan bisa membalas rasa cintanya, kenapa Fero harus mengambil sesuatu yang sudah dijaganya selama ini.
__ADS_1
"Maafkan aku yang sudah membuat hidup kamu tidak setenang dulu, lanjutkanlah hidup kamu dengan wanita pilihan kamu. Aku akan mengabulkan permintaan kamu untuk pergi dari hidupmu. Bukan hanya pergi, mungkin juga menghilang. Bahagia kamu juga akan menjadi bahagiaku. Perjodohan kita hanya membuat kamu sakit, aku akan mengobati lukamu dengan sesegera mungkin tidak ada dan nampak lagi di matamu. Selamat tinggal, semoga kamu selalu bahagia," Zia menghapus air matanya. Turun dari tempat tidur dengan menahan rasa sakit pada tubuhnya akibat perlakuan kasar Fero.
Dipakainya kembali pakaian yang tadi dikenakannya. Zia berbalik, menatap sebentar pria yang tengah tidur seperti bayi itu, "Selamat tinggal, maafkan kesalahanku yang telah lancang mencintaimu," ucapnya dan segera keluar dari dalam kamar hotel.