Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Karena kami anak ayah


__ADS_3

Vara memencet bel yang tersedia di dekat pintu bewarna coklat, tak lama, pintu terbuka dan keluarlah wanita paruh baya yang diperkirakan Vara seumuran Ibunya. Wanita itu tersenyum melihat Vara sekilas lalu menurunkan pandangan ke bawah melihat plastik yang sedang di pegang Vara.


"Mau antar pesanan makanan ya, Non?" tanya wanita yang belum diketahui namanya itu.


Vara mengangguk seraya tersenyum, "Iya, Bu. Nona Siskanya ada, Bu?"


"Ada, Non. Mari saya antar kebelakang, acaranya sedang berlangsung di taman belakang." tuturnya lembut.


Vara masuk ke dalam rumah setelah dipersilahkan, Zigo, Aidan dan Yura berjalan di belakang Vara yang sedang dituntun menuju ke arah taman belakang. Dari arah jauh, Vara dapat melihat beberapa orang di sana adalah orang-orang yang di kenalnya. Ya, Vara sangat ingat, jika mereka merupakan teman-teman sekolahnya di SMA dulu. Apa jangan-jangan Nona Siska yang sedang berulang tahun adalah teman sekelasnya dulu, pikir Vara.


"Sebentar ya, Non. Bibi panggilkan Non Siskanya dulu." Wanita itu melangkahkan kakinya ke arah perempuan yang sedang menjadi pusat perhatian di acara itu.


Entah apa yang mereka bicarakan, tak lama setelah itu, Siska berjalan ke arah Vara diikuti wanita paruh baya itu di belakangnya. "Vara?? kamu Vara, kan?" tanya Siska tak percaya, jika Vara adalah anak dari pemilik cafe tempat ia sering memesan makanan.

__ADS_1


Vara mengangguk tersenyum, mengulurkan tangannya ke arah Siska setelah wanita itu memeluknya singkat. "Selamat ya, Sis. Aku sungguh tidak tau jika acara ini adalah acara kamu, jika aku tau, aku akan membawakan hadiah untuk kamu," ucap Vara tidak enak.


"Agh, kamu terlalu berlebihan, Ra. Kamu sudah membawakan pesanan makanannya saja, aku sudah senang. Aku sangat suka menu yang ada di cafe Ibu kamu, Ra." puji Siska.


"Kenapa kamu bisa tau, jika cafe itu milik ibu aku, Sis?" Vara menyerngit heran.


"Sebelum kamu ke sini, Bu Ana sudah mengabari aku, jika anaknya yang akan mengantarkan pesanannya, Ra." jelas Siska. "Oh, iya, Ra. Aku dengar kamu sudah memiliki anak dari Rangga, apa anak-anak ini anak kamu dan Rangga, Ra?" Siska mengalihkan pandanganya ke arah Aidan dan Yura yang berdiri di samping Vara. Tanpa dijawab Vara pun, Siska sudah tau jawabannya ketika melihat wajah Aidan dan Yura.


"Baik, Bunda." jawab keduanya kompak. Aidan maju menyalami Siska diikuti Yura setelahnya.


"Anak-anak kamu memang hasil bibit unggul ya, Ra. Mereka sungguh tampan dan cantik." puji Siska melihat ke arah Aidan dan Yura bergantian. "Yang tampan ini kenapa mirip sekali dengan Rangga, sih?" Siska membelai rambut Aidan.


"Karena kami anak ayah, Tante." timpal Yura mengembungkan ke dua pipinya.

__ADS_1


"Hahaha, iya, iya, benar sekali cantik... Agh, iya, aku sampai lupa ajak kamu gabung sama yang lain. Ayo, Ra, kita gabung sama yang lain dulu. Makanannya biar dibawa Masnya dan Bibi saja." ajak Siska kepada Vara. "Bi, tolong bawaain makanannya dan letakin di atas meja di dekat kolam, ya." ucap Siska ke arah pelayannya.


"Baik, Non."


Siska menarik tangan Vara ketika melihat Vara hanya diam mematung ditempat tanpa berniat melangkahkan kakinya, "Ayo, Ra. Ayo, Aidan, Yura, ikut tante."


Vara memengang pergelangan tangan Siska, "Agh, tidak usah, Sis. Aku tidak enak bergabung dengan yang lain." Vara menunduk, mengingat kesan buruk terakhir kali ia bertemu mereka di acara reuni. Apalagi dengan membawa kedua anaknya saat ini kehadapan mereka lagi, sungguh Vara masih takut kejadian buruk itu akan terulang kembali.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2