
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari dimana Zia dan Fero akan menikah. Zia nampak gugup mencengkram erat kebaya yang dikenakannya. Kebaya yang dikenakan Zia dibuat longgar untuk sedikit menutupi perut Zia yang sudah membuncit. Sedangkan Fero nampak tenang duduk di samping Zia mempersiapkan diri untuk melakukan ijab qabul.
Vara datang bersama Rangga dan si kembar. Sedangkan Alula dititipkan kepada Mama Mita dan Ibu Ana. Vara menarik kedua sudut bibirnya lebar ketika melihat Zia yang nampak cantik dengan kebaya putihnya. Vara tidak menyangka, akhirnya Fero akan menikah juga dengan Zia. Wanita yang sangat mencintai dirinya. Walaupun terkadang Zia masih merasa bersalah karena tidak dapat membalas cinta Fero. Tetapi kini Fero sudah mendapatkan wanita baik hati yang dapat menggantikan posisinya di hati Fero.
Dengan satu tarikan nafas, akhirnya Zia dan Fero telah resmi menjadi suami istri. Air mata Zia menetes dengan sendirinya tanpa ia sadari. Dalam hatinya masih bertanya-tanya. Apakah ini adalah keputusan yang benar? Menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Walaupun Fero berkata akan berusaha mencintainya, tetapi Zia sadar. Jika melupakan cinta pertama pria itu tidaklah mudah. Bahkan Zia dapat melihat tatapan hangat Fero ketika menatap Vara.
"Selamat ya, Zi. Akhirnya kamu dan Fero menikah juga. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian berdua," ucap Vara tulus. Membenamkan tubuh Zia ke dalam pelukannya yang membuat Zia merasa nyaman.
Zia mengangguk di dalam pelukan Vara. Pantas saja Fero sangat mencintai Vara, wanita itu memiliki hati yang lembut dan penyanyang. Vara seperti wanita yang sempurna tiada tandingannya. Rasanya semakin berat saja hati Zia untuk yakin jika Fero bisa mencintai dirinya.
"Waaa... Tante cantik sekali... Iya 'kan Bunda?" tanya Yura memandang takjub pada Zia. Mengulurkan tangan mungilnya untuk menyalami Zia.
"Iya. Tante Zia sungguh cantik."
__ADS_1
"Tapi masih cantikan Yura, sih!" celetuknya lagi.
Zia terkekeh geli mendengarkan ucapan Yura. Gadis mungil itu memang selalu saja bisa membuat keadaan menghangat dengan berbagai tingkahnya.
Aidan mendengus kesal mendengar ucapan saudara kembarnya itu. "Diamlah! Kamu sungguh berisik!" cetusnya.
"Biarin! Wlekk! Kakak iri, ya?" cibirnya.
"Sudah-sudah. Kalian ini selalu saja bertengkar," lerai Vara. Jika terus dibiarkan, kedua anak kembarnya itu akan terus berdebat sampai Rangga datang melerai mereka.
Yura mencebikkan bibirnya kesal melihat kakaknya. Sedangkan Aidan hanya acuh saja. Vara mengalihkan pandangannya ke arah Rangga yang sedang terlibat percakapan bersama Fero, Adit, Danu dan Alex.
"Maaf aku tidak bisa lama-lama di sini, Zi. Tadi Ibu telfon jika Llula sudah mulai rewel. Aku dan Mas Rangga pulang dulu, ya. Aidan dan Yura masih di sini bersama Riri, Melani, Nadia, Alex dan Danu yang akan menjaga mereka." ucap Vara tidak enak.
__ADS_1
"Tidak masalah. Terimakasih sudah datang, Ra!"
Vara mengangguk bersamaan dengan Rangga yang berjalan cepat ke arahnya. "Apa kamu sudah pamit kepada Zia, Sayang?" tanya Rangga.
"Sudah, Mas. Ayo kita pulang!"
"Ayo. Alula sudah rewel. Sepertinya dia ingin minum ASI langsung dari kamu."
Vara mengangguk mengiyakan. Setelah berpamitan kepada Zia dan Fero. Vara dan Rangga pun pulang ke rumah mereka.
Di dalam perjalanan, tak hentinya Vara melebarkan senyumnya. Rangga yang melihatnya pun menyerngitkan keningnya dalam, heran. "Kamu kenapa, sayang? Mas lihat dari tadi kamu selalu tersenyum."
"Aku tersenyum karena bahagia, Mas. Akhirnya Zia tidak merasakan hal yang sama sepertiku. Merasakan sakitnya melahirkan tanpa didampingi sosok seorang suami di sampingnya."
__ADS_1