
Wajah Vara memerah mendapat perlakuan manis dari suaminya. Walaupun sudah sering mendapatkan perlakuan manis dari Rangga, tetap saja Vara merasa malu. Apalagi kali ini Rangga memperlakukannya di depan Fero dan Zia.
"Aku rasa sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Aku pamit pulang. Tubuhku sepertinya sedang tidak bersahabat," tutur Zia.
"Apa Lo sakit? Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang juga!" cemas Fero.
Zia dengan cepat menggeleng, "Aku hanya butuh istirahat. Tubuhku sungguh lelah," bangkit dari sofa yang didudukinya. Memberikan senyuman manis kepada tiga manusia yang ada di sana untuk menandakan jika ia baik-baik saja.
"Gue akan mengantarkan Lo pulang! Jangan membantah!" tiah Fero ketika melihat pergerakan dari mulut Zia, "Terimakasih untuk bantuan kalian. Maaf gue harus mengantar Zia pulang sekarang juga."
"Tidak masalah. Antarlah Zia pulang, sepertinya dia butuh mengistirahatkan tubuhnya," timpal Vara.
"Ayo sayang!" ajak Rangga. Mengulurkan tangannya untuk membantu Vara bangkit dari sofa. Vara mengangguk menerima uluran tangan Rangga.
__ADS_1
***
"Aku senang melihat mereka akhirnya bisa menurunkan ego masing-masing, Mas," memandang jalanan kota yang begitu padat dengan kendaraan.
Rangga menoleh sekilah ke arah istrinya, "Semoga saja mereka bisa bahagia seperti kita setelah menikah nanti."
"Semoga saja, Mas. Fero pria yang baik, aku yakin dia bisa membahagiakan keluarga kecilnya. Zia juga wanita yang baik. Aku tahu dia sangat mencintai Fero. Semoga saja Fero bisa dengan cepat membalas cintanya."
"Dan semoga saja Fero bisa dengan cepat melupakan kamu!" dengus Rangga.
Rangga mengelus kepala istrinya yang mulai manja itu, "Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut tempatku di hati kamu, sayang!" tegas Rangga. Menghujani seluruh wajah Vara dengan ciuman bertubi-tubi.
"Mass.."
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa melihat kita dari luar. Bahkan jika kamu mau meminta lebih, aku akan mengabulkannya sekarang," goda Rangga. Memang semenjak hamil yang kedua ini Vara merasa semakin tergila-gila pada suaminya. Setiap hari rasanya Vara sangat menginginkan sentuhan dari suami tampannya itu.
Wajah Vara merona menahan malu. Keagresifannya selalu saja menjadi umpan Rangga untuk menggoda dirinya. Rangga terkekeh geli melihat ekspresi istrinya itu, "Aku suka kamu yang seperti itu. Kamu terlihat semakin cantik saja ketika sedang merindukan sentuhanku," goda Rangga lagi. Melajukan mobilnya kembali ketika rambu lalu lintas menunjukkan warna hijau.
Vara mencebik. Sudah menjadi kebiasaan Rangga setiap hari menggoda dirinya. Pandangannya teralihkan melihat penjual siomay di pinggir jalan, "Aku ingin itu, Mas!" tunjuk Vara ke arah pedagang siomay. Rangga memelankan laju kendaraannya untuk melihat arah yang ditunjukkan istrinya itu.
"Mass..." rengek Vara melihat ekspresi suaminya menunjukkan ketidaksetujuaan.
Rangga menghela nafas panjang. Jika tidak dituruti Vara bisa saja menangis seperti hari-hari sebelumnya. Perasaan istrinya itu begitu sensitif terhadap penolakan dari dirinya, "Baiklah. Aku akan membelikannya untukmu," memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku ikut, Mas!" pinta Vara ketika Rangga hendak membuka pintu mobilnya.
"Tidak. Tunggulah sebentar saja, sayang. Aku tidak akan lama."
__ADS_1
"Baiklah, aku menunggumu di sini, Mas. Jangan lama!" lirihnya.
Rangga tersenyum melihat ke arah istrinya yang tengah cemberut. Segera ia langkahkan kakinya ke arah penjual siomay ketika keluar dari dalam mobil. Tanpa Rangga sadari, jika keputusannya meninggalkan Vara seorang diri di dalam mobil adalah keputusan yang salah.