Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Sungguh memalukan!


__ADS_3

Hari ini Vara pulang dari cafe lebih cepat dari biasanya. Ia ingat, jika Rangga menyuruhnya sudah pulang ke rumah sebelum Rangga pulang kerja. Jam menunjukkan pukul 16.40 ketika Vara, Aidan dan Yura sampai di rumah. Masih ada waktu sekitar satu jam lebih lagi menunggu Rangga sampai di rumah.


Vara mengajak Aidan dan Yura untuk mandi terlebih dahulu, setelah memandikan kedua buah hatinya, Vara beranjak ke kamarnya dan meninggalkan Aidan dan Yura bersama Lala yang baru saja pulang kuliah.


"Sebaiknya aku mandi dulu, setelah itu bantu Bibi di bawah buat siapin makan malam sembari menunggu Rangga pulang." gumam Vara.


Jadwal yang tidak terlalu padat hari ini membuat Rangga pulang lebih awal dari biasanya, sesampainya di rumah, Rangga melangkahkan kaki jenjangnya ke arah suara tawa yang berasal dari kamar Yura yang sedikit terbuka.


Rangga masuk ke dalam kamar Yura, mendorong pintu bewarna coklat itu pelan untuk bisa memasukkan tubuhnya ke dalam sana. Yura yang sedang tertawa geli karena digelitikin Lala beralih ke arah pintu ketika mendengar suara decitan pintu terbuka, walaupun Rangga sudah sangat pelan membukanya.


Yura turun dari ranjang, berlari ke arah pintu terbuka yang menanmpakkan wajah Rangga di sana diikuti Aidan. "Ayah sudah pulang keljana? Yula sudah mandi lo sama Bunda, sudah halum lo Ayah... Hihi..." Yura tertawa-tawa memeluk kaki Rangga erat.


Aidan mencebikkan bibirnya, lelaki kecil itu sangat kesal setiap kali melihat Yura yang selalu saja manja kepada Bunda maupun Ayahnya. Rangga mengangkat Yura yang masih memeluk kakinya. Mencium seluruh wajah Yura, ketika gadis kecil itu sudah beralih ke gendongannya.


"Iya bener, anak Ayah sudah harum," Rangga beralih mengangkat Aidan setelah menurunkan Yura di atas Ranjang. "Apakah hari ini sangat baik, jagoan Ayah?" tanya Rangga.


Aidan mengangguk-angguk, Rangga memperhatikan sekitar, tidak ada Vara di sana. "Kemana Vara, La?" Rangga menatap Lala yang sedang asik memainkan ponselnya.


"Kak Vara lagi di kamar, Kak. Mau mandi katanya tadi. Makanya nitipin Aidan dan Yura sama aku." jawab Lala.


Rangga menurunkan Aidan dan mendudukkannya di samping Yura, "Ayah ke kamar dulu, kalian main sama onty Lala dulu ya." Aidan dan Yura mengangguk mengerti. Rangga keluar dari kamar Yura menuju kamarnya.

__ADS_1


Rangga mengedarkan pandangan setibanya di dalam kamar. Suara gemercik air menghentikan aksi Rangga yang sedang mencari keberadaan Vara. Rangga melonggarkan dasi dan melepas jas yang melekat di tubuhnya. Mendudukkan tubuhnya di sofa sembari menunggu Vara selesai mandi.


Vara yang sudah selesai mandi menepuk keningnya karena lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi. Vara menyambar handuk dan melilitkan ke tubuhnya. Vara tidak ambil pusing, lagi pula, Rangga pasti belum sampai di rumah, pikir Vara.


Vara keluar dari dalam kamar mandi, berjalan menuju walk in closet tanpa memperhatikan Rangga yang sedari tadi menatapnya dalam. Rangga menahan hawa panas yang menjalar ke dalam tubuhnya ketika melihat pemandangan yang baru saja ia lihat.


Vara tersentak kaget ketika keluar dari walk in closet dan menemukan Rangga sudah duduk di sofa yang sedang menatapnya. Tatapan Rangga yang penuh mendamba seperti saat Rangga mengambil paksa mahkotanya membuat Vara bergetar. Ia masih sangat sulit melupakan tatapan Rangga malam itu, tatapan yang berhasil membuatnya tak henti mengingat wajah tampan tanpa cacat itu.


Vara mencoba menetralkan gemuruh di dalam dadanya, berjalan ke arah Rangga sambil menarik nafasnya, pelan. "Kamu sudah pulang, Mas? Maaf aku baru saja selesai mandi." Vara menunduk, tidak berani menatap mata elang yang berhasil menghunus ke jantungnya.


"Sudah, sudah dari tadi." jawab Rangga datar, tidak beda seperti Vara, Rangga juga sedang menahan getaran hebat di dalam tubuhnya yang saat ini sangat ingin ia tuntaskan.


"Sejak lo mandi, dan— sejak lo keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk." ledek Rangga.


Wajah Vara merah padam membayangkan Rangga yang melihat ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Rasanya Vara sangat ingin membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam lubang saat ini juga.


Bagaimana ini, aku sungguh malu! Bagaimana bisa aku tidak melihat sekitar dulu ketika keluar dari kamar mandi tadi? Huh, aku bahkan sangat takut jika dia berpikir aku sedang menggodanya. Sungguh memalukan sekali!


"Maaf, aku sungguh tidak tau jika Mas sudah pulang, jika aku tau, aku tidak ak—"


"Tidak apa?" Potong Rangga.

__ADS_1


Vara menggeleng, ia membatalkan niatnya untuk melanjutkan perkataannya tatkala melihat tatapan menyebalkan dari Rangga. "Agh, tidak! Apa kamu mau mandi, Mas? " kilah Vara.


"Ya."


"Baiklah, aku akan siapkan pakaian ganti kamu dulu, Mas. Setelah itu aku ingin membantu Bibi Siti menyiapkan makan malam di dapur."


Rangga mengangguk, beranjak dari sofa melewati Vara yang masih mematung di posisi semula. Aroma tubuh Rangga yang baru saja melewatinya menyeruak ke dalam indera penciumannya.


Bahkan pulang kerja saja dia tetap wangi, agh apa yang kamu fikirkan, Vara!


Vara memutar tubuhnya kembali menuju walk in closet untuk menyiapkan baju ganti Rangga. Setelah meletakkan baju ganti Rangga di atas tempat tidur, Vara memutuskan untuk turun melangkahkan kakinya ke dapur yang menampakkan Bi Siti dan beberapa pelayan sedang sibuk mempersiapkan masakan untuk makan malam.


Bi Siti yang melihat kedatangan Vara langsung menghentikan aktivitasnya, berjalan ke arah Vara dengan senyuman yang tidak surut dari wajahnya. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya bi Siti ramah.


Vara tersenyum seraya menggeleng, "Tidak ada, Bi. Vara hanya ingin membantu mempersiapkan masakan untuk makan malam." jawab Vara lembut.


Bi Siti menatap wajah polos yang sangat cantik dihadapannya. Ia tidak menyangka jika Tuan Mudanya akan mendapatkan istri yang sangat baik seperti Vara, mengingat Audi yang sering datang ke rumah Rangga dan suka berlaku sesukanya terdapanya dan para pelayan membuat Bi Siti sangat bersyukur, jika bukan Audi yang menjadi istri Rangga.


"Agh, tidak perlu, Nona. Saya takut nanti akan dimarahi Tuan, jika Nona berada di sini." jawab Bi Siti menjelaskan, walaupun Mama Mita juga sering membantu mempersiapkan masakan untuk makan seperti yang Vara ingin lakukan, tapi tetap saja ia masih sangat takut jika nanti Rangga melihat dan memarahinya sebagai kepala pelayan di rumah itu.


Vara mengelus bahu Bi Siti, "Mas Rangga tidak akan marah, Bi. Tadi Vara sudah minta izin untuk membantu Bibi memasak di sini." Bi Siti mengangguk dan mempersilahkan Vara untuk membantu ia dan para pelayan yang berada di sana. Vara yang melihat kecanggungan dari wajah para pelayan yang melihatnya ada di sana mencoba mencairkan suasana, dengan mengajak mereka bekerja sambil bercerita pengalaman bekerja di rumah Rangga. Para pelayan merasa sangat senang memiliki Mita dan Vara sebagai nyonya di rumah itu, yang sangat ramah dan tidak membeda-bedakan status.

__ADS_1


__ADS_2