Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Mencemaskan


__ADS_3

Rangga beranjak dari sofa berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Ya, ada apa, Bi Siti?" tanya Rangga pada pelayan.


"Nyonya menyuruh Tuan muda dan Nona turun untuk makan siang," Jawab Siti.


"Baiklah, terimakasih, Bi!"


Siti mengangguk, Rangga menutup pintu setelah siti beranjak dari depan kamar. Rangga memutar badan beralih menatap Vara yang masih menunduk seperti terakhir kali ia lihat. "Ayo turun, Mama sudah menunggu kita di bawah untuk makan siang." ucap Rangga.


Vara menghapus cepat sisa air mata di sudut matanya. Vara beranjak menerima uluran tangan Rangga yang sedari tadi ia abaikan sejenak untuk menghapus sisa air matanya. "Ayo!" ucap Vara cepat.


Di meja makan mereka sudah ditunggu orang tua Rangga, Lala dan anak-anak mereka. Yura yang melihat kedatangan Rangga dan Vara turun dari kursi dan menarik tangan Vara untuk duduk di dekatnya. Vara mengerti jika Yura meminta ia untuk menyuapkannya makan seperti biasa. Bayu, Mita dan Lala tersenyum melihat Yura yang sangat manja kepada Vara.


Sebelum menyuapkan Yura, Vara terlebih dahulu mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Rangga seperti yang ia lakukan tadi pagi. Kebiasaan Ibunya yang selalu menyiapkan makan dan keperluan untuk ayahnya dulu, membuat Vara mengikuti kebiasaan Ibunya. Terlebih sebelum menikah, Vara sudah mendapatkan arahan dan nasihat dari Ibu tentang kewajiban menjadi seorang istri yang baik untuk suami dan anak-anaknya.


Yura yang melihat Bundanya lebih memperhatikan Rangga dahulu seperti tadi pagi dari pada dirinya, cemberut dan memajukan bibirnya. Gadis kecil itu menunduk, ia merasa jika Bundanya tidak mau lagi menyuapkannya seperti biasanya.


Setelah mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Rangga, Vara mengambilkan makanan untuk Yura dan dirinya. "Yura, ayo buka mulutnya nak..." ucap Vara yang melihat Yura tidak kunjung membuka mulutnya.


Semua orang yang berada di meja makan beralih menatap Yura yang menunduk dan tidak mau makan. Suana yang biasa hening ketika makan di keluarga Rangga, sepertinya akan berubah setelah adanya makhluk kecil Yura di rumah itu.

__ADS_1


Yura mengangkat wajahnya menatap Vara dengan mata yang sudah tergenang. "Bunda masih mau nyuapin Yula?" tanya Yura pelan.


Vara menyerngit, kenapa putrinya bertanya seperti itu, pikir Vara. "Tentu saja Bunda masih mau nyuapin Yura," Vara meletakkan sendok yang semula ia pegang di atas piring makanan Yura. "Kenapa Yura bertanya seperti itu, nak?" tanya Vara lembut, melihat raut putrinya yang sedang menahan tangis, sepertinya Vara tau jika Yura sedang dalam mode cemburu melihat ia lebih memperhatikan suaminya.


"Kenapa Bunda dali tadi pagi selalu menyiapkan Ayah makan? Apa Ayah mau disuapin bunda juga?" tanya Yura polos yang membuat semua orang terkekeh mendengarnya.


Vara mengecup kedua pipi bulat Yura secara bergantin, "Ayah kan sudah besar, jadi untuk apa Ayah bunda suapin, sayang? Kecuali Ayah sedang sakit..." jawab Vara lembut.


"Telus kenapa bunda selalu menyiapkan Ayah makan? Ayah kan sudah besal, tidak sepelti Yula yang masih kecil." cebik Yura.


"Itu karena Ayah adalah suami Bunda, sayang. Jadi Bunda tadi sedang melakukan kewajiban bunda untuk menyiapkan Ayah makan dan juga keperluan Ayah yang lain nantinya." jelas Vara.


***


Vara menidurkan Yura dan Aidan di kamar Yura, karena Yura yang sudah terbiasa tidur bersama Aidan di rumah mereka, membuat Yura merengek memaksa Aidan untuk tidur di kamarnya dan langsung diangguki Aidan ketika melihat wajah Vara seperti memohon kepadanya untuk menyetujui keinginan Yura.


Setelah memastikan Aidan dan Yura tidur pulas, Vara beranjak mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur. Vara mengecup kening kedua buah hatinya sebelum ia keluar dari kamar Yura dan menutup pintu kamar pelan. Dilihatnya Rangga yang masih terjaga sedang menyandarkan tubuh di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Kenapa belum tidur, Mas? Bukannya besok mas udah masuk kerja?" tanya Vara mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.

__ADS_1


Rangga menoleh ke arah Vara, "Aku menunggu kamu kembali, sekalian ada pesan yang harus aku balas." jawab Rangga singkat dan beralih ke layar ponselnya kembali. Setelah makan siang, Mama Mita menasehati Rangga untuk mengganti panggilannya kepada Vara karena mereka sudah menikah.


Vara ingin mempertanyakan urusan apa yang sedang Rangga bahas, tapi ia mengurungkan niatnya ketika mengingat Rangga sangat tidak menyukai orang lain mencampuri urusan pribadinya dari cerita mama Mita tadi siang. "Mas, besok aku izin mulai bekerja di cafe lagi, apakah boleh, myas?" tanya Vara pelan.


"Agh, iya. Aku lupa membawa motorku ke sini." Vara menepuk kening merutuki kebodohannya. Bagaimana ia berangkat ke cafe besok pagi, jika motornya masih berada di rumah ibu.


"Siapa yang bilang jika kamu boleh memakai motor?" tanya Rangga datar.


"Maksudnya gimana, Mas? Jika aku tidak boleh memakai motor, bagaimana aku bisa berangkat ke cafe? Bukannya Mas sudah memperbolehkan aku untuk tetap bekerja tadi pagi, Mas?" Vara menatap Rangga bingung. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Rangga yang melarangnya membawa motor, sedangkan ia sudah terbiasa bepergian menggunakan motor setiap harinya.


Rangga mendesah melihat Vara yang terkenal kepintarannya di sekolah dulu setelah dirinya dan Fero, tidak mengerti maksud ucapannya, "Aku sudah menyiapkan supir untuk kamu bepergian kemana-mana. Pergilah bersama supir besok pagi ke cafe. Aku tidak mengizinkan kamu membawa anak-anakku menggunakan motor di jalan lagi."


"Kenapa, Mas? Aku sudah terbiasa membawa motor. Jadi kamu tenang saja, Mas." ucap Vara lembut.


"Apa kamu tidak takut membawa anak kita yang masih kecil menggunakan motor, huh? Bisa saja mereka mengantuk di jalan, tertidur dan terjatuh. Apa kamu mau anak-anak kita mengalami hal seperti itu?!" Rangga meninggikan suaranya. Rangga masih sangat mengingat kecelakaan yang terjadi di saat ia dalam perjalanan pulang dari luar kota.


Vara tersentak mendengar ucapan Rangga, ia selalu memperhatikan tingkah anak-anaknya di atas motor. Aidan dan Yura juga termasuk anak-anak yang tidak suka tertidur di atas motor. Terlebih Yura yang selalu bercerita apa saja yang dilihatnya selama dalam perjalanan di atas motor,membuat Aidan dan Vara harus menanggapi ucapan Yura, jika tidak, gadis kecil itu akan merajuk sesampainya mereka di rumah.


Vara menatap Rangga dalam, "Aku selalu memastikan keamanan anak-anak, Mas. Jadi kamu tenang saja." Vara langsung menunduk.

__ADS_1


Rangga yang mendengar ucapan Vara pun mulai menceritakan kejadian kecelakaan anak kecil yang terjatuh di jalan akibat mengantuk beberapa minggu lalu yang ia lihat sendiri, Vara yang mendengar pun akhirnya mengerti kecemasan Rangga yang beralasan.


__ADS_2