Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Tanpa sadar


__ADS_3

"Sebaiknya kamu pulang saja. Aku sungguh tidak apa-apa berada di sini sendiri." ucap Zia ketika sampai di pintu apartemen. Fero yang tetap pada pendiriannya untuk mengantarkan Zia sampai masuk ke dalam apartemen pun akhirnya membuat Zia hanya bisa menyetujuinya.


Fero yang mendengarkan ucapannya Zia seketika menatap tajam pada Zia yang tengah menundukkan pandangan. Zia yang merasa tengah ditatap pun akhirnya hanya bisa mendengus pasrah.


Mata Fero berkeliling memperhatikan tatanan apartemen Zia yang hampir memiliki kesamaan dengan apartemen miliknya. Fero menduga jika Zia memiliki selera yang sama dalam hal desain dengannya. Mata Fero tertuju kembali pada Zia yang tengah menguap dengan air mata yang keluar di sudut matanya. Sepertinya wanita itu tengah mengantuk, pikir Fero.


"Tidurlah, aku akan menjaga kamu di sini." menatap Zia yang tengah menatapnya mengisyaratkan raut wajah tanda penolakan. "Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu. Tenanglah!" tuturnya lembut.


Zia yang memang sudah sangat mengantuk akhirnya menyetujui saran dari Fero. Lagi pula ia tidak mungkin meminta Fero untuk pulang ketika melihat hujan deras dari balkon apartemennya. Seketika Zia meringis kesakitan ketika merasakan tendangan yang cukup kuat dari dalam perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Fero mendekat ke arah tempat duduk Zia.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Sepertinya dia menendang cukup kencang." ucap Zia mengelus perutnya yang membuncit.


Tanpa aba-aba Fero langsung menggendong tubuh Zia dan membawanya masuk ke dalam kamar. "Kamu mau apa?! Lepaskan aku, lepaskan!!" Zia meronta di dalam gendongan Fero.


"Diamlah! Atau kamu dan anak kita bisa terjatuh saat ini juga!" perintah Fero. Berjalan cepat ke dalam kamar yang sudah lama tidak ditinggali Zia.


Anak kita?


"Tidurlah, aku akan di sini menjagamu." ucapnya sembari mengelus perut Zia. Seketika Fero menarik kedua sudut bibirnya ketika mendapatkan pergerakan dari dalam perut Zia ketika tangannya baru saja menempel di perut Zia.


"Maaf sudah merepotkan. Jika kamu lelah, kamu bisa tidur di kamar tamu."

__ADS_1


"Tidak perlu memikirkanku. Tidurlah! Kamu ini terlalu banyak bicara!" seru Fero dengan nada memerintah tanpa bantahan. Kembali mengelus perut Zia yang sepertinya akan menjadi candu baginya.


Zia menganggukkan kepala sebagai jawaban. Memangnya apalagi yang bisa ia lakukan selain mengiyakan ucapan pria yang tidak mau mendengarkan penolakan seperti Fero?


Apakah kamu tidak tahu, dengan sikapmu yang seperti ini bisa membuat hatiku yang patah bisa menyatu kembali? Jangan buat aku salah paham mengira kamu sudah mulai mencintaiku dengan sifat manis yang selalu kamu berikan kepadaku, Fer. Zia hanya bisa membatin sebelum ia menutup kedua matanya secara perlahan.


Deruan napas teratur mulai terdengar ketika beberapa saat Fero mengelus perut Zia dengan lembut. Mengangkat wajahnya, Fero dapat melihat wajah Zia yang damai ketika tidur. Mengamati setiap inci yang ada di wajah Zia, Fero tersadar jika wanita yang ada di hadapannya saat ini sungguh cantik. Bahkan dalam tidurnya pun Zia terlihat semakin cantik tanpa baluran make up di wajahnya. Tanpa sadar Fero pun membenamkan ciuman cukup lama di kening Zia.


***


Jangan lupa like, komen dan votenya buat karya author ya.. Dukungan kalian sangat berarti untuk kinerja jari author😌

__ADS_1


__ADS_2