
"Jaga ucapan anda, Nona! Jika anda masih ingin menggunakan lidah anda dengan benar untuk berbicara, sebaiknya anda meralat ucapan anda baru saja!" ucap Zigo diiringi tatapan tajam dan... dingin ke arah Audi yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Vara.
Vara mengangkat wajah yang semula menunduk, mengalihkan pandangan ke arah Zigo. Ia tau, jika perdebatan ini tetap dilanjutkan, maka tidak akan baik, "Sudah lah, Mas, tidak usah ditanggapi. Ayo kita pulang saja, aku gak mau kita jadi membuat keributan di sini." tutur Vara, mencoba menenangkan amarah Zigo yang sudah naik kepermukaan.
"Wah, wah, wah. Siapa lagi ni cowok?! Apa kekayaan Rangga saja gak cukup buat lo?!" Audi masih tetap menjalankan aksinya untuk menjatuhkan Vara di hadapan teman-teman mereka, balik melirik tajam ke arah Zigo layaknya menantang untuk berperang.
"Penampilan berkelas bukan berarti mencerminkan etika yang berkelas," sindir Zigo.
Suasana mulai kondusif setelah Sila mengambil alih acara dengan menyuruh para tamu undangan untuk mencicipi makanan yang baru saja dibawa Vara.
Vara mengatupkan kedua tangannya ke arah Siska, ia sungguh tidak bermaksud mengacaukan acara yang sedang berlangsung saat itu. "Maaf sudah membuat keributan di acara kamu, Sis. Aku pamit pulang dulu, Sis. Ibu juga pasti sedang menungguku di cafe." jelas Vara.
"Kamu tidak salah, Ra." Siska melirik ke arah Audi dengan raut wajah masam. "Jangan dimasukin hati ucapan Audi barusan, Ra. Aku tau kamu bukan wanita yang seperti itu." Siska menarik Vara ke dalam pelukannya. Ia tau, jika saat ini Vara pasti sungguh malu diperlakukan seperti itu oleh Audi dan membutuhkan ketenangan.
Selama tiga tahun satu kelas bersama Vara, membuat Siska sangat mengenal sifat Vara yang lemah lembut dan selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Terlebih di kelasnya dulu, Vara lah yang paling sering membantu kesulitan teman-temannya jika tidak memahami pelajaran yang sudah diterangkan guru. Karena sifat baiknya, Vara pun sering mendapatkan hadiah dari beberapa teman sekelasnya sebagai ucapan terimakasih.
"Seharusnya lo sadar, jika lo tidak akan pernah pantas berada di samping Rangga!! Bahkan gue yakin, jika Rangga hanya terpaksa menikahi lo," Audi masih bersikeras menghantam benteng pertahanan Vara. Ia sungguh kesal melihat Vara yang selalu saja mendapatkan pertolongan di saat rencananya membuat Vara malu akan berhasil.
"Hellen, Kinar, kalian bawa deh Audi jauh dari sini!!" perintah Siska melihat ke arah Hellen dan Kinar yang sedang duduk tidak jauh dari mereka berdiri.
Yang disebut namanya pun mengangguk, mereka sungguh lelah menghadapi tingkah buruk Audi yang satu ini, selalu saja mencari masalah dengan Vara. Dari pada melerai dan akan berakibat buruk bagi perusahaan keluarga mereka, lebih baik mereka cukup diam dan melihat apa saja yang dilakukan Audi. Karena Audi selalu saja mengancam akan menyuruh papanya untuk menarik saham dari perusahaan orang tua mereka jika mereka tidak mendukung tindakannya.
"Ayo kita pulang, Bunda!" suara tegas dan keras milik Aidan pun membuat Vara langsung mengiyakan. Ia tau, jika saat ini Aidan sangat tidak suka melihat kondisi yang ada di hadapannya. Walau pun masih kecil, Aidan susah memiliki pemikiran layaknya orang dewasa yang sudah mengerti pembicaraan dan keadaan di sekitarnya.
__ADS_1
Vara berbalik setelah berpamitan kepada Siska dan Sila. Menarik tangan Aidan dan Yura pelan berjalan meninggalkan taman belakang rumah itu diikuti Zigo di belakangnya. Zigo menggeleng melihat Vara sama sekali tidak membantah tuduhan Audi kepadanya. Sungguh wanita tangguh pikirnya.
***
Vara menyandarkan tubuh lelahnya di kepala tempat tidur, perkataan Audi masih terngiang-ngiang di telinganya. Ia membenarkan, jika ia tidak pantas bersanding dengan Rangga, Rangga bagaikan langit yang tidak akan pernah bisa ia jangkau. Vara menghapus cepat air mata yang tiba-tiba saja sudah mengalir di pipinya.
Tujuan awal menikah dengan Rangga hanya untuk kebahagiaan dan masa depan kedua anaknya, bahkan ia tidak sempat memikirkan kebahagiaan yang sudah lama tidak ia rasakan di dalam dirinya sendiri selain kebahagiaan di anugerahi dua sosok malaikat kecil dan Ibu yang selalu menyayanginya.
Aku sadar tanpa perlu disadarkan, jika aku tidak akan pernah pantas untuk berdampingan dengan Rangga. Orang seperti Audi lah yang pantas mendampingi Rangga, mereka sama-sama mempunyai derajat yang sama, tidak sepertiku. Gumam Vara dalam hati.
Air mata terus membasahi kedua pipinya seakan sungai yang terus mengalir. Walau pun sudah cukup kebal berhadapan dengan Audi, tapi Vara tetaplah sosok yang sangat rapuh. Ia hanya bisa menyalurkan kesedihan dengan menangis seperti yang biasa dilakukannya di dalam kamar tanpa sepengetahuan ibunya dulu.
Deringan ponsel mengalihkan pandangan Vara yang sedang menatap langit-langit kamar seakan sedang merayu matanya untuk berhenti mengaliri air yang ada di dalamnya. Dilihatnya nama Mas Rangga tertera di sana, ia sampai lupa dengan kekhawatiran yang melanda sedari siang karena Rangga tak kunjung mengabarinya.
"Hallo, Mas."
"Hallo, Ra. Maaf aku lupa mengabari jika sudah sampai. Setibanya di sini, aku langsung beranjak menuju lokasi proyek untuk memantau langsung perkerjaan di sana." jelas Rangga di seberang sana.
Vara menyambar air putih yang berada di atas nakas dan meneguknya, berharap dengan air bewarna bening yang masuk ke dalam tenggorokannya bisa menormalkan kembali suaranya yang mulai terasa serak.
"Agh, iya. Tidak masalah, Mas. Aku mengerti pasti kamu sangat sibuk sehingga lupa mengabariku." jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan pun lolos begitu saja dari mulutnya.
"Lain kali aku akan usahakan untuk mengabari kamu terlebih dahulu. Apa anak-anak sudah tidur?"
__ADS_1
"Sudah, Mas. Mereka baru saja tidur."
"Apa hari ini kamu jalani dengan baik??" pertanyaan Rangga di seberang sana berhasil membuat Vara tersentak.
Apa Mas Rangga tau, jika hari ini aku bertemu Audi? Rasanya aku sudah mengingatkan Mas Zigo untuk tidak mengadukan kejadian tadi sore kepada Rangga. Mungkin hanya pertanyaan saja. "Semua berjalan baik-baik saja seperti biasanya, Mas." jawab Vara setenang mungkin.
"Bagus kalau begitu, aku harap kamu tidak sedang belajar menjadi pembohong yang baik. Aku matikan dulu telefonnya, masih ada beberapa email yang harus aku periksa."
"Baiklah, Mas. Selalu jaga kesehatan dan pola makan kamu selama berada di sana." perintah Vara yang ingat pembicaraan dengan Papa Bayu jika Rangga sering melewatkan jam makannya karena pekerjaan.
Setelah panggilan terputus, Vara langsung mengusap dadanya yang terasa sesak karena membohongi suaminya sendiri. Ia tidak ingin jika Rangga mengetahui kejadian yang sebenarnya dan mengganggu pekerjaannya di sana. Tanpa Vara ketahui, Zigo telah memberikan informasi apa saja yang sudah terjadi hari ini kepada Rangga. Dan Rangga hanya sedang menguji Vara untuk jujur dan menceritakannya sendiri tanpa adanya paksaan darinya.
.
.
.
Happy Reading😉
jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, rate bintang 5 dan votenya jika berkenan. Sambil menunggu Vara dan Rangga update, mari mampir ke karya baru aku yang berjudul :
— Menikahi Pria Kaku —
__ADS_1
Terimakasih ^_^