
Bangkit dari sofa, Rangga melangkahkan kakinya ke arah pintu. Memutuskan untuk pergi ke apartemen Danu menghilangkan rasa sakit yang mendera di kepalanya. Kamar masih terlihat berantakan, namun Rangga tak memperdulikannya. Menurutnya saat ini bertemu dengan teman-temannya bisa membuat kepala yang terasa berat bisa mencair sejenak.
"Kenapa wajah lo, Ngga? Tumbenan kusut gitu," ucap Danu menyerngitkan keningnya dalam ketika Rangga baru saja menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu apartemennya.
"Panggil Adit dan Alex ke sini! Gue butuh hiburan saat ini!" perintah Rangga tanpa bantahan.
Danu langsung saja menyambar ponselnya yang ada di atas meja. Mengirim pesan ke grup chat mereka untuk menyuruh Adit dan Alex datang ke apartemennya. Rangga dan teman-temannya memang memiliki unit apartemen di tempat yang sama, hanya berbeda lantai saja. Dan apartemen yang mereka miliki adalah hasil kerja keras mereka sedari SMA dulu.
Dari ketiga temannya, hanya Rangga saja yang tinggal bersama kedua orang tuanya atas paksaan sang Mama yang tidak mau melepaskan anaknya tinggal seorang diri. Terkadang jika pulang terlalu malam ke rumah, Rangga lebih memilih menginap di apartemennya saja dibandingkan harus menganggu waktu istirahat keluarganya atau para pelayan.
Adit dan Alex masuk bersamaan ke dalam apartemen Danu. Mendudukkan tubuh mereka di sofa yang masih kosong berseberangan dengan Rangga dan Danu, "Ada apa lo manggil kita ke sini?" tanya Alex menaikkan sebelah alisnya.
Melirik ke arah Rangga yang duduk di sampingnya, "Tanya aja sama ni anak! Dia yang nyuruh gue manggil kalian ke sini."
"Kenapa lo, Ngga? Ada masalah?" tanya Alex heran. Tidak biasanya Rangga yang terlebih dahulu mengajak mereka kumpul bersama seperti ini, pikirnya bingung.
Rangga yang sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa menegakkan tubuhnya. Memijit pelipisnya sebelum membuka mata, "Vara selingkuh," jawabnya singkat.
"Apa?!" kaget Adit, Alex dan Danu bersamaan.
"Jangan mengada-ada deh lo! Gak mungkin Vara selingkuh," lanjut Adit.
Rangga menatap Adit tajam yang membuat Adit bergidik karena tatapannya, "Buat apa gue bohongin kalian!" bantahnya.
Adit, Alex dan Danu saling pandang. Seolah mengisyaratkan salah satu di antara mereka bertanya kepada Rangga bagaimana awal mulanya Rangga berpikiran seperti itu.
__ADS_1
"Apa alasan lo berbicara seperti itu? Dan Vara selingkuh dengan siapa? Bukannya tuh anak gak pernah dekat dengan laki-laki mana pun selain lo," tanya Alex heran.
"Apa lo lupa jika Vara juga dekat dengan Fero!" timpal Danu. Merasa heran dengan pikiran temannya yang tiba-tiba saja bodoh itu.
"Jadi Vara berselingkuh dengan Fero maksud lo?" pekik Alex menduga-duga. Rangga langsung mengangguk mengiyakan yang membuat mereka terkejut tak percaya.
"Bagaimana bisa? Apa lo punya bukti yang kuat mengatakan jika mereka berselingkuh? Bisa saja lo hanya salah paham. Dari cerita Nadia, gue sedikit memahami Vara wanita yang seperti apa," Adit masih kekeh jika Vara tidak mungkin berselingkuh di belakang Rangga.
Rangga pun mulai menceritakan bagaimana awal mula ia bermasalah dengan Vara. Kemudian mendapatkan bukti yang kuat atas apa yang ada di pikirannya jika Vara dan Fero bermain api di belakangnya.
"Apa lo yakin jika apa yang lo lihat sesuai dengan kebenarannya?"
Rangga menangguk, "Bukti-bukti yang gue dapat terlihat sangat nyata."
"Jadi Vara dan kedua anak lo dimana sekarang?" lanjut Adit.
"Gue harap lo tidak akan menyesal dengan keputusan lo saat ini, Ngga!" ucap Adit. Ia sangat yakin jika Rangga hanya salah paham saja saat ini. Dibandingkan harus mencari ribut dengan Rangga yang sedang memanas, lebih baik diam saja dan mendengarkan keluh kesah Rangga.
Rangga tak menjawab. Pikirannya kembali melayang pada kejadian di saat ia melihat dengan matanya sendiri jika Fero dengan raut wajah khawatir menggendong Vara ke dalam mobilnya. Saat itu Rangga sama khawatirnya dengan Fero ketika melihat Vara yang tiba-tiba saja pingsan. Tetapi dengan cepat Rangga menepis rasa ibanya ketika melihat Fero di sana.
"Sudahlah, sebaiknya kita ke club kak Rey saja! Sepertinya lo butuh hiburan yang sesungguhnya. Lagian kita sudah cukup lama tidak ke sana lagi setelah lo menikah dengan Vara," saran Danu. Alex, Adit dan Rangga nampak berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian mereka menyetujui saran Danu.
***
Sudah lebih dari tiga jam Vara tertidur di kamarnya. Ibu dengan setia menemani Vara di sana. Takut-takut jika Vara terbangun dan membutuhkan bantuan darinya. Perlahan mata sayu nan sendu itu mulai terbuka. Memperhatikan lingkungan sekitar, masih tetap seperti saat ia sadar dari pingsannya.
__ADS_1
Ternyata aku masih di tempat yang sama. Aku pikir ketika aku mulai membuka mata yang aku lihat pertama kali adalah wajah Mas Rangga. Gumam Vara dalam hatinya. Air matanya kembali mengalir, rasa sakit tidak tertahan lagi di dalam dadanya. Matanya terasa panas diikuti isakan yang keluar dari dalam mulutnya.
"Kamu sudah bangun, Ra," Ibu Ana yang sedang tertidur di samping Vara tiba-tiba terbangun mendengar isakan yang keluar dari mulut putrinya.
Vara mengangguk, "Apa Vara mengganggu tidur Ibu?"
"Tidak, Ra." mengelus lembut rambut bergelombang putrinya, "Sudahlah, nak. Jangan menangis lagi! Ingatlah saat ini kamu sedang mengandung. Tidak baik untuk kondisi kandungan kamu jika kamu terus seperti ini.
Isakan yang lolos dari mulut Vara perlahan mulai menghilang. Mengelus lembut perutnya yang masih rata, "Maafkan Bunda ya nak. Bunda tidak bisa menghentikan air mata yang masih saja mengalir ini."
Mengalihkan pandangan ke arah Ibu yang sedang menatapnya iba, "Sudahlah Bu. Vara sungguh tidak apa-apa. Vara akan mencoba menerima setiap ujian yang datang kepada Vara. Demi Aidan, Yura dan anak yang ada di dalam kandungan Vara."
"Setelah ini kamu harus berangkat bersama Fero menuju apartemen miliknya. Untuk sementara waktu kamu lebih baik tinggal di apartemen Fero. Demi kebaikan kamu, Ra. Bisa saja Audi atau Rangga akan datang dan berakibat buruk kepada kamu dan anak-anak kamu," jelas Ibu. Bangkit dari tempat tidur dan menuju ke arah lemari Vara, "Ibu akan membereskan pakaian kamu, Aidan dan Yura. Sepertinya kamu tidak membawa apa-apa keluar dari rumah Rangga.
Vara hanya diam. Membiarkan ibunya mulai memasukkan baju-bajunya yang masih tersisa di dalam lemari.
Setelah beberapa menit akhirnya baju-baju Vara pun siap, "Ibu ke kamar anak-anak kamu dulu," lanjut Ibu. Vara hanya mengangguk mengiyakan. Setelah Ibu Ana pergi dari dalam kamarnya, Vara mulai menatap nanar langit-langit kamarnya.
Apa takdirku memang seperti ini? Tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang suami ketika sedang mengandung. Apa aku harus sendiri lagi merawat anak yang ada di dalam kandunganku ini, Mas?
.
.
.
__ADS_1
*Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉