
"Fe-fero," lirih Zia. Dirinya tertegun, sedang apa pria itu berada di tempat yang sama dengannya?
Mata elang itu menatapnya begitu tajam. Perlahan mata itu turun yang membuat pria itu tertegun. Zia menyadari keterkejutan Fero pun segera menutup perutnya dengan kedua tangannya. Jangan sampai Fero mengetahui dirinya sedang mengandung saat ini. Walau usahanya sia-sia karena Fero sudah melihat dengan jelas perut buncit itu.
Tidak ingin mengulur waktu, Zia segera keluar dari ruangan dengan langkah kaki lebar. Ia tidak ingin lagi menampakkan wajahnya di depan pria itu, pria yang telah menggores luka di hatinya. Air mata mengalir deras di kedua pipinya. Keberuntungan berpihak kepadanya kali ini, ketika sampai di depan lift bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.
Di dalam lift Zia menangis terisak. Fero, kenapa dia harus terlihat lagi di penglihatannya setelah dengan teganya pria itu menyuruhnya pergi setelah menodai dirinya. Memukul dadanya yang terasa sesak, untung saja hanya dirinya sendiri yang berada di dalam lift sehingga ia bisa dengan bebas mengeluarkan air mata. Sampainya di lobby, berapa karyawan nampak menatap iba dan heran pada wanita hamil yang sedang menangis di depan mereka. Zia tak menghiraukannya. Ia hanya ingin cepat keluar dari perusahaan.
Langkah kaki itu semakin cepat, matanya melirik ke arah kiri dan kanan untuk melihat taksi yang tidak memiliki penumpang di dalamnya. Setelah mendapatkan taksi, Zia memutuskan untuk kembali ke kontrakan. Mengelus perutnya, Zia tersadar jika ia sudah melupakan keberadaan anaknya.
"Maafkan Mama yang sudah membawa kamu dengan tergesa-gesa. Kamu tidak boleh bertemu dengan Papa saat ini, Papa tidak ingin melihat Mama lagi. Maaf Mama tidak bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk kamu," ucapnya terisak.
__ADS_1
***
Fero tersadar dari rasa keterkejutannya setelah asisten pribadinya menepuk pundaknya. Ia bahkan tidak menyadari jika Zia sudah keluar dari dalam ruangan staffnya, "Batalkan rapat hari ini! Ada urusan penting yang harus saya urus!" perintah Fero. Melirik ke arah Gita yang sedang menatap heran kepadanya, "Kamu ikut ke ruangan saya!" perintahnya lagi.
Gita mengangguk, ia bahkan menggeruk tengkuknya yang tidak gatal melihat sikap aneh bosnya. Tidak biasanya bosnya itu mau membatalkan rapat begitu saja. Sikap disiplin dan tegasnya yang membuat Gita bergidik ketika melupakan berkas yang akan ia bahas ketika rapat pun hilang begitu saja.
"Siapa wanita tadi?" tanya Fero tanpa basa-basi. Walau ia sangat mengenal Zia, tetapi Fero ingin memastikan sesuatu yang menganjal di hatinya.
"Anak siapa yang ada di dalam kandungannya?"
"Hah?" kening Gita berkerut dalam. Sejak kapan bosnya itu mau mengurusi kehidupan orang lain?
__ADS_1
"Apa kamu sudah tidak bisa menggunakan telinga kamu dengan benar!"
Gita membisu, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Ia bahkan sudah berjanji kepada Zia tidak akan memberitahukan kepada siapa pun ayah dari anaknya.
"Katakan!" ucap Fero keras ketika tak kunjung mendapatkan jawaban dari Gita.
Bagaimana ini? Gita membatin. Menggigit bibir bawahnya ketika lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Fero.
"Apa kamu sudah bosan bekerja di sini, hu?" tanyanya lagi.
***
__ADS_1
Aku khususin buat ceritain perjalanan cinta Mas Fero dulu di beberapa chapt. Happy reading! :)