
Zia menatap apartemen mewah dengan susunan barang yang tertata rapi di hadapannya. Aroma maskulin menyerbak menusuk indera penciumannya. Penolakannya tidak dihiraukan Fero. Pria itu justru membawa dirinya ke apartemen miliknya tanpa meminta persetujuan Zia terlebih dahulu. Menurut Fero apartemennya adalah tempat yang lebih dekat ia jangkau dengan kondisi Zia yang sudah basah kuyub.
"Pakailah baju ini untuk sementara. Zayn akan datang membawakan pakaian ganti untuk kamu," menyerahkan bajunya yang sedikit kebesaran kepada Zia. Setelah membuat kekacauan di kamarnya untuk mencari pakaian untuk Zia, akhirnya kaos polos bewarna hitam menjadi pilihannya, "Cepatlah ganti bajumu, tunggu apa lagi?" tanyanya ketika melihat Zia yang hanya diam saja.
Zia mengangguk. Mengambil baju yang dari tangan Fero, "Kamu bisa mengganti baju di dalam kamarku."
Kembali Zia mengangguk. Ia sedang tidak ingin berdebat lagi dengan Fero saat ini. Badannya sudah kedinginan. Segera ia langkahkan kakinya ke arah kamar Fero. Ia hanya ingin segera pergi dari apartemen Fero saat ini. Mengingat jika Vara pernah tinggal di apartemen Fero membuat hatinya kembali sakit. Walaupun Zia tahu, jika tidak ada harapan apa-apa dari Vara untuk Fero.
Fero menatap lama pintu kamarnya yang tak kunjung terbuka. Sedang apa wanita itu di dalam kamarnya. Jika hanya mengganti pakaian, rasanya tidak mungkin selama itu. Tiba-tiba pikiran buruk melintas di pikirannya. Melihat Zia yang kedinginan tadi, bisa saja wanita itu pingsan di dalam kamarnya.
__ADS_1
Segera Fero membuka pintu kamarnya. Tubuhnya mematung di depan pintu melihat pemandangan di depannya. Zia nampak begitu seksi dengan baju yang kebesaran di tubuhnya. Tidak beda dengan Fero, Zia menyilangkan kedua tangannya di dada melihat Fero yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar.
"Kenapa lama sekali?" tanya Fero mencoba menetralkan rasa gugupnya.
"Bagaimana dengan pakaian dalamku? Pakaianku basah semua," keluhnya.
"Zayn masih dalam perjalan. Tunggulah sebentar. Kamu bisa menyelimuti tubuhmu dengan selimut jika kedinginan."
Perlahan Fero berjalan ke arah Zia dengan mata yang saling menatap. Spontan Zia bergerak mundur. Ia sungguh takut melihat tatapan pria itu. Tatapan yang membuatnya gagal untuk berhenti mencintainya. Tatapan yang dengan mudahnya membuat luka yang menganga menutup kembali.
__ADS_1
"Kamu mau apa!"
"Memelukmu."
"Hah?" Zia terperangah. Apa maksud pria ini? Dirinya sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Tubuhnya sudah bersandar pada dinding kamar saat ini.
Jarak di antara mereka mulai terkikis. Kembali Fero menatap manik wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Zia semakin gugup saja. Tatapan itu seperti menghunus tepat di jantungnya.
Bisakah untuk menatap yang biasa saja. Tidak tahukah kamu, ada jantung yang bekerja tidak seperti biasanya saat ini? Batin Zia. Berharap pria itu segera menuntaskan tatapannya. Bertemu tatap dengan Fero seperti ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
__ADS_1
Seketika tubuh Zia menegang ketika tangan kekar itu sudah berhasil merengkuh pinggangnya sehingga menciptakan tidak adanya celah di antara mereka.
"Le-lepaskan aku!" lirihnya di dalam dekapan Fero.