Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Takdir


__ADS_3

Zia mencengkram erat baju yang dikenakannya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Lidahnya terasa kelu ketika hendak mempertanyakan kembali ucapan Fero di rumah Rangga.


Melihat Zia yang terlihat gelisah, Fero pun memutuskan menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Kamu kenapa? Apa ada masalah? Aku lihat dari tadi kamu seperti sedang memikirkan sesuatu."


"Agh, tidak. E-emh, begini. Apa benar yang kamu katakan tadi jika kita akan menikah satu minggu lagi?" tanyanya ragu.


"Yang kamu dengarkan itu benar. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya jika kita akan menikah secepatnya?"


"Ya. Tapi aku tidak menyangka akan secepat itu," lirih Zia.


"Lebih cepat lebih baik. Nanti aku akan mengatakan kepada Om dan Tante tentang rencana pernikahan kita. Aku harap kamu mendukung keputusanku kali ini, Zia."

__ADS_1


Zia mengangguk lemah. Ia harap keputusan untuk menikah dengan Fero adalah keputusan yang tepat. Entah nanti ia akan berhasil untuk mendapatkan hati lelaki itu atau tidak, Zia tak menghiraukannya saat ini. Yang terpenting saat ini adalah anaknya. Anaknya tidak lahir tanpa seorang ayah. Anaknya bisa mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Untuk hatinya yang terluka, cukuplah menjadi sakitnya sendiri.


***


Mobil memasuki perkarangan rumah orang tua Zia. Dengan langkah pasti Fero menuntun Zia memasuki rumahnya. Kedatangan Fero dan Zia ternyata sudah disambut oleh kedua orang tua Zia, bahkan kedua orang tua Fero. Fero sudah bisa menebak hal itu akan terjadi. Orang tuanya juga pasti sudah tahu niatnya yang ingin menikahi Zia satu minggu lagi.


"Duduk dulu nak, Fero. Zia duduklah di samping Mama." ucap Hera memecahkan keheningan diantara mereka.


Ardi berdehem untuk memulai percakapan diantara mereka. Helaan nafas berat terasa sulit ia lakukan sebelum membuka suara. "Jadi kamu berniat menikahi Zia satu minggu lagi, Fero?"


"Benar, Om." Fero mengatakan dengan tegas. Bahkan tidak nampak sedikitpun keraguan dari sorot matanya. Berbeda dengan Zia yang nampak gugup melihat tatapan tajam Papanya yang dihunuskan ke arah Fero.

__ADS_1


"Apa kamu menyetujuinya, Zia?" pertanyaan papa Ardi ke arah anak sematawayangnya yang sudah terbanjiri keringat di pelipisnya.


"Zia menyetujuinya, Pa."


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan kalian. Kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Untuk kamu Fero, Om percayakan anak Om kepada kamu. Om harap kamu tidak akan pernah melukai hatinya. Jika kamu tidak bisa menerima Zia di hidup kamu setelah lama kalian menikah nantinya, kembalikan saja Zia kepada Om tanpa perlu kamu menyakitinya agar Zia beranjak pergi dari hidup kamu. Om akan dengan senang hati menerima Zia kembali ke rumah ini!" perkataaan yang berhasil menyesakkan dada Zia ketika mendengarkan ucapan Papanya. Air mata yang semula ia tahan pun akhirnya berhasil membanjiri pipi putihnya.


"Saya memang tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untuk Zia. Tetapi saya akan terus berusaha untuk membahagiakannya dan memberikan segenap hati saya untuk belajar menerima dan mencintai Zia di dalam hidup saya. Dan maaf, maaf untuk cara yang tidak mengenakkan atas terlaksana pernikahan kami. Mungkin pernikahan kami terjadi atas adanya kesalahan. Tetapi takdir tidak pernah salah untuk menemui tempatnya."


***


Happy reading!

__ADS_1


__ADS_2