Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Obat pahit


__ADS_3

"Memangnya apa yang harus aku persiapkan nanti malam, Mas?" Mengangkat wajahnya yang bersemu merah, walau pun mengerti maksud ucapan Rangga, tapi Vara mencoba memastikan kembali jika pemikirannya tentang syarat dari Rangga sesuai dengan pemikirannya.


"Pakailah pakaian yang pernah diberikan Mama dan Lala yang kamu simpan di lemari," bisik Rangga di telinga Vara.


Tubuh Vara terasa kaku sangat sulit untuk digerakkan. Vara tahu pakaian yang dimaksud Rangga. Tapi yang benar saja memakai pakaian seperti itu, rasanya Vara sungguh malu. Jangan kan memakainya, melihatnya saja Vara sudah bergidik ngeri.


"Bagaimana?" tanya Rangga lagi karena tidak mendapatkan respon dari Vara yang hanya diam mematung.


Vara mengangguk, "Iya, Mas. Apa kamu sudah memaafkan aku, Mas?" Vara masih takut saja jika Rangga masih marah kepadanya.


"Tidak."


"Terimakasih, Mas. Aku tidak akan mengulangi hal seperti tadi lagi. Baiklah, aku ke kamar anak-anak dulu. Kasihan Yura pasti masih kesakitan kakinya," lirihnya.


Menjarakkan tubuhnya dari Rangga, niat Vara yang sudah berbalik dan melangkah meninggalkan kamar harus terhenti karena ucapan yang keluar dari mulut Rangga.


"Mau kemana? Bukannya aku baru saja menyebutkan satu syarat?" tatapan dingin dan tajam mulai Rangga hunuskan kepada Vara yang baru saja berbalik ke arahnya.


"Agh, iya aku lupa," Vara menepuk keningnya, berjalan kembali ke arah Rangga. Merasa tidak baik jika berbicara dari jarak jauh kepada suaminya, "Apa syarat satunya lagi, Mas?" tanyanya ragu. Merasa jika syarat yang kedua yang akan diucapkan Rangga tidak ada bedanya dengan syarat pertama yang akan mengganggu kerja jantungnya.


Rangga menarik cepat pinggang ramping Vara mendekat kepadanya, hembusan nafas hangat terasa menghangati wajahnya, "Sebelum kamu melakukan syarat pertama, yang harus kamu lakukan adalah syarat yang ke dua!" tegas Rangga mengangkat dagu Vara.


"Apa itu, Mas. Katakan saja! Aku akan menerima syarat itu."


Rangga menunjuk bibirnya, "Cium aku sekarang juga!" ucapanya yang membuat kedua mata Vara membulat sempurna.

__ADS_1


"A-apa? A-apa tidak ada syarat yang lain, Mas?" bagaimana mungkin Rangga memintanya untuk mencium dirinya. Rasanya Vara tidak sanggup harus melakukannya. Walau pun sudah pernah merasakan sensasi dari ciuman bersama Rangga lima tahun lalu, tetapi tetap saja. Bagaimana pun juga waktu itu ia dalam keadaan terpaksa dan Rangga melakukannya dalam kondisi tidak sadar, "Baiklah, baiklah, aku akan mencium kamu, Mas," ucap Vara cepat ketika tatapan dingin dan tajam itu mulai menusuk jantungnya.


"Jika mau, tunggu apa lagi!"


"Tutup mata kamu, Mas!" perintah Vara yang sungguh malu untuk melakukannya.


Rangga menurut, ia mulai menutup kedua kelopak matanya ketika melihat mata bulat Vara mengerjap memintanya untuk cepat menutup mata.


Perlahan tapi pasti, Vara mulai mendekatkan wajahnya ke arah Rangga. Ia berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Rangga. Vara menutup kedua matanya ketika bibir Rangga sudah mulai ia dekati dengan bibirnya. Vara mulai mengecup singkat bibir Rangga yang membuat tubuhnya meremang.


Rangga tidak tinggal diam, secepat kilat ia sudah menarik pinggang Vara dan menahan tengkuknya. Rangga mulai mengambil alih permainan, membenamkan ciuman di bibir bervolume itu. Vara mencengkram erat kaos yang digunakan Rangga. Nafasnya terasa memburu ketika Rangga tidak membiarkannya untuk melepaskan pangutan darinya.


Vara hanya diam saja dan tidak membalas kegiatan Rangga. Ia sungguh minim ilmu dalam hal seperti itu. Nafasnya yang mulai terasa sesak membuatnya memukul dada Rangga untuk mengakhiri kegiatannya.


Pukulan dari Vara terasa tidak berarti bagi tubuhnya. Melepas sebentar pangutan bibirnya supaya Vara dapat mengambil oksigen, kemudian Rangga langsung membenamkan kembali ciuman yang cukup dalam sembari menggiring Vara ke atas tempat tidur.


Vara yang mulai terhanyut dalam permainan Rangga mulai kehilangan akal sehatnya, sampai ketukan pintu dari luar membuat Vara dengan cepat mendorong kasar tubuh Rangga yang sedang menindihnya. Bangkit dari atas tempat tidur, Vara berjalan cepat ke arah pintu ketika mendengar suara Aidan memanggilnya tanpa memperdulikan Rangga yang sedang mengumpat karena perbuatannya.


"Yura nangis Bunda, katanya kakinya sakit. Bunda kenapa lama sekali membuka pintunya," Aidan mendengus.


"Ayo kita ke kamar adik kamu!" ajak Vara menarik lembut tangan Aidan tanpa menjawab pertanyaannya.


Sesampainya di kamar bernuansa pink, Vara melihat anaknya sedang menangis terisak memeluk boneka kelinci kesayangannya, "Ada apa, sayang? Kenapa menangis?" Vara mengelus lembut rambut putrinya.


"Atit, Bunda... Hua... Kenapa kaki atit sekali... Hiks... Yula mau kaki balu saja Bunda... Hiks... Huuu..." Yura menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Tahan ya, sayang... Yura tapi anak Bunda yang pintar... Jadi harus bersabar dan tidak boleh menangis... Sebentar lagi kakinya bakalan sembuh, sayang..." bujuk Vara.


"Mau kaki balu saja Bunda.... Huuaa..."


"Kaki kamu tidak bisa diganti sayang... Cuma bisa disembuhkan saja..." Vara berusaha supaya tangis Yura berhenti dan mengerti. Hatinya teriris melihat anaknya menangis seperti itu. Vara tau jika Yura paling tidak bisa menahan sakit, yang hanya bisa dilakukan gadis kecil itu hanya menangis jika ia merasa kesakitan.


"Sekarang Yura makan ya... Setelah itu minum obat supaya kakinya cepat sembuh..." bujuk Vara lagi.


"Nda mahu... Obat paid... Yula nda suka..."


Tangis Yura semakin menjadi-jadi, Vara bingung harus membujuknya bagaimana lagi supaya gadis kecilnya itu mau makan dan meminum obatnya.


"Anak Ayah kenapa menangis?" tanya Rangga yang baru masuk ke dalam kamar Yura. Vara menghela nafas lega, setidaknya ada Rangga yang akan membantunya untuk membujuk Yura.


"Gak mau makan dan minum obat, Mas," bisik Vara. Walau pun masih merasa canggung mengingat kejadian di dalam kamar, tapi saat ini Vara benar-benar membutuhkan bantuan Rangga untuk membantunya.


Rangga mengangguk mengerti, ia melakukan hal yang sama seperti yang Vara lakukan. Mengelus lembut rambut Yura, "Anak Ayah harus makan dan minum obat, jika mau makan dan minum obat, Ayah akan membelikan Yura teman Didi kelinci. Yura mau?" tawar Rangga mengingat Yura sering merengek meminta dibelikan kelinci karena Vara yang belum sempat untuk membelikannya.


"Mahu, Yula mahu teman Didi kelinci. Yula mau teman Didi yang banak ya Ayah..." ucap Yura sembari menghapus air matanya dengan punggung tangan.


"Iya... Ayah akan membelikan yang banyak, tapi Yura harus makan dulu dan minum obat supaya cepat sembuh."


"Kaki atit, gimana Yula bisa makan?" rengeknya manja.


"Ayah yang gendong, ayo!" ajak Rangga, dengan cepat menggendong Yura dan membawanya keluar dari kamar. Aidan mengikuti langkah kaki ayahnya. Sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar, Rangga melirik ke arah Vara sejenak.

__ADS_1


"Urusan kita belum selesai!" ucap Rangga yang membuat Vara tersentak memikirkan hal apa lagi yang akan terjadi di antara mereka.


__ADS_2