
Rangga mendengus ketika melihat ke arah pintu yang memang belum ia kunci ketika masuk ke dalam kamar istrinya. Segera Rangga turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah pintu dengan tubuh polosnya yang membuat wajah Vara seketika memerah melihatnya.
Tatapan penuh gairah kembali terlihat dari raut wajah Rangga ketika merangkak naik ke atas tempat tidur, "Ayo kita lanjutkan, aku sudah tidak bisa menahannya lagi."
Vara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Rangga yang mendapatkan lampu hijau dengan sigap mulai malancarkan aksinya untuk mengunjungi anaknya yang sedang merindukan dirinya 'katanya.
***
Fero mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dengan emosi yang meluap-luap. Suara desahan Vara ketika melakukan aktivitasnya dengan Rangga masih terngiang di telinganya. Niatnya yang ingin menyuruh Rangga untuk keluar dari apartemennya harus ia urungkan ketika mendengar suara kenikmatan yang lolos dari bibir Vara di tengah aktivitas mereka dari celah pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Kenapa semudah itu kamu memaafkan Rangga, Ra?! Apa memang tidak ada kesempatan untuk aku mengisi hati kamu, apa kurangnya aku di mata kamu?! Segala cara sudah aku coba untuk memenangkan hati kamu, tetapi kenapa hanya Rangga yang selalu kamu menangkan tanpa ada perjuangan apa-apa dari dia!! Arghhh!!"
Fero berteriak memaki nasibnya yang buruk. Pikirannya benar-benar kalut. Segera Fero memutar kemudinya ke arah club malam yang biasa ia kunjungi. Di dalam club Fero tak hentinya meracau menyebut nama Vara dengan terus meminum wine yang entah sudah berapa gelas dihabiskannya.
Tidak jauh dari Fero berada, seseorang nampak memperhatikannya dengan tatapan sendunya. Air mata wanita itu tiba-tiba menetes melihat pria yang dicintainya begitu hancur oleh wanita yang sangat pria itu cintai.
Tanpa rasa ragu Zia berjalan ke arah Fero ketika melihat Fero yang sudah lepas kendali memaki bahkan menghajar orang-orang yang berada didekatnya, "Maaf, Pak. Pria ini teman saya, saya akan membawanya keluar dari sini," ucap Zia. Petugas keamanan pun mengangguk membiarkan Zia yang mulai memapah Fero untuk keluar dari dalam club.
Zia segera melajukan mobilnya ke arah hotel yang hanya berjarak 2 Km dari club. Sesampainya di hotel, Zia meminta bantuan pegawai hotel untuk memapah Fero masuk ke dalam kamar yang sudah ia pesan, "Ada yang bisa saya bantu lagi, Nona?" tanya pegawai hotel ketika sudah membaringkan tubuh Fero di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Saya rasa tidak, terimakasih atas bantuannya," ucap Zia sembari memberikan tip kepada pegawai hotel tersebut.
Pegawai itu mengangguk, segera melangkahkan kakinya ke arah pintu meninggalkan Fero dan Zia di dalam kamar.
Zia menatap lama wajah pria yang sudah lama ia cintai. Melihat Fero seperti tidak nyaman dalam posisi tidurnya, Zia segera membuka sepatu yang dikenakan Fero, "Apa aku harus membantu Fero untuk membuka kancing bajunya? Sepertinya dia sungguh tidak nyaman. Sebaiknya aku buka saja!" gumam Zia.
Perlahan Zia mulai membuka satu persatu kancing baju Fero, seketika dirinya tersentak ketika merasa tangannya dipegang erat oleh tangan Fero. Dilihatnya manik tajam Fero menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
__ADS_1
.
.