
Sudah hampir satu bulan Vara dan kedua anaknya tinggal di apartemen Fero. Tiap hari Fero selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Vara ke apartemen miliknya itu. Perhatian Fero kepada Vara, Aidan dan Yura tak ubahnya seperti perhatian kepada anak dan istrinya. Vara merasa tidak enak dengan kepedulian Fero kepadanya. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Fero sebisa mungkin menyempatkan diri mampir terlebih dahulu ke apartemen, ia tahu jika Vara setiap pagi muntah-muntah. Dengan senantiasa Fero yang selalu memijit tengkuk Vara ketika gejala itu datang.
Vara sedang termenung menatap gedung-gedung tinggi. Ia teringat akan suaminya, tiba-tiba saja air mata jatuh membasahi pipi putihnya. Vara menghela nafasnya yang terasa sulit. Segala pikiran buruk mulai merasuki pikirannya, apakah suaminya itu tidak lagi menganggapnya ada dan mempercayai tuduhan tentang perselingkuhan yang sebenarnya tidak pernah terjadi itu? Vara hanya bisa menangisi hidupnya yang selalu terasa rumit.
Mengelus perutnya yang sudah mulai sedikit membuncit. Dibandingkan kehamilan pertamanya dulu, kehamilan kedua ini terasa lebih berat dialaminya. Gejala morning sickness yang tiap pagi dirasakannya membuat tubuh Vara terasa lemas. Bahkan Fero yang tidak tega melihat kondisi Vara melarang berat Vara untuk memasak atau pun melakukan pekerjaan apapun di apartemen.
Vara teringat waktu mengandung Aidan dan Yura. Gejala morning sickness juga dialaminya, tetapi tidak sesering sekarang. Tiap pagi dan tengah malam Vara sering mengeluarkan gejolak yang ada di dalam tubuhnya. Untung saja ketika malam hari tidak separah di waktu pagi hari. Rasa rindunya kepada Rangga semakin bertambah setiap harinya, apakah anak yang ada di dalam perutnya kini sedang merindukan ayahnya? Terkadang Vara sangat ingin memeluk Rangga ketika malam tiba, ia hanya bisa menahan rasa inginnya seorang diri. Memeluk foto Rangga yang ada di galery ponselnya adalah jalan satu-satunya untuk ia bisa melepaskan rindu kepada suaminya itu.
Apakah kamu saat ini merasakan rindu yang sedang bersarang di hatiku, Mas? Apakah tidak ada rasa percaya itu untukku sedikit saja? Kenapa begitu mudahnya kamu menuduhku melakukan hal keji seperti itu. Sudah hampir sebulan kita berpisah, apakah kamu tidak merindukanku seperti aku yang selalu merindukan kamu setiap harinya. Apakah benar perkataan Audi, jika kamu akan menikah dengannya? Apakah aku akan baik-baik saja setelah kenyataan pahit itu mulai hadir, Mas?
Air mata itu kembali menetes. Bahunya naik turun, Vara terisak. Bayangan pikiran buruknya itu benar-benar terjadi memenuhi pemikirannya. Faktor kehamilan membuat Vara lebih mudah menangis akhir-akhir ini. Menyeka air matanya cepat, sebentar lagi Aidan dan Yura akan bangun dari tidur siangnya. Ia tidak ingin kedua anaknya melihat matanya yang sembab karena menangis.
Vara bangkit, melangkahkan kakinya menuju kamar Aidan dan Yura. Dilihatnya Yura mulai mengerjap dari tidurnya. Aidan tidak lagi berada di dalam kamarnya. Sepertinya anak itu sedang berada di dapur, sudah menjadi kebiasaannya minum setelah bangun tidur. Vara ingat jika ia lupa meletakkan air minum di atas nakas seperti biasanya.
"Sudah bangun?" tanya Vara. Yura mengangguk, turun dari tempat tidur menuju ke arah Vara.
"Kakak mana Bunda?" tanyanya ketika menyadari Aidan tidak berada di kamarnya.
"Sepertinya Kakak di dapur," jawab Vara. Merapikan rambut Yura yang sedikit berantakan.
__ADS_1
Yura mengangguk, mengucek kedua matanya yang belum terbuka sempurna. Aidan masuk kembali ke dalam kamarnya dengan membawa segelas minuman di tangan kanannya, "Minumlah," menyerahkan gelas yang ia pegang kepada Yura.
"Telimakasih Kakak. Tumben Kakak baik," goda Yura. Mencari masalah dengan Aidan sudah menjadi hobi bagi Yura.
Aidan mencebik, ia sudah biasa mendengarkan ledekan Yura kepadanya. Mengalihkan pandangan ke arah Bundanya yang sedang tersenyum melihat tingkah mereka, "Kenapa Bunda sering pucat akhir-akhir ini?" tanya Aidan.
"Bunda tidak apa-apa," jawab Vara tersenyum. Sudah hampir satu minggu Vara tidak berselera untuk makan. Setiap pagi harus mengeluarkan semua isi perutnya membuat Vara lemas.
"Apa Adik nackal, Bunda?" tanya Yura. Mendekatkan kepalanya ke arah perut, "Adik bayi nda boyeh nackal... Bunda kacian muntah-munta telus... Ayah nda ada... Kacian Bunda," bisik Yura di perut Vara. Vara tertegun, matanya mulai berkaca-kaca. Yura sering menanyakan tentang Rangga yang tak kunjung menjemput mereka. Vara hanya beralasan jika ayah mereka sedang sibuk bekerja di luar kota dan belum sempat menjemput mereka.
Yura mengadahkan kepala, menatap Vara yang juga sedang menatapnya. Gadis kecil itu nampak berpikir, "Ayah sudah nda sayang kita lagi yah Bunda? Kenapa Ayah nda jemput juga... Daddy Felo seling kemali, kenapa Ayah nda??" tanya Yura. Ia sudah sangat merindukan Ayahnya itu, "Apa Ayah nda tahu jalan ke sini?" tanyanya lagi.
"Sabarlah! Ayah akan menjemput kita. Hanya saja Ayah sedang sibuk bekerja seperti kata Bunda kemarin," timpal Aidan. Vara menghela nafas lega. Ia sangat beruntung dengan Aidan yang mengerti jika ia tidak mampu menjawab pertanyaan Yura.
"Siapa yang jahat?" ucap Fero tiba-tiba yang mengejutkan Vara.
"Sejak kapan kamu sampai, Fer?"
"Baru saja, kamu masih pucat saja, Ra. Apa kamu sudah makan?" khawatir Fero. Ia sudah mendapatkan laporan dari pelayan di apartemennya tentang Vara yang tidak mau makan. Bahkan Fero juga memasang CCTV di beberapa ruangan untuk memantau kegiatan Vara.
__ADS_1
Vara menggeleng, ia tidak mau membohongi Fero lagi. Pria itu sudah sangat baik kepadanya, "Aku tidak berselera," jawab Vara menunduk. Fero menghela nafas, walau pun sudah tahu jawabannya tetap saja ia merasa kecewa mendengar jawaban Vara.
"Apa kamu tidak memikirkan anak yang ada di dalam kandungan kamu? Makanlah walau sedikit saja! Kamu juga sepertinya habis menangis," memperhatikan wajah Vara yang sembab. Ia sudah melihat dari rekaman CCTV Vara yang sedang menangis di balkon kamarnya. Fero tahu, jika alasan Vara menangis adalah Rangga, suaminya.
"Maaf, aku sungguh tidak mau makan. Perutku rasanya tidak mau menerima makanan yang masuk ke dalam mulutku, Fer," jelas Vara.
"Tetap saja kamu harus makan, Ra! Apa kamu ingin makan sesuatu yang mungkin diterima oleh perutmu?" tanya Fero selembut mungkin. Ia sudah melihat mata Vara yang sudah tergenang karena merasa bersalah.
"Aku ingin makan sup iga yang pernah kamu belikan minggu kemarin. Apakah boleh?" tanya Vara ragu-ragu.
"Tentu saja! Aku akan membelikannya untuk kamu, hem... Apa kamu sedang ngidam, Ra?"
"Aku tidak tahu, keinginan seperti itu bisa dikatakan ngidam?" tanya Vara dengan polosnya yang membuat Fero gemas ingin mencubit pipi Vara yang mulai berisi.
.
.
.
__ADS_1
*Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉