
"Berikan Fero kesempatan untuk menebus kesalahannya, Zi. Pikirkan anak kamu. Anak kamu membutuhkan orangtua yang lengkap. Sekeras apapun kamu menolak, tetapi seorang anak tetap membutuhkan sosok ayah untuk menjadi pelindungnya."
Zia kembali menangis terisak. Ia tahu maksud ucapan Vara, hanya saja hatinya masih menolak untuk menjadi benalu di kehidupan Fero. Vara membawa kembali Zia ke dalam pelukannya, "Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Aku juga pernah berada di posisi kamu. Hanya saja, sebelum anak kamu lahir, kalian masih bisa memperbaiki hubungan yang sedikit rumit ini. Kamu boleh egois, tetapi ada sosok yang wajib kamu prioritaskan."
"Aku harus apa, Ra? Dia hanya mencintaimu. Perjodohan kami sudah membuat hidupnya kacau. Aku tahu dia tidak akan pernah menggantikan sosok kamu di hatinya. Aku tidak mau menjadi benalu di kehidupannya. Fero tidak mencintaiku, mungkin juga dengan anak ini," lirihnya terisak.
"Jika Fero tidak mencintai anak kalian, tidak mungkin dia sekeras ini memperjuangkan kalian, Zi. Fero sudah berusaha untuk memulai kehidupan baru dengan kalian. Tolonglah kamu pikirkan kembali, jangan mengambil keputusan yang akan membuat kamu menyesal di kemudian hari."
Zia mencoba mencerna ucapan Vara di dalam pelukannya. Melepaskan pelukannya, Zia mengela nafasnya sejenak untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya, "Jika jalan ini yang terbaik, aku akan melakukannya demi anakku. Hanya demi anakku. Walau aku tahu, tidak akan ada tempat di hatinya untuk mengukir namaku di sana."
"Kamu menerima tawaran Fero untuk menikah dengannya?" tanya Vara antusias.
__ADS_1
"Demi anakku, Ra. Apapun akan aku lakukan untuknya."
"Gantilah pakaian kamu. Aku akan membahas masalah ini dengan Mas Rangga sebentar. Aku menunggu kamu di ruang tamu."
Zia menggangguk. Walau di hatinya masih terasa bimbang ketika mengambil keputusan besar untuk menerima tawaran pernikahan dari Fero.
***
Ruang tamu di dominasi warna putih itu terasa hening. Zia masih menunduk enggan mengangkat wajahnya untuk melihat pria di hadapannya. Matanya masih terlihat basah oleh air mata. Rangga yang melihat suasa hening pun angkat bicara, "Jadi kapan lo akan datang ke rumah Zia untuk membahas rencana pernikahan kalian?"
"Keputusan yang tepat. Usia kandungan Zia sudah memasuki 6 bulan. Sebaiknya pernikahan kalian dilakukan secepatnya."
__ADS_1
"Seminggu lagi gue akan menikahi Zia," tegas Fero.
Zia tersentak. Seketika wajahnya terangkat melihat pria yang dengan seenaknya mengambil keputusan tanpa meminta pendapat darinya, "Kenapa cepat sekali? Aku takut jika Mama dan Papa tidak akan merestuinya," lirihnya putus asa. Bagaimana tidak, melihat raut murka dari Papanya kepada Fero, rasanya Zia tidak yakin jika orangtuanya mengizinkan pernikahan ini.
"Gue tidak peduli. Gue akan tetap mengusahakan pernikahan kita tetap terlaksana. Ada atau tidak adanya restu Om dan Tante."
"Gue dan Vara akan membantu untuk memberi pengertian kepada Om dan Tante. Mereka pasti mengerti jalan yang kalian pilih," timpal Rangga.
"Maaf sudah merepotkan," sahut Zia.
"Tidak masalah. Gue pernah berada di posisi Fero saat ini. Gue sangat paham apa yang ada di dalam pikirannya. Fero lebih beruntung satu langkah dari gue. Gue bahkan tidak bisa merasakan bagaimana rasanya merawat Aidan dan Ayura sejak dalam kandungan."
__ADS_1
"Mas.."
Rangga mendekap tubuh Vara dengan sebelah tangannya, "Tidak perlu merasa bersalah. Dari kesalahan yang pernah kita alami dulu, kini bisa menjadi pelajaran bagi mereka," mengecup singkat kening Vara penuh kasih sayang.