
"Ehem."
Deheman dari arah belakang membuat mereka serentak menoleh ke belakang. Nadia dengan cepat menepis kasar tangan Riri yang masih berada di atas perutnya.
"Sejak kapan lo berdiri di situ?" tanya Riri.
"Sejak lo mengelus perut istri gue," ketus Adit seraya melenggang ke arah dispenser untuk mengambil minum.
"Emang ada apa di perut istri gue?" lanjut Adit setelah meneguk habis cairan berwarna bening.
"Ada cacing!" keras Nadia segera berlalu dari dapur setelah membilas tangan di air keran.
"Teman lo kenapa?" tanya Adit setelah melihat Nadia hilang dari balik pintu dapur.
"Pake nanya lagi!" Riri mendengus, melangkahkan kaki mengikuti Nadia meninggalkan dapur di susul Melani.
"Temen-temen lo pada kenapa, Ra?" tanya Adit terkekeh. Walau pun ia tahu yang menyebabkan mereka seperti itu adalah dirinya. Tapi Adit berusaha sekuat mungkin melipat bibirnya agar tidak tersenyum.
"Kamu kenapa pura-pura tidak tahu sih! Aku tau kamu pasti menguping pembicaraan kami," Vara membilas piring terakhir dan mematikan kran setelahnya.
Mendudukkan tubuhnya di kursi, "Emang tampang gue tampang penguping apa!"
"Sepertinya."
"Kenapa lo mulai menyebalkan seperti Nadia," Adit mendengus tidak terima.
"Apa kamu sudah mulai mencintai Nadia, Dit?" tanya Vara serius.
"Entahlah, tapi gue rasa begitu."
"Jika kamu benar serius aku harap kamu bisa menjaga Nadia dengan baik. Dia sudah cukup tersakiti dengan masa lalunya."
Adit mengangguk, "Tentu saja! Gue juga baru pertama kali merasakan bisa mencintai seseorang. Bahkan bersama mantan gue terdahulu gue gak pernah merasakan perasaan apa-apa dengan mereka selain hiburan semata," jelasnya.
Vara berjalan mendekati pria yang hampir sama tinggi dengan suaminya. Mencoba mencari kejujuran dari sorot mata Adit. Dan benar saja, hanya sebuah kejujuran yang terlihat di sana, "Terimakasih, aku harap kalian bisa selalu bahagia."
"Lo gak perlu berterimakasih, itu sudah kewajiban gue mencintai Nadia sebagai suaminya!" kelekar Adit.
__ADS_1
Vara hanya tersenyum menanggapinya, di dalam hatinya ia sangat berharap jika pernikahannya dan Rangga juga mengalami jatuh cinta antara keduanya bukan jatuh cinta sendirian. Sampai saat ini Vara masih merasa jika Rangga menikahinya hanya untuk bertanggung jawab atas kedua anaknya tanpa dirinya. Mata hitam pekat Vara mulai tergenang, jika pemikirannya memang benar adanya. Melihat Rangga tidak pernah menunjukkan rasa cinta darinya kepada Vara semakin menguatkan pendapat Vara jika Rangga hanya membutuhkan kedua anaknya tidak dengan dirinya.
"Ra! Kamu kenapa nangis?" Adit menyerngit memegang pundak Vara yang sedang melamun bahkan sampai tidak sadar jika ada Adit di dekatnya, "Apa ada masalah?" tanyanya lagi.
"Agh, tidak!" Vara memandang tangan Adit yang sedang berada di bahunya, ketika kesadarannya mulai kembali dan mencoba menepis tangan Adit, suara tegas dan dingin yang datang secara tiba-tiba membuat Vara dengan cepat menepis tangan Adit.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Rangga dingin.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Kami hanya berbicara sebentar saja!" jelas Vara.
"Cih, berbicara sekaligus bermesraan. Apa kamu tidak sadar dengan status kamu saat ini dan status Adit?" Rangga berbalik, hatinya memanas melihat adegan baru saja. Walau pun Adit adalah teman dan Rangga sangat percaya kepadanya, tetapi tetap saja Rangga tidak suka melihatnya. Niatnya yang ingin menyusul Vara ke dapur karena lama sekali tidak kembali bergabung, justru pemandangan menyesakkan dada yang dilihatnya.
"Rangga salah paham, Ra! Cepat lo susul deh!" perintah Adit.
Vara mengangguk mengiyakan. Ia langsung berjalan cepat mengejar Rangga, sesampainya di ruang tamu. Vara tidak melihat keberadaan Rangga di sana, "Kemana Mas Rangga?" panik Vara bertanya kepada semua orang yang ada di ruang tamu, sedangkan kedua anaknya tidak berada di sana. Entah kemana mereka, Vara pun bahkan tak menyadarinya.
"Setelah membawa Yura dan Aidan ke kamar mereka, bukannya Rangga menyusul kamu ke dapur, Ra?" tanya Riri bingung.
"Mas Rangga salah paham kepadaku, Ri," Air mata Vara mulai bercucuran di pipi putih pucatnya.
"Baiklah, aku akan ke kamar dulu," pamit Vara.
"Kalau begitu kami pulang saja, Ra. Kamu selesaikanlah dulu kesalahpahaman kalian," walau pun tidak tahu masalah apa, tapi Danu tau jika Rangga sedang marah, tidak ada yang bisa menenangkan hatinya. Lebih baik mereka pulang saja, sehingga Vara tidak perlu memikirkan mereka yang masih berada di rumahnya, pikir Danu.
"Terimakasih, hati-hati di jalan," ucap Vara kepada semuanya.
Mereka mengangguk mengiyakan.
Vara menaiki tangga dengan tergesa-gesa menuju kamarnya, sesampainya di depan pintu bewarna coklat. Vara langsung masuk ke dalam mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, tidak ada Rangga di sana. Vara berjalan ke arah balkon, mencoba mencari Rangga di sana. Dan benar saja, jika sosok yang dicarinya sedang berdiri menghadap langit membelakanginya.
"Ada apa?" tanya Rangga singkat tanpa berniat membalikkan tubuhnya.
"Kamu salah paham, M-mas, yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu banyangkan," Vara menggigit kuat bibir bawahnya supaya suara isakan tangisnya tidak terdengar.
"Memang apa yang sedang aku pikirkan?" tanyanya singkat.
Vara berjalan ke arah Rangga, tanpa pikir panjang Vara langsung memeluk pria yang sudah penuh memiliki hatinya saat ini. Isakan yang tertahan pun keluar, "Ma-maafkan a-aku, Mas. Kamu jangan salah paham seperti itu. Aku sungguh tidak berbohong," Vara menggeleng-geleng di balik punggung Rangga.
__ADS_1
Rangga berbalik dan menatap mata sendu yang sudah banjir itu dalam, bahkan hidung Vara nampak memerah. Mengahapus air mata yang mengalir deras, Rangga langsung membalas pelukan Vara.
"Sudahlah jangan menangis!" Rangga berusaha melepaskan pelukan dari tangan Vara yang terlalu kuat melingkar di panggangnya.
"Tidak, kamu belum memaafkanku, Mas. Tolong maafkan aku, aku akan melakukan apa saja asal kamu bisa memaafkan aku, Mas," Vara sangat ketakutan mengingat sikap Rangga yang dingin akan kembali lagi dengan perasaan benci seperti yang ia rasakan waktu sekolah dulu.
"Apa pun?"
"Ya. Apa pun itu, Mas!"
"Ada dua hal yang harus kamu lakukan agar aku bisa memafkan kesalahan kamu! Apa kamu yakin akan mengabulkannya?"
Vara mengangguk cepat, "Ya, aku sangat yakin, Mas."
"Layani aku malam ini!" ucap Rangga diiringi seringaian licik.
Tangan yang sedang melingkar erat seketika terlepas begitu saja, rasanya Vara tidak percaya dengan syarat yang diberikan Rangga kepadanya. Bagaimana Rangga bisa berkata seperti itu kepadanya, sedangkan yang ia tau Rangga sama sekali tidak mencintainya.
"Kenapa diam? Tidak setuju?"
"Aku setuju, Mas," Vara langsung menunduk setelah mengucapkannya. Rasanya ia sangat malu saat ini.
"Baiklah, jangan lupa dengan janji kamu nanti malam! Dan persiapkan diri dengan baik."
.
.
.
Happy Reading😉
jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, rate bintang 5 dan votenya jika berkenan. Sambil menunggu Vara dan Rangga update, mari mampir ke karya baru aku yang berjudul :
— Menikahi Pria Kaku —
Terimakasih ^_^
__ADS_1