
"Ini sungguh enak!" puji Vara setelah memasukkan satu sendok kuah sup iga ke dalam mulutnya.
"Apa kamu tidak merasakan mual setelah memakannya?" tanya Fero tersenyum melihat pujaan hatinya begitu berbinar ketika menikmati makanan yang baru saja dibelinya.
Vara menggeleng, "Tidak. Rasanya sungguh gurih dan lezat seperti yang kemarin kamu belikan."
"Syukurlah jika kamu tidak merasakan mual, Ra!" ungkap Fero.
Vara melanjutkan melahap sup iga kesukaannya. Tidak berapa lama sup iga itu terasa hambar di mulutnya. Tiba-tiba saja bayangan Rangga melintas di kepalanya.
"Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Fero. Bukannya Vara tadi berkata jika sup iga itu enak dan tidak membuatnya mual, pikirnya bingung.
"Ehm, sepertinya aku sudah kenyang. Aku ingin ke kamar mandi sebentar," pamit Vara.
Fero mengangguk mengiyakan. Dilihatnya Aidan dan Yura masih asyik bermain di balkon bersama para pelayan. Melirik pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan jam 5 sore. Ia ingat jika nanti malam akan ada acara di rumah rekan bisnisnya.
"Apa kamu sungguh tidak mau makan dulu, Fer?" tanya Vara ketika sudah mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Aku masih kenyang, Ra. Sepertinya aku harus pulang. Karena nanti malam aku harus menghadiri acara syukuran di rumah rekan bisnisku."
"Baiklah, terimakasih untuk makanannya," ucap Vara tersenyum. Sejujurnya Vara sungguh tidak enak harus selalu merepotkan Fero.
"Kamu terlalu berlebihan. Tidak ada kata terimakasih, aku sungguh bosan mendengarnya," kelakar Fero. Mengalihkan pandangan ke arah Aidan dan Yura yang sedang berjalan ke arah mereka, "Daddy pulang dulu, kalian jaga Bunda baik-baik untuk Daddy, Ya!" canda Fero.
__ADS_1
Aidan dan Yura mengangguk bersamaan. Setiap hari Fero selalu berpesan yang sama kepada mereka, "Daddy kenapa cepat sekali puyang?" merajuk Yura. Biasanya Fero akan pulang sekitar jam 8 malam dari apartemen.
"Daddy ada undangan acara syukuran di rumah rekan bisnis Daddy," jelas Fero, "Apa anak Daddy mau ikut?" tanya Fero mengingat ia tidak membawa siapa-siapa ke acara nanti malam selain asistennya yang akan menemaninya.
"Mahu... Yula mau ikut... Boyeh Bunda??" tanya Yura berbinar. Vara mengangguk tak kuasa menolak permintaan putrinya itu. Sudah cukup lama Yura dan Aidan tidak pernah lagi bermain di luar. Tidak masalah sepertinya jika Yura pergi bersama Fero pikirnya.
"Aidan kamu juga ikut! Daddy akan mengajak kalian bertemu dengan rekan-rekan bisnis Daddy nanti. Mereka juga pasti membawa anak-anak mereka."
Aidan mengangguk pasrah, dilihatnya Yura sedang menatapnya dengan tatapan memohon supaya mengiyakan.
"Apa tidak akan merepotkan kamu nantinya?" tanya Vara tidak enak.
"Tentu saja tidak! Mereka anak-anak yang pintar," tegas Fero.
"Aidan jaga adik kamu, jangan sampai membuat Daddy susah di acara nanti," ucap Vara lembut. Membelai lembut rambut Aidan yang sudah mulai memanjang hingga menutupi dahinya.
Fero langsung membawa Aidan dan Yura pulang ke rumahnya. Sebelumnya Fero sudah memerintahkan asistennya untuk mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan Aidan dan Yura. Vara melepas kedua anaknya dengan senyuman. Kedua anaknya itu pasti senang sekali menikmati pemandangan kota yang sudah jarang mereka lihat di malam hari.
***
Mobil-mobil mewah sudah berjajar rapi di halaman rumah megah di hadapan Fero. Fero membukakan pintu untuk Aidan dan Yura. Menuntun mereka masuk ke dalam rumah diikuti asistennya dibelakangnya. Saat masuk ke dalam rumah, Fero sudah disambut oleh Tuan rumah yang merupakan rekan bisnisnya.
"Selamat malam! Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir di acara kecil-kecilan kami malam ini," ucap pria paruh baya yang Fero ketahui bernama Agung itu, "Apakah ini anak-anak anda Pak Fero?" tanyannya.
__ADS_1
Fero tersenyum membalas sapaan dari rekan bisnisnya itu, "Ya, mereka adalah anak-anak saya," jawabnya singkat," Yura mulai memperhatikan deretan makanan yang sudah tersaji di atas meja. Matanya berbinar ketika melihat muffin coklat kesukaannya ada di atas meja sudut ruangan.
"Yula mau itu Kak," bisik Yura di telinga Aidan.
"Apa?"
"Itu, yang di situ," tunjuk Yura ke arah muffin coklat yang berada di sudut ruangan yang mulai tertutupi oleh beberapa orang yang sedang mengambil kue.
Aidan mengangguk mengerti, tetapi untuk saat ini lebih baik Yura tidak mengambil kue itu terlebih dahulu. Bisa-bisa ia akan tenggelam di keramaian orang-orang yang berada di sana, "Nanti saja Kakak ambilkan," tegas Aidan. Jika dibiarkan, bisa saja Yura langsung mengambil kue itu sekarang juga.
Yura mengangguk patuh, memperhatikan orang-orang dewasa yang berada di sekitar mereka. Satu sosok yang sangat menonjol menjadi pusat perhatian orang-orang melebihi yang punya acara itu sangat dikenalinya. Yura langsung saja berlari ke arah sosok itu yang ia yakini adalah ayahnya yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya dengan di dampingi asisten Jo.
"Ayahhh..." teriak Yura memeluk erat kaki Rangga seolah-olah sedang memeluk tubuh ayahnya.
Rangga tersentak, melihat ke bawah untuk melihat gadis kecil yang sedang memeluk erat kaki jenjangnya. Yura, putri kecilnya yang sudah hampir sebulan ini dirindukannya sudah berada di hadapannya.
Dengan cepat Rangga mengangkat tubuh Yura. Teriakan Yura baru saja membuat orang-orang mengalihkan pandangan ke arah Rangga yang sedang menggendong gadis kecil yang hampir mirip dengannya.
Yura langsung menyandarkan kepalanya di bahu Rangga. Rasa rindunya akhirnya terbalaskan juga, "Ayah kenapa lama sekali di lual kota? Nda jemput-jemput Yula, Kakak, Bunda dan adik," celetuk Yura mencebik.
Rangga menyerngit, adik siapa maksud anaknya itu? Jika masalah di luar kota, Rangga yakin itu hanyalah alasan Vara saja yang tidak ingin anak-anaknya tahu permasalahan orang tuanya, "Maafkan Ayah. Ayah sungguh sibuk sekali sehingga tidak bisa menjemput kalian," alasan Rangga, "Kamu bilang tadi adik? Adik siapa maksud anak Ayah?" tanya Rangga bingung.
"Adik yang ada di pelut Bunda... Bunda kasian, tiap pagi muntah-muntah telus kalna adik di pelut..." lirih Yura. Masih menyandarkan kepalanya di bahu Rangga. Gadis kecil itu tidak sadar jika ucapannya baru saja membuat tubuh Rangga menegang seketika.
__ADS_1
Rangga benar-benar mematung mendengar ucapan Yura, apa maksudnya adik di dalam perut Vara saat ini? Apakah Vara sedang mengandung dan ... apakah anak yang ada di dalam kandungan Vara adalah anaknya? Rangga dengan cepat menepis pikirannya itu. Pikiran buruk langsung menghampiri pikirannya ketika mengingat Vara yang berselingkuh dengan Fero.
Apa Vara sedang mengandung anak Fero! Kurang ajar! Lo benar-benar wanita murahan. Gue menyesal telah percaya kepada wajah pura-pura polos lo itu! geram Rangga dalam hatinya. Dilihatnya Fero sedang berjalan ke arahnya tergesa-gesa diikuti Aidan, sepertinya pria itu baru sadar jika Yura sudah tidak berada di sampingnya karena terlalu asyik bercengkerama dengan rekan bisnisnya.