
Gita membenarkan ucapan Fero. Bisikan dan sindiran tetangga kontrakannya tentang Zia yang hamil di luar nikah membuatnya tidak tega. Gita bahkan sering mendengar Zia menangis di dalam kamar setelah menerima hinaan dan cacian dari warga sekitar mereka tinggal. Segala upaya Gita lakukan untuk menenangkan hati Zia bahwa semuanya akan baik-baik saja. Walau gita tahu, jika Zia sangat terluka.
Fero memberi isyarat kepada Zayn agar melepaskan tubuh Gita yang mulai tenang, "Apakah anda benar-benar akan bertanggung jawab kepada Zia? Atau bisa saja anda membodohi saya dengan niat ingin menggugurkan kandungan sahabat saya!" rasa tidak percaya tiba-tiba muncul di benak Gita. Apa yang tidak mungkin dilakukan oleh orang berkuasa seperti Fero, pikirnya.
Wajah Fero seketika merah padam mendengar penuturan Gita, "Saya tidak seperti yang ada di pikiran anda! Sebejat apapun saya, saya tidak akan tega membunuh darah daging saya sendiri!" tegas Fero.
Mencoba mencari kejujuran dari manik mata Fero. Gita dapat melihat jika pria di hadapannya berbicara dengan sungguh-sungguh, "Baiklah, saya akan memberitahu dimana Zia tinggal. Tapi saya mohon, jangan membuat sahabat saya terluka oleh anda untuk kesekian kalinya!"
__ADS_1
Fero mengangguk, "Katakan!"
"Beberapa bulan ini Zia tinggal di kontrakan saya. Jarakanya tidak jauh dari kantor, hanya 15 menit jika jalanan tidak macet," jelasnya.
Fero berpikir sejenak. Pria itu nampak menimbang-nimbang sesuatu, "Setelah makan siang, antarkan saya ke kontrakan kamu! Kamu cukup bekerja sampai siang hari ini. Zayn akan mengurus laporan yang belum selesai kamu kerjakan. Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya!"
Setelah mengangguk mengiyakan, Gita segera keluar dari ruangan yang serasa panas di tubuhnya, "Awas saja sampai dia melukai hati Zia lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk membalaskan rasa sakit hati Zia kepadanya!" gumam Gita. Tidak peduli dia akan dikeluarkan dari perusahaan. Lagi pula Gita yakin, jika Fero bukan pria yang mencampuri urusan pribadi dan pekerjaan.
__ADS_1
***
Sampainya di kontrakan, Zia lekas membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Ia bahkan tidak membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pergi ke perusahaan Gita bekerja karena rasa paniknya, "Rasanya segar sekali," gumam Zia setelah keluar dari dalam kamar mandi. Tiba-tiba wanita itu terkekeh ketika mendengar suara dari dalam perutnya, "Kamu lapar lagi, sayang? Agh baiklah, Mama akan mencari bahan makanan untuk kita masak dulu di warung," mengelus perutnya yang tertutupi handuk.
Segera Zia memakai pakaiannya. Ia sudah memikirkan masakan apa yang akan dimasaknya hari ini. Walau pun ragu karena perutnya yang tidak bisa menerima aroma masakan, tetapi Zia tetap harus memasak untuk anak yang ada di dalam kandungannya.
Tinggal di kontrakan membuat Zia belajar banyak hal. Dari mulai ia yang tidak pandai memasak akhirnya mulai bisa walau belum sempurna. Zia banyak belajar beberapa hal dari Gita yang memang mandiri sejak sekolah. Walau Gita sering melarangnya melakukan aktivitas pekerjaan rumah, Zia tak menghiraukannya. Ia sudah cukup merepotkan sahabatnya itu. Tidak masalah jika ia harus membalas budi dengan membantu membereskan kontarakan Gita dan memasakkan makanan untuk Gita.
__ADS_1
Mengelap peluhnya yang bercucuran. Ternyata berjalan dari kontrakan menuju warung cukup menguras tenaganya. Sinar matahari yang menyengat kulit menambah banyaknya peluh Zia, "Huh, baikalah. Aku harus memasak secepatnya," gumam Zia yang sudah merasa perutnya mulai tidak menerima aroma cumi yang sedang dibersihkannya.