Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Mengkhawatirkanmu dan anak kita


__ADS_3

Zia mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk dari celah jendela kamar. Perlahan mata bulat itu pun terbuka sempurna. Mengedarkan pandangan, Zia tersadar jika kini ia sedang berada di apartemen miliknya.


Menyambar ponsel yang ada di atas nakas. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Mama dan Papanya. Zia merutuki kebodohannya karena lupa mengabari jika ia tidak pulang ke rumah malam tadi. Pastilah saat ini Mamanya sangat mengkhawatirkan dirinya. Terlebih ada nyawa yang sedang ia bawa di dalam perutnya. Mama dan Papanya sangat protektif pada cucu mereka yang masih berada dalam perutnya.


"Kenapa aku begitu ceroboh sampai tidak menghubungi Mama dan Papa!" gerutu Zia. Berniat menghubungi kedua orang tuanya, namun niat itu ia urungkan ketika ponselnya tiba-tiba mati kehabisan daya.


Ingatan Zia perlahan kembali muncul yang membuat tubuhnya tersentak. Bukankah tadi malam ia bersama Fero masuk ke dalam apartemen? Lalu dimana pria itu saat ini? Apakah Fero telah meninggalkannya sendiri di apartemen? Pikiran buruk menyelimuti pikirannya. Zia mendesah, memang apalagi yang ia harapkan dari pria yang sama sekali tidak mencintainya?

__ADS_1


"Harusnya aku sadar sejak awal jika cintanya tidak mungkin bisa aku gapai. Aku terlalu percaya diri bisa mendapatkan hatinya. Harapan palsu yang sudah aku buat ternyata sesakit ini." gumam Zia pelan menutup kedua kelopak matanya. Perlahan Zia membuka mata dan mengangkat wajahnya ketika merasakan air matanya yang sudah siap tumpah.


Tubuh Zia berguncang sehingga membuat selimut yang menutupi tubuhnya tersingkap sebagian. Seketika Zia langsung mendudukkan tubuhnya ketika melihat Fero yang sudah berada di samping tempat tidur. Entah sejak kapan pria itu masuk ke dalam kamarnya. Zia bahkan tidak menyadari hadirnya Fero di dalam kamarnya.


"Cinta siapa yang sulit kamu gapai?" tanya Fero dengan ekspresi datarnya. Tidak sadarkah pria itu kini Zia tengah mengontrol degupan jantungnya yang bekerja lebih cepat?


Fero berdecih. Semakin hari sikap Zia mengingatkannya pada sosok Vara yang tidak pernah mengakui perasaannya. Mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur yang membuat Zia sedikit bergeser dari posisinya." Bersihkanlah tubuhmu. Aku sudah menyiapkan makanan dan susu untuk kamu. Kita harus segera pulang sebelum orangtua kamu melapor pada pihak kepolisian karena anaknya tidak kunjung pulang."

__ADS_1


"Maaf sudah begitu banyak merepotkan. Agh maaf aku tidak tahu jika kamu masih di sini. Kenapa kamu masih di sini? Kamu bisa meninggalkanku ketika aku sudah tidur." tanya Zia menyerngitkan keningnya dalam.


"Tentu saja. Tidak mungkin aku meninggalkan kamu di sini bersama anakku. Yang benar saja! Jika terjadi apa-apa atau kamu butuh sesuatu siapa yang akan membantumu?" seru Fero.


Jangan membuat aku salah paham dengan ucapan kamu. Ucapan kamu seperti halnya pria yang sedang mengkhawatirkan wanita yang dicintainya saja. Zia hanya bisa membatin. Menatap sejenak kedua bola mata yang sedari tadi menatapnya dalam.


"Apa kamu mengkhawatirkan anak yang ada di dalam kandunganku?" tanya Zia pelan. Sejujurnya ia sangat ingin mempertanyakan hal yang berbeda. Apakah kamu mengkhawatirkan aku dan anak kita?

__ADS_1


"Kamu cerewet sekali seperti Yura! Tentu saja aku sangat mengkhawatirkan kamu dan anakku yang ada di dalam kandunganmu, Zia!" seru Fero dengan suara datarnya. Membuat Zia kembali menatap kedua mata pria itu dalam.


__ADS_2