
" Maaf nona-nona kecil, tuan besar bilang dia akan memilih pilihannya sendiri. Jadi, kalian tidak perlu repot untuk semua ini. Kalian hanya harus fokus dengan masa kecil kalian. Beliau tidak mau kalian tumbuh tanpa merasa masa kanak-kanak kalian apalagi tanpa sosok ibu disamping kalian. " seru kepala pelayan yang bernama pak Thomas.
" Oh Thom, kami bukan kanak-kanak lagi. Kami sudah dewasa dan akan mencarikan Mommy untuk Daddy ." Seorang anak kecil imut, mungil dengan gigi yang masih belum sempurna tumbuhnya.
Apanya yang bukan kanak-kanak. Cih kalian bahkan masih dimandikan oleh Clara. Kalau kalian sudah mandi dan makan sendiri, maka aku akan setuju dengan perkataan kalian itu. Thomas memandang tidak percaya pada kedua gadis kembar itu, namun masih memberikan senyuman manis pada keduanya.
" Ayolah Thom. Kalian ikuti saja saran kami dan lihat saja nanti bahwa kami akan mencari mommy yang cantik, baik hati dan tentunya sayang sama kami. Dad adalah pria tampan, sukses dan kaya raya dia harus mempunyai seorang istri yang baik dan tulus mencintainya. Bukan seperti wanita-wanita mata duitan itu, yang hanya mengincar harta Daddy Jaxton. Aku benci mereka semua, sangat. " seru anak kembar tadi.
" Oh. Ayolah Nona Chloe manis, cantik. Paman Thomas akan membelikan kalian es krim jika kalian mau menuruti perkataan tuan besar." Thomas mencoba membujuk si kembar.
" Benarkah Thom. Kalau begitu kami mau. Ayuk." Chloe dengan cepatnya berubah pikiran mendengar ucapan Thomas. Meski begitu dia tidak akan pernah tertipu oleh godaan Thomas.
" Tapi setelah itu kita akan kembali mencari Mommy for Daddy, oke. " Chloe dengan polosnya mengatakan hal yang tidak ingin di dengar oleh Thomas. Jelas-jelas Thomas melarangnya untuk mencarikan tuanya istri tapi ini malah lebih diperjelas lagi. Thomas pun tidak jadi membelikan si kembar es krim.
Thomas menepuk keningnya karena tidak habis pikir dengan kedua Nona kecilnya Yang sangat keras kepala perilakunya. Dua Nona kecil yang tidak bisa diajak bicara kecuali oleh Daddy nya sendri. Para pelayan dirumah besar itupun tersenyum melihat Thomas yang tidak bisa lagi memperingati para Nona-nonanya. Thomas yang melihat pelayan menertawainya dia pun menatap tajam ke arah pelayan itu.
" Apa yang kalian lakukan disana. Pergi sana, urus kerjaan kalian sendiri. " Thomas mengatakannya tanpa suara hanya mengerakkan bibirnya dan menatap tajam ke arah para pelayan itu. Para pelayan itu pun bubar karena takut dapat hukuman oleh kepala pelayan mereka.
Thomas pun lebih memilih melakukan tugasnya sebagai kepala pelayan di rumah itu dan pergi meninggalkan dua Nona yang keras kepala itu.
" Maaf para Nona kecil yang manis dan imut. Saya Paman Thom pamit undur diri karena banyak tugas yang harus saya lakukan. " Thomas memberi hormat dan berlenggang ke belakang.
" Tapi bukannya ki..." Chloe mengantung kalimatnya karena sudah melihat jauh punggung Thomas. Zoe sendiri hanya bisa menepuk bahu kembarnya seolah merasakan kesedihan Chloe yang tidak jadi beli es krim.
" Sudah Chloe. Lebih baik kita susun rencana kita selanjutnya. "Zoe menimpali kakaknya yang masih terlihat cemberut karena tidak jadi beli es krim.
" Yah, kau benar Zoe. Coba ku lihat apa yang telah kamu rencanakan untuk calon mommy Kita. "Chloe merebut kertas di tangan Zoe.
__ADS_1
" Wah, sepertinya kamu sudah menyiapkan semuanya secara matang apa yang akan kita lakukan nantinya. " Chloe menepuk bahu Zoe karena bangga punya adik yang hebat.
" Sebagai kakak aku bangga punya adik sepertimu." Chloe kembali menepuk bahu Zoe.
" Cih. Kita hanya beda 5 menit saja. " Zoe kesal mendengar kalimat Chloe.
" Tapi aku kan lebih besar dikit darimu. Aku pantas jadi kakakmu Zoe." Chloe tersenyum menyeringai ke arah Zoe.
" Yah, yah terserah kamu aja deh. Yang terpenting sekarang adalah kita harus mencarikan Mommy yang baik, cantik dan sayang pada kita." Chloe menatap kertas di tangannya lalu tersenyum menyeringai ke arah Zoe.
" Kamu tenang saja. Untuk Daddy hal yang terbaik akan aku lakukan. "seru Zoe yang tiba-tiba keningnya disentil oleh Chloe.
" Apa yang kamu lakukan? Sakit! " Rengek Zoe mengusap keningnya yang sakit.
" Bukan kamu bodoh. Tapi kita, oke." Chloe memperingati adiknya.
" Nah gitu baru benar. Adik pintar. " Chloe tersenyum mengusap kepala Zoe.
Di tempat lain diwaktu sama.
" Maaf tuan Jaxton. Menurut informasi yang saya dapat dari paman Thomas bahwasanya nona Chloe dan nona Zoe kembali menyusun rencana pencarian Mate untuk tuan. Apa saya harus menghentikan rencana mereka tuan? " Seru salah seorang sekretaris.
" Tidak. Biarkan mereka melakukannya Al. Mereka tidak akan tinggal diam sebelum memenuhi kriteria mereka. Saya juga mau pasangan saya juga menyayangi mereka. Karena itu saya mau merekalah yang mencarikan Mate untuk saya. Orang yang mereka sukai maka saya akan menyukai dia juga. Dan jika dia benci pada seseorang maka saya akan membenci orang itu juga. Kita lihat saja, Mate seperti apa yang mereka inginkan untuk saya nikahi. " Jaxton tersenyum penuh arti dengan menopang dagunya dengan kedua tangannya.
" Baiklah tuan. Saya akan menyusun dan mengawasi para nona nantinya. Kalau begitu saya pamit dulu tuan. Silahkan melanjutkan pekerjaan tuan. " Albert memberi hormat dan pergi meninggalkan Jaxton.
Setelah ke pergian Albert. Jaxton terlihat memandang sebuah foto yang terbingkai indah. Dua anak kecil yang terlihat gembira di antara pelukannya satu sama lain. Jaxton mengambil foto itu lalu terlihat kesedihan dimata Jaxton yang sudah mulia berkaca-kaca. Dia pandang begitu lama foto itu. Lalu dia elus dua wajah anak kecil yang mungil dan manis dengan punggung jemarinya.
__ADS_1
" Cinta paman ada di tangan kalian. Paman akan selalu mendukung apapun yang kalian suka. Kalian adalah kebahagiaan paman. Paman cintai kalian. " Jaxton mencium
bingkai foto itu.
" Kakak. Anakmu sudah besar sekarang. Mereka bahkan sudah bisa mencarikan adikmu ini seorang istri. Aku sudah lelah menghentikan rencana mereka yang tidak pernah ada hentinya itu. Aku nyerah dan lebih membiyarkan mereka untuk memilih pasangan untukku. Andai kakak ada disini pasti mereka mau mendengarkan nasehatmu kak. Heh, mereka seperti kakak waktu muda, yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tapi mereka sangat manis membuatku tidak bisa menolak keinginannya. " Jaxton membayangkan wajah kakaknya sudah hampir 6 tahun pergi jauh darinya.
Jaxton kembali meletakkan foto itu ke tempatnya dan melanjutkan pekerjaanya yang sempat tertunda. Dia terlihat fokus dalam memeriksa dokumen yang ada di depannya.
Setelah beberapa jam akhirnya Jaxton pun menyelesaikan pekerjaanya. Dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
" Al. Saya akan pulang sekarang. Ini waktunya untuk saya bersama anak-anak. " Jaxton melihat Arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Albert yang ada dibelakangnya membuntuti Jaxton sampai keluar dari kantor dan membukakan pintu mobil untuk Jaxton.
" Hati-hati tuan. Semoga hari tuan bahagia bersama anak-anak. " Albert memberi hormat dan langsung menutup pintu mobil setelah Jaxton masuk dan menganggukkan kepalanya.
" Kamu segeralah pulang jika kerjaanmu sudah selesai." Jaxton membuka pintu kaca mobilnya memberi saran untuk Albert.
" Baik tuan. Sekali lagi terima kasih untuk sarannya. " Albert sekali lagi memberi hormat dan dibalas anggukan oleh Jaxton. Jaxton pun menyuruh supirnya untuk melajukan mobil ke arah rumah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.