Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy

Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy
Bites and Kisses


__ADS_3

Masih di ruangan Jaxton. Pria itu terlihat mendengarkan ucapan kakak iparnya itu. Fokusnya hanya tertuju dengan latar belakang sang istri. Sampai akhirnya, Issabela mengakhiri ucapannya dengan kata maaf karena suaminya sudah mengerjai nya dengan cara memanas-manaskan Jaxton dengan dalih Mario punya hubungan di masa lalu.


Issabela meluruskan kesalahpahaman yang di buat Mario. Issabela tahu, suaminya itu memang sangat usil. Apalagi, ia tahu. Adik iparnya adalah lawan bisnis sang suami. Mungkin itulah alasan Mario memanaskan Jaxton.


Jaxton pun paham dengan situasi. Lalu, Mario dan Jaxton pun berjabat tangan. Mereka sepakat akan bersaing bisnis dengan cara yang sehat. Tidak akan membuat dua belah pihak merugi ataupun di rugikan.


"Aku tahu kamu berhasil memenangkan tender di utara tapi aku akan mengalahkan kamu di tender berikutnya. ucap Mario menjabat tangannya dengan Jaxton.


"Kita lihat saja. " balas Jaxton menyeringai.


"Hubby sudahlah. Lagipula, bisnis hubby tidak terfokus ke situ. Lupakan saja semuanya. Jangan lagi buat masalah. Aku pusing tahu. " ucap Issabela pada istrinya. Mario mengerucutkan bibirnya. Jika Issabela sudah berbicara seperti itu dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menganggukkan kepalanya. Jaxton yang melihatnya sampai tidak percaya. Apa dia juga akan seperti itu nantinya kepada Grizella. Benar. Apapun akan dia lakukan jika itu adalah permintaan istrinya pikir Jaxton.


"Yasudah, kalau begitu kami pamit dulu. Jagalah adikku. Jangan buat dia sedih. " ucap Issabela.


"Hem. " tiga huruf yang keluar dari mulut Jaxton yang membuat Mario kesal.


"Bisakah kamu membalasnya? Aku saja tidak pernah melakukan hal itu kepada istriku. " ucap Mario kesal.


"Iya kakak ipar. Aku akan menjaga dan mencintai adikmu setulus hatiku. Menjaganya dari orang-orang yang jahat kepadanya. Puas sekarang. " balas Jaxton menatap Mario yang saat ini adalah kakak iparnya. Mario tersenyum menyeringai. Menaikkan satu sudut bibirnya ke atas. Issabela yang ada di sana hanya bisa geleng-geleng kepala.


Setelah itu, Issabela dan Mario kembali ke rumah sakit. Jaxton pun kembali ke meja kerjanya. Lalu, ia menelpon sekretarisnya.


"Apa saya masih ada jadwal setelah ini? " tanya Jaxton.


📞 : Tidak ada, Tuan. Semuanya sudah beres. Tuan hanya ada pertemuan dengan klien baru kita besok pagi. " balas sekretaris Jaxton.


"Yasudah, kalau begitu saya pulang sekarang. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini. " balas Jaxton. Jaxton pun langsung mematikan sepihak panggilan tersebut. Jaxton berdiri dari duduknya. Menyambar jasnya yang ada di gantungan samping duduknya. Memakainya, lalu berlenggang keluar.


Jaxton menaiki lift. Lift pun berhenti langsung di parkiran bawah tanah. Parkiran khusus untuk pemilik perusahaan.


Setelah itu, Jaxton pun memasuki mobilnya. Hari ini Jaxton tidak memakai supir. Jika pakai supir biasanya dia akan langsung naik mobil di depan halaman kantor.


Jaxton membalah jalanan kota. Di dalam perjalanan Jaxton teringat sesuatu. Istrinya meminta di belikan pembalut. Tiba-tiba ia malu sendiri. Karena ini adalah pengalaman pertama ia lakukan. Karena tadi fokus dengan masalah yang terjadi sehingga melupakan semua itu. Dirinya hanya fokus kepada istrinya tersebut. Tapi, jika tidak ia belikan istrinya itu akan marah padanya.

__ADS_1


Jaxton pun mau tak mau harus tetap pergi ke  supermarket. Setibanya di supermarket. Jaxton langsung di sambut oleh karyawan di sana.


"Dimana letaknya ya? " bertanya kepada diri sendiri. Meletakkan tangannya di bawah dagu. Karyawan yang bekerja di sana bisa melihat kebingungan Jaxton. Dia pun mendekati Jaxton.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan? " tanyanya.


"Emm. Itu,  saya mau beli pembalut wanita. " balas Jaxton melirih sembari menutup wajah dengan satu tangannya. Karyawan itu pun tersenyum menanggapinya.


"Kalau begitu mari ikut saya, Tuan. " Jaxton mengikutinya. Mereka berjalan ke sebuah lorong rak. Di rak tersebut terdapat semua kebutuhan wanita dewasa seperti bedak tabur, body lotion, dll.


"Ini yang Tuan butuhkan. " ucap Karyawan tersebut. Jaxton pun hanya manggut-manggut.


"Kalau begitu saya bisa sendiri. Silahkan teruskan pekerjaannya. " ucap Jaxton. Karyawan itu menundukkan kepalanya. Lalu pergi meninggalkan Jaxton sendirian.


Jaxton terlihat memperhatikan. Dia lupa. Seharusnya dia juga bertanya kenapa banyak sekali macam-macamnya. Karena tidak mau ambil pusing. Jaxton pun mengambil semua jenis yang ada di depannya. Meletakkannya di ranjang merah berukuran sedang di tangannya.


"Emm. Aku rasa sudah cukup. " gumam Jaxton. Setelah itu, Jaxton pun pergi ke kasir. Membayar semua barang yang ia beli. Setelah selesai membayar. Jaxton pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Dilihatnya jam di lengan kirinya sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sepertinya dia sudah bersih-bersih. Aku harus cepat-cepat pulang pikir Jaxton.


Tidak menyita banyak waktu. Jaxton pun sampai di mansionnya. Setibanya di mansion dia langsung di sambut oleh Bianca.


"Aku bisa sendiri. Kenapa kamu di sini? " tanya Jaxton. Jaxton mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan. Mencari sosok istrinya. Tapi, ia tidak melihatnya. Bianca yang peka pun angkat bicara.


"Istrimu sedari tadi tidak keluar kamar. Cih, dia tidak pantas menjadi istrimu. Kerjaannya bermalasan saja di rumah. " ucap Bianca menyilangkan tangannya di dada. Melirik lantai 2, tempat kamar utama dengan ekor matanya. Jaxton yang mendengarnya pun hanya bisa mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu terhadap istriku? " tanya Jaxton.


"Yah. Hanya saja saat aku tiba di sini kerjaannya hanya tidur saja. Bahkan, ia tidak sempat mengurus anak-anak. " ucap Bianca. Jaxton yang mendengarnya hanya bisa tersenyum. Ia teringat dengan kemesraannya dengan sang istri sebelum ia pergi ke kantor tadi.


"Kenapa kamu malah tersenyum. Dia itu tidak cocok menjadi istrimu. Akulah yang cocok menjadi istrimu. Aku adalah lulusan luar negri. Bekerja sebagai dokter bedah di RS bergengsi di negri ini. Kamu akan bangga menjadi suamiku kedepannya. Bukan seperti istrimu yang hanya seorang guru biasa. Bahkan hanya lulusan di kampus biasa. Cih.  " ucap Bianca merendahkan. Jaxton pun tidak senang mendengarkan ucapan Bianca. Walau bagaimanapun menjadi seorang guru adalah cita-cita sekaligus kesenangan istrinya. Grizella menjadi guru bukanlah untuk di banggakan ataupun di segani oleh orang lain. Dia menjadi guru murni karena keinginannya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa ini.


"Sudah bicaranya? Aku tidak menyangka pola pikirmu hanya sampai segitu. Yasudah, percuma juga aku menasehati kamu. Kamu yang seperti ini tidak akan mendengarkan ucapan orang yang menasehatimu. Aku harap kamu mendapatkan suami yang mencintaimu apa adanya. " ucap Jaxton. Jaxton pun pergi berlenggang ke kamarnya. Meninggalkan Bianca yang tengah terdiam di tempat berdirinya.


Jaxton memasuki kamarnya. Dia tidak melihat sosok istrinya tersebut.

__ADS_1


"Sayang. Aku pulang. " panggil Jaxton.


"Aku di kamar mandi. Apa kamu membawa pesananku? " tanya Grizella dari dalam. Jaxton pun tersenyum lalu mengiyakan pertanyaan Grizella.


"Mana. Berikan padaku. " Grizella menjulurkan tangannya. Bukannya mendapatkan pesanannya. Tangan Grizella malah di tarik oleh Jaxton keluar. Untung Grizella pakai handuk. Jika tidak akan habis gadis itu sore ini.


"Kenapa malah menarik tanganku? " tanya Grizella kesal. Jaxton pun hanya tersenyum.


"Ya, tidak apa-apa. Ini pesanan kamu. " Jaxton mengangkat belanjaannya ke atas hingga sejajar dengan kepala Grizella. Grizella pun tersenyum.


"Makasih ya. Kalau begitu aku mau memasangnya dulu. " ucap Grizella mengambil barang tersebut. Saat Grizella hendak membalikkan badannya tiba-tiba Jaxton menghadapkan tubuh Grizella ke hadapannya. Membuat gadis itu terperanjak. Kaget sekaligus.


"Kenapa? " tanya Grizella.


"Aku mau mandi. " ucap Jaxton.


"Sebentar. Aku akan mengisi Bathtup dulu. " ucap Grizella.


"Tidak perlu. Aku mau mandi dengan shower saja. " balas Jaxton.


"Yaudah, aku pakai ini dulu ya. " mengerakkan barang yang di beli oleh Jaxton.


"Tidak usah. Temani aku mandi. " Jaxton tidak membiarkan gadis itu menjawab. Jaxton langsung menarik tangan Grizella ke kamar mandi. Dan mereka pun kembali melakukan adegan romantis. Tanpa melakukan penghubungan badan. Hanya memberikan kecupan dan gigitan di tubuh sang istri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Oke. Segitu dulu untuk hari ini. Semoga betah dan kasih aku like yang banyak ya. Kalau aku ada niatan akan aku up lagi 1 episode^^.


__ADS_2