
...Happy Reading readers ๐ผ๐ผ๐ผ...
...Jangan lupa like dan komentarnya ya๐ป๐ป๐ป...
...Terima kasih atas semua dukungannya ๐ธ๐ธ๐ธ...
...โขโขโขโขโข...
Di malam harinya. Jam 20:40 waktu setempat. Jaxton dan keluarga sudah berada di kediaman Grizella.
Kesunyian terjadi kala keluarga Jaxton datang.ย ย Bryan dan sang Nenek bingung melihat kedatangan Jaxton dan keluarga. Dilihatnya Grizella yang hanya tersenyum canggung kepada mereka. Sang Nenek pun buka suara. Karena sudah beberapa saat mereka hanya terdiam. Menunggu yang lebih tua untuk buka suara.
"Ehem. Ada yang bisa saya bantu? " tanya Nenek pada akhirnya. Dengan suara merendah karena tahu status tamu yang datang di kediamannya. Yaitu, satu keluarga Davinchi. Keluarga yang di segani se antero negri ini. Keluarga yang berasal dari keluarga kerajaan di masanya.
Jenny pun tersenyum setelah mendengarkan ucapan sambutan dari Nenek Grizella. Jenny yang orangnya terbuka dan apa adanya pun berpindah duduk di samping Nenek. Mengusap lembut punggung tangan Nenek. Seolah-olah mereka sudah sangat dekat. Nenek sampai terperanjak. Tidak menyangka bahwa keluarga Davinchi orangnya terbuka. Tidak memandang rendah keluarga sederhana miliknya.
"Eh, Nyonya. Apa yang Nyonya lakukan? Kami tidak pantas di perlakuan seperti ini. " ucap Nenek. Jenny pun tersenyum.
"Tidak apa-apa, Nek. Saya sudah menganggap Nenek sebagai Ibu saya sendiri. Tidak apa-apakan? " tanya Jenny. Menunjukkan wajah memelasnya. Johan yang ada di sana pun tersenyum. Geleng-geleng kepala karena tingkah laku sang istri yang tidak pernah berubah dari dulu. Mudah sekali berbaur dengan orang yang baru di kenalnya.
"Eh, tapi.... " ucap Nenek bingung harus jawab apa. Nenek pun memilih untuk melihat ke arah Grizella. Meminta bantuan kepada cucunya tersebut. Jaxton yang berada di sana pun ikut bicara. Paham, jika Nenek merasa terusik dengan tingkah Mommynya.
"Mom. Biar Jaxton yang bicara ya. Mommy duduklah di samping Daddy. " ucap Jaxton mengkode Daddynya agar mengurus Mommynya yang super ramah itu.
"Sayang. Sini. " ucap Johan menarik tangan istrinya agar duduk di sebelahnya. Maxim yang juga ada di sana hanya bisa tersenyum melihat Bibinya.
"Jadi, begini, Nek. Kedatangan kami di sini yaitu ingin melamar cucu Nenek untuk menjadi wanita masa depan saya. Saya ingin meminta restu Nenek agar mengizinkan saya untuk meminang cucu Nenek. " ucap Jaxton dengan bijaknya mengambil alih pembicaraan yang seharusnya dilakukan oleh orang yang lebih tua. Karena cintanya membuat Jaxton berani bicara dengan orang yang lebih tua di keluarga Grizella. Jaxton ingin membuktikan keseriusannya dengan Grizella. Tanpa ada perantara di antara hubungan mereka. Nenek yang mendengar ucapan Jaxton yang bijak pun merasa kagum dengan kepercayaan dan keseriusan Jaxton terhadap cucunya. Nenek pun menoleh ke arah Grizella.
"Sayang. Bagaimana denganmu? Apa kamu menginginkan Nenek merestui kalian? " tanya Nenek. Grizella pun mengusap pelan punggung tangan Nenek.
"Jika Nenek merestui. Maka Grizella siap, Nek. " jawab Grizella. Jaxton pun tersenyum mendengarnya. Begitu juga keluarga Jaxton.
"Bagaimana denganmu, Bray? Apa kamu mengizinkan adikmu? " tanya Nenek.
__ADS_1
"Semuanya akan di jalankan oleh Gigi, Nek. Bryan menyetujui apapun keputusan Gigi. " ucap Bryan.
"Kalau begitu mari kita putuskan tanggal pernikahannya. " ucap Jenny antusias.
Di kamar Adellia. Si kembar terlihat sibuk bermain dengan boneka Adellia. Mereka di awasi oleh Jacky. Abang mereka.
"Kakak kenapa masih berdiri di sana. Ini urusan anak perempuan. " dengus Adellia. Entah kenapa Adellia selalu kesal dengan kakaknya yang selalu nempel bila Adellia bersama teman-temannya. Si kembar yang melihat adik kakak itu hanya bisa mengulum senyumannya.
"Kakak di sini di suruh Bibi untuk menemani kalian. Bagaimana sesuatu terjadi pada kalian? " tanya Jacky yang masih menyilangkan kedua tangannya di dada. Berdiri di ambang pintu kamar Adellia.
"Sudah-sudah. Biarkan saja kakak Jack di sana. Kasihan dia sendirian. " Zoe mencoba membuat Jacky kesal.
"Iya benar. Sepertinya kita harus mencarikan kakak teman baru. Agar nanti ia tidak ikut main boneka dengan kita. " ucap Chloe yang membuat anak perempuan yang ada di kamar itu tertawa. Jacky yang menjadi bahan candaan pun mulai kesal. Tetapi, karena sadar sedang di beri tugas untuk menjaga adik-adiknya hanya bisa bersabar. Mencoba menyibukkan dirinya dengan bermain game FF. Permainan yang lagi viralnya itu.
"Ayok serang. Dia ada di balik pohon. Awasss. Aahhh. " ucap Jacky yang sibuk sendiri. Sudah berpindah duduk di sofa yang ada di kamar Adellia. Anak perempuan itu pun terusik dengan suara Jacky. Apalagi suara game yang ia mainkan. Membuat anak-anak perempuan itu bergidik. Entah kenapa, suara tembakan membuat diri mereka takut. Mungkin, jiwa polos mereka tidak menyukainya.
"Kakak. Jangan ganggu kami. Permainan kakak itu berisik. Matikan ponselnya atau keluar dari kamar ini. " perintah Adellia yang sudah berdiri di depan Jacky. Jacky sampai bergidik mendengar suara Adellia yang sudah 5 oktaf itu. Adiknya itu jika sudah angkat suara benar-benar membuatnya takut. Untung adik jika tidakย sudah di jahit itu mulut.
"Kak. Kami sudah bermain. Tapi, suara ponsel kakak bikin bising. Mending pakai earphone dulu. " Zoe mencoba menengahi kakak beradik itu. Entah kenapa, melihat mereka membuat si kembar betah di sana. Walau sering bertengkar tetapi membawa kenyamanan. Berbeda di mansionnya. Mereka hanya berdua seperti biasa. Tidak ada seperti sekarang. Si kembar pun tersenyum melihat kakak beradik itu.
Jacky yang paham dengan ucapan Zoe pun melangkahi kakinya ke meja yang ada di kamar Adellia. Mengambil earphone Adellia yang terletak di sana.
"Iih. Kenapa pakai punya ku. Punya kakak kan ada. Nanti nempel pula kotoran di telinga kakak dong di sana. " Adellia mencoba mengambil lagi barangnya. Tapi Jacky menolak. Membuat si kembar menepuk keningnya karena tidak habis pikir dengan tingkah kakak beradik itu. Mereka tidak habis-habisnya bertengkar.
Kembali ke ruang tamu.
"Baiklah. Semuanya sudah di putuskan. 2 minggu lagi adalah hati pernikahan kalian. " ucap Jenny pada akhirnya setelah merundingkan tanggal pernikahan Jaxton dan Grizella. Bukan perundingan. Lebih tepatnya, Jaxton memutuskan sendiri tanggal pernikahannya dengan Grizella. Jaxton sendiri sudah tidak sabar memiliki Grizella sebagai istrinya. Ibu untuk anak-anaknya.
"Kalau begitu kami pamit dulu. Maaf sudah mengganggu waktunya. " ucap Johan yang sudah berdiri. Semua orang yang ada di sana pun berdiri kecuali Nenek karena punggungnya yang encok.
"Maaf ya karena Nenek tidak bisa antar sampai di depan. " ucap Nenek.
"Tidak apa-apa, Nek. Kalau begitu kami pamit pulang dulu, Nek. " ucap Jenny mencium punggung tangan orang tua itu. Di susul oleh Johan dan juga Maxim.
__ADS_1
"Oh iya, anak-anak dimana? " tanya Jenny.
"Omaaa. kami di sini. " teriak si kembar yang sudah berlari ke arah Jenny.
"Tidak menginap di sini saja. Adel pinjamkan deh baju baru Adel untuk kalian. " ucap Adellia mencoba menahan si kembar untuk menginap di sana. Si kembar pun menatap ke arah Jaxton. Memelas agar Jaxton mengizinkan mereka menginap di sana.
"Bersenang-senanglah. Jangan nyusahin orang. Paham! " ucap Jaxton. Si kembar pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
...INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME ๐...
IG : gx_shi7
Ikuti IG ku yah. Akan ada tampilan visual dari para pameran utama dan pendukung novel ku.
Terima kasih ๐๐
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan ๐๐
By : Nadila Sizy
#Grizella&Jaxton_LFR
__ADS_1