
Pagi harinya Grizella sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tadinya Grizella ingin menjenguk sang nenek namun niatnya tersebut ia tunda karena pihak sekolah tempat ia mengajar menyuruh Grizella untuk bisa hadir hari ini. Hari ini adalah hari pertemuan di mana pihak sponsor sekolah melakukan pertemuan guna melihat kelanjutan pembangunan sekolah tersebut. Pihak sponsor mau melakukan yang terbaik untuk anak-anak yang belajar di sana.
Grizella saat ini tengah memasang blazer berwarna biru langit. Dengan dalaman kaos oblong yang berwarna putih. Terakhir Grizella memakai jam tangan di tangan kirinya. Setelah selesai gadis itu menyambar tasnya lalu berlenggang keluar.
Beberapa menit kemudian, Grizella pun sampai di tempat ia mengajar. Grizella masuk. Menyapa security yang sedang berjalan di depan pintu masuk.
"Pagi Pak Nursa. Bagaimana kabarnya? " tanya Grizella ramah. Pak Nursa tersenyum melihat ke ramahan Grizella.
"Sepertinya yang Ibuk lihat. Saya baik-baik saja. Ibuk bagaimana kabarnya? " tanya balik Pak Nursa. Grizella pun ikut tersenyum.
"Seperti yang kamu lihat juga, Pak. Kalau begitu saya masuk ke dalam ya, Pak. Mari. " seru Grizella membungkukkan badannya memberi hormat kepada orang tua itu. Lalu masuk ke dalam. Saat masuk Grizella berhenti di meja piket. Dimana guru-guru sudah berkumpul untuk bersilah turahmi. Karena belum di berlakukannya jam PBM. Jadi, di meja piket belum ada petugasnya. Disana ada beberapa guru senior dan guru junior disana. Grizella termasuk guru junior karena dirinya baru masuk beberapa tahun yang lalu. Sedangkan, guru senior di sana sudah mengajar semenjak sekolah itu berdiri. Grizella mendekat dengan senyuman di bibirnya. Grizella memang seperti itu. Ramah kepada siapa pun yang di jumpainya. Grizella menyapa guru-guru yang ada di sana.
"Pagi Buk Chris, pagi Buk Merci. " sapa Grizella kepada 2 guru di depannya. Kedua guru itu menoleh dan tersenyum melihat Grizella di sampingnya.
"Pagi juga Buk Grizella. " balas Buk Chris dan Merci.
"Bagaimana liburmu, sayang. Sudah hampir 3 minggu kita tidak ketemuan. " tanya Buk Chris( Buk Chris adalah guru senior di sana. Dia sudah mengajar di sana semenjak sekolah itu di bangun. )
"Yah. Apalah daya kita, Buk. Kita sebagai guru akan merasa bosan jika sudah lama tidak mengajar. Tapi, ibuk tidak perlu khawatir. Selama ini aku menikmatinya dengan anak-anak. " jelas Grizella menyentuh tangan Buk Chris yang juga menyentuh tangan Grizella. Merci yang di samping mereka tersenyum melihat kedekatan 2 orang di depannya.
"Apa aku tidak di anggap di sini. " goda Buk Merci menyilangkan tangannya di dada. Menatap tajam kedua guru di depannya. Grizella dan Buk Chris pun tersenyum.
Pertemuan para sponsor dan pengurus sekolah pun berlangsung. Meja bundar panjang dengan kursi yang sudah di tata serapi mungkin. Grizella bertugas memberikan berkas-berkas yang akan di lihat oleh para sponsor. Ada satu kursi yang masih kosong membuat Grizella mengernyitkan keningnya. Grizella pun mendekati orang sesama guru di sana.
"Pak Gleen. Apa bapak tahu, siapa yang akan mendudukkan kursi itu. Sepertinya dia bukanlah sembarang orang. " tanya Grizella sedikit berbisik. Menunjuk kursi kosong di sana. Pak Gleen hanya tersenyum. Pak Guru muda itu terlihat gemes melihat tingkah imut Grizella. Yah, Gleen sudah dari dulu menyukai Grizella. Namun, dia tidak mempunyai banyak keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Dia hanya mencintai dalam diam gadis yang sedang berada di sampingnya itu.
"Dia adalah orang yang menyumbang dengan dana besar di sekolah kita ini. Karena itu, dia memiliki tempat yang terbaik tentunya. " jelas Gleen yang membuat Grizella manggut-manggut. Namun, kembali menoleh ke arah Gleen. "Tapi, kenapa dia tidak datang. Apa dia terlambat datang ya ? " tanya Grizella lagi.
__ADS_1
Gleen tersenyum. "Dia akan datang sebentar lagi. Kamu tunggu saja. Nanti, saat dia datang kamu langsung berikan berkas itu kepadanya. " jawab Gleen melihat berkas di tangan Grizella. Grizella pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Tidak lama setelah itu datanglah beberapa orang berpakaian jas formal dengan mendominasi warna hitam di tubuhnya. Di tengah mereka seorang pria berperawakan pria latin. Alis tebalnya dan bibir seksinya membuat orang memelototinya dengan penuh kekaguman akan ketampanan pria tersebut. Tubuh tinggi dengan langkah kaki yang mengertakkan hati itu membuat para wanita yang ada di sana menelan ludahnya dengan kasar. Bahkan, gadis yang memegang berkas di tangannya itu tidak bergeming karena melihat kehadiran pria itu. Siapa lagi kalau bukan Jaxton Davinchi. Pria tampan dengan penuh kekayaan itu. Membuat dirinya selalu di incar oleh kaum hawa.
Jaxton pun tersenyum nakal ketika melihat gadis yang sedang memegang berkas itu tidak berpaling darinya. Jaxton duduk di kursinya yang di pandu oleh utusan sekolah. Sedangkan pengawalnya berdiri tepat di belakangnya.
"Hei. " sapa Gleen ketika melihat Grizella yang hanya mematung saja. Gleen menyenggol tangan Grizella agar wanita itu bangun dari lamunannya. " Kenapa kamu diam saja. Berikan berkas itu pada Tuan Jaxton. Dia sudah menunggu dari tadi. " seru Gleen melihat Jaxton dengan ekor matanya. Grizella kaget ketika Gleen membuyarkan lamunannya. Untung Grizella ingat dengan situasi jadi dia kaget dalam diam. Sambil mencubit pinggang Gleen karena sudah berani membuatnya kaget. Sedangkan, Jaxton. Pria itu membara kesal karena Grizella terlihat dekat dengan orang di sampingnya tersebut. Namun, Jaxton tidak menunjukkan kekesalannya tersebut dan lebih memilih diam sambil menatap tajam dua orang yang ada di seberangnya.
Grizella tersenyum canggung ketika mendekati Jaxton. Grizella berdiri tepat di samping Jaxton. Aroma tubuh Jaxton bahkan sampai menusuk ke dalam hidung kecil Grizella. Seketika, Grizella menegang ketika Jaxton dengan sengaja menyentuh jemari tangan Grizella yang sedang memberikan berkas kepada Jaxton. Pria itu tersenyum sesaat ketika Grizella memelototinya. Grizella segera beranjak jauh dari Jaxton ketika dia sudah memberikan berkasnya.
Rapat para sponsor pun selesai setelah beberapa jam bermusyawarah di dalam ruangan meeting sekolah tersebut. Jaxton keluar terlebih dahulu sebelum yang lain keluar. Dia keluar dengan begitu gagahnya. Setiap kali dia melakukan sesuatu selalu membuat mata mengarah kepadanya. Jaxton memasukkan satu tangannya di dalam celananya lalu berlenggang keluar. Sebelum itu, Jaxton menatap ke arah Grizella lalu tersenyum. Kemudian dia melangkahkan kakinya.
Grizella menatap wajah Jaxton sesaat. Lalu berkata di dalam hatinya. Ada apa dengannya. Dari tadi selalu saja menebar pesona. Menyebalkan. Emang apa enaknya tebar pesona begitu. Grizella ikut keluar. Baru beberapa langkah berjalan Grizella pun di panggil oleh seteman gurunya yaitu Buk Merci.
"Grizella. Tunggu sebentar. " teriak Merci mendekati Grizella. Grizella pun menoleh ke belakangnya dimana ia melihat Merci. Merci adalah teman kuliah Grizella sekaligus teman dekatnya. Mereka sudah kenal lama semenjak Grizella baru masuk kuliah. Saat itu waktu PKKMB mereka saling menyapa dan menjadi dekat sampai sekarang. Hingga akhirnya mereka berdua terpilih dan mengajar di sekolah yang sama.
"Tidak ada. Hanya saja kamu meninggalkan ini. " seru Merci menyodorkan sebuah benda pipih ke Grizella.
"Oh astaga. Aku melupakannya. Makasih, Mer. Untung kamu melihatnya. "Santuy. Itu juga karena ponselmu berdering. Kalau tidak, aku juga tidak akan tahu ada ponsel tertinggal di dalam. " jelas Merci. Grizella pun tersenyum dan memeluk temannya.
"Yaudah. Karena tidak ada acara lagi. Bagaimana kalau ki.... "ucap Grizella menggantung karena seorang pria bertubuh kekar menghampiri 2 wanita cantik itu.
"Maaf, para Nona. Apa saat ini saya sedang berbicara dengan Nona Grizella? " tanya pria itu menoleh ke arah Grizella. Pria itu adalah orang suruhan Jaxton. Dia mengatakan kepada pengawalnya untuk mencari Grizella. Wanita yang memakai blazer Biru langit dengan kaos oblong warna putih.
"Iya! Saya sendiri. Ada apa ya? " tanya Grizella bingung.
Mengkerutkan keningnya menatap pria tinggi di depannya.
__ADS_1
"Tuan kami ingin bertemu dengan anda. Mohon ikut dengan saya, Nona. " seru pria itu.
"Tapi saya ber.... " ucap Grizella menggantung karena Merci sudah mendorong Grizella untuk pergi bersama pria di depannya.
"Eh Mer! Kenapa kamu mendorong ku? " tanya Grizella bingung.
"Udah. Kamu pergi saja dengannya. Aku akan mengantarmu ke depan. " balas Merci. Merci tahu saat ini Jaxton sedang menunggu Grizella. Merci tahu Jaxton menunggu Grizella karena saat Merci mendapatkan ponsel Grizella di ruang rapat, dia melihat ID Jaxton sedang menghubungi temannya tersebut.
.
.
.
.
.
Bersambung.
IG : gx_shi7
Terima kasih 😊😊
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan 😚😘😙
By : Nadila Sizy
__ADS_1
#Grizella&Jaxton_LFR