Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy

Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy
Jaxton took a chance


__ADS_3

Happy Reading readers 🌼🌼🌼


Jangan lupa like dan komentarnya ya🌻🌻🌻


Terima kasih 🌸🌸🌸


••••


Grizella membawa Jaxton ke kamar. Meletakkan dengan hati-hati pria pembohong itu di atas kasur. Mendudukkan Jaxton di kasurnya. Lalu Jaxton memilih bersandar di kasurnya. Grizella pun menyelimuti Jaxton hingga ke paha pria itu.


"Apa kamu butuh sesuatu? " tanya Grizella berdiri di samping kasur Jaxton.


"Emm. Aku butuh air minum. " jawab Jaxton tersenyum.


"Baiklah. Aku akan ke dapur dulu. Kamu tunggulah sebentar ya. " ucap Grizella yang langsung pergi ke dapur.


Setelah Grizella pergi ke dapur. Jaxton langsung meregangkan ototnya. Merilekskan tubuhnya yang jarang bergerak karena sandiwara yang telah dia lakukan di depan Grizella. Andai Grizella tahu yang sebenarnya. Entah apa yang akan dia jelaskan pada gadis itu. Benar-benar kelakuan yang tidak patut dilakukan. Berpura-pura sakit hanya untuk mendapatkan perhatian seorang gadis yang di sukainya.


Jaxton dengan cepat merubah posisinya seperti semula karena mendengar langkah kaki yang mendekat ke kamarnya. Ya, Grizella masuk dengan membawa nampan yang sepertinya ada sepiring nasi. Jaxton pun berdehem.


"Kamu bawa apaan tuh? " tanya Jaxton. Melirik nampan yang di bawakan Grizella.


"Aku pikir kamu mau makan sesuatu. Jadi aku membawakan buah-buahan yang sudah di kupas oleh pelayan yang ada di dapur tadi. Makanlah. " ucap Grizella.


"Aku tidak bisa melakukannya. " jawab Jaxton melihat ke arah tangannya. Grizella pun menghela napasnya.


"Baiklah. Aku akan menyuapi kamu. " Grizella duduk di samping kasur Jaxton. Jaxton pun tersenyum. Bersorak ria di hatinya.


"Air. " ucap Jaxton. Grizella pun mengambilkan air putih untuk Jaxton. Dengan sabar Grizella melayani Jaxton. Entah kenapa Grizella merasa bertanggung jawab sekali atas kesembuhan Jaxton kali ini. Karena kecelakaan Jaxton di sebabkan olehnya. Jika saja Jaxton tidak menyelamatkannya maka pasti dia yang akan berada di posisinya Jaxton saat ini.


Tidak terasa hari sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Grizella masih setia menemani Jaxton di dalam kamarnya.


"Apa kamu kelelahan? Kamu ingin tidur sekarang? " tanya Jaxton. Grizella pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Kamu boleh istirahat sekarang. Tidurlah di kamar anak-anak. Kamarnya tepat di samping kamar ini. " ucap Jaxton.


"Apa aku bisa meninggalkan kamu sendirian? Bagaimana kalau kamu butuh sesuatu nanti? " tanya Grizella.


"Aku bukanlah anak kecil lagi. Jika aku butuh sesuatu aku akan memanggilmu. " ucap Jaxton tersenyum. Grizella pun tersenyum menanggapi.

__ADS_1


"Baiklah. Aku keluar dulu. Aku akan siap siaga mendengarmu memanggilku. " Grizella pun berdiri dan mulai berlenggang ke kamar anak-anak.


Setelah Grizella pergi. Jaxton pun turun dari tempat tidurnya. Jaxton langsung melakukan pemanasan di tubuhnya. Ada rasa sakit di pinggangnya tapi masih bisa dia kontrol. Jaxton tidak selemah yang di pikirkan orang. Dirinya sudah dari dulu di latih untuk tetap kuat dan sehat bugar. Olah raga yang dia lakukan setiap pagi membuat tubuh Jaxton sehat selalu. Sangat jarang Jaxton sakit seperti orang biasa pada umumnya. Lecet sedikit di tubuhnya tidak berarti apa-apa bagi Jaxton. Tapi, ada hal yang sulit dia lakukan yaitu selalu dekat dengan Grizella. Alhasil, Jaxton mengambil kesempatan akibat kecelakaan untuk dekat dengan Grizella. Setidaknya, untuk beberapa hari ke depan dia bisa membuat Grizella jatuh hati padanya.


"Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu beberapa hari ke depan. Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku. " lirih Jaxton menoleh ke pintu keluar kamarnya.


Di tempat lain. Seila terlihat memanung di balkon kamarnya. Air matanya tidak bisa di bendung lagi. Hatinya sungguh sakit. Bayangan dirinya bersama Edison terlintas di pikirannya. Selalu ada suka dan duka yang mereka jalani bersama. Tapi, entah kenapa duka kali ini membuat dirinya tidak mampu melakukan apa-apa. Dirinya tidak kuat menahan rasa sakit yang datang secara tiba-tiba di kehidupannya.


Tiba-tiba pelukan hangat dari belakang. Membuat jantungnya berdetak kencang. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Seila memilih menundukkan kepalanya. Tidak mau bersitatap dengan orang yang ada di belakangnya.


"Aku tidak bisa tidur sendirian, yank. " seru Edison menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Seila. Seila pun menangis dalam diam. Tidak mau menjawab ucapan suaminya.


Edison kembali memeluk erat Seila. Mencium leher wanita itu. "Temanin aku tidur, yank. " ucap Edison. Seila tidak bisa menahan lagi. Seila  pun berbalik dan melepaskan pelukan Edison.


"Aku ingin tidur sendiri. Kamu bisa tidur di sini. Aku akan tidur di kamar tamu. " ucap Seila pergi meninggalkan Edison. Tapi, dengan cepat Edison mencengkal tangan Seila.


"Maafkan hubby, yank. Hubby menyesal telah melakukannya. Hubby tidak akan mengulangi lagi hal yang sama ke depannya. Hubby mohon. Maafkan hubby, yank. " lirih Edison. Menatap sendu wajah sang istri.


Seila melepaskan pegangan tangan Edison. Seila pun berjalan ke meja riasnya. Edison pun memperhatikan pergerakan Seila. Menatap bingung sang istri.


Seila pun kembali ke arah Edison. Menatap datar wajah sang suami. Seila pun menjatuhkan cermin yang dia ambil di meja rias tadi. Melemparkannya ke lantai. Edison pun membulatkan matanya. Dengan cepat Edison menghampiri Seila lalu mengendong wanita itu ke sofa.


"Hubby. Seperti cermin itulah diriku saat ini. Cermin yang pecah berkeping-keping tidak akan bisa lagi di satukan. Aku tidak akan bisa kembali kepadamu, By.  Tidak bisa lagi. " ucap Seila sendu. Edison pun mengelengkan kepalanya.


"Tidak, yank. Maafkan hubby. Beri hubby satu kesempatan lagi. Hubby mohon. Maafkan hubby, yank. " Edison memeluk erat Seila. Seila tidak membalas pelukan Edison. Membuat Edison melepaskan pelukannya lalu menatap wajah sang istri.


"Hubby. Aku tidak ingin rumah tangga kita hancur. Aku tidak ingin juga egois. Aku juga ingin rumah tangga ini selalu terikat sampai maut yang memisahkan kita. " ucap Seila dengan tatapan yang mengiba. Edison tidak bisa menjawab. Hanya diam menunggu ucapan Seila berikutnya.


"Karena itu, aku akan berusaha untuk menerima semua yang telah hubby lakukan selama ini di belakangku. Aku ingin memulai semuanya kembali. Menerima semua yang telah hubby lakukan padaku. " dengan cepat Edison memeluk sang istri ke pelukannya. Memeluk erat, tidak mau agar sang istri menjauh darinya.


"Makasih, yank. Maafkan hubby karena sudah menyakitimu. Hubby janji tidak akan mengulanginya lagi. " Ada air mata jatuh di pipi Edison. Air mata kebahagiaan membanjiri pipinya. Seila mendorong tubuh Edison.


"Bagaimana dengan anak itu. Aku tidak ingin membagi hubby dengan wanita itu. Aku lebih memilih untuk mundur dari pada menyakiti hati seorang anak kecil yang butuh sosok ayahnya. " Seila menatap datar Edison. Edison pun mengelengkan kepalanya.


"Hubby tidak ada hubungan apapun dengannya, yank. Hanya kamu istri hubby. Anak itu akan hubby rawat dan mencukupi semua kebutuhannya sampai dia bosan dengan semua yang telah hubby berikan. " ucap Edison.


"Itu tidak mungkin, By. Anak seumurnya membutuhkan sosok Mommy di sampingnya. Dia tidak akan mau berpisah dengan Mommynya. Hubby harus melakukan sesuatu agar anak itu tidak terluka karena kita. " ucap Seila. Edison pun tersenyum lalu mengusap lembut kepala Seila.


"Apa yang hubby senyumkan? " tanya Seila.

__ADS_1


"Apa kamu mau jadi Mommynya. Menjaganya seperti anakmu sendiri ? " tanya Edison. Seila pun menatap heran Edison.


"Maksud hubby?  " tanya Seila.


"Hubby akan membawanya ke sini. Kita akan menjaganya. Mendidiknya jadi anak yang baik ke depannya. " Edison tersenyum mengatakannya.


"Bagaimana dengan Mommynya. Apa anak itu akan mau tinggal bersama kita? " tanya Seila.


"Kamu tenang saja. Serahkan semuanya pada Hubby. Sekarang mari kita tidur. Hubby merindukanmu. " ucap Edison menuntun Seila ke kasur mereka. Edison sudah sangat merindukan pelukan Seila saat mereka tidur. Beberapa hari ini sudah membuat Edison seperti pria yang sangat menyedihkan.


"Tidurlah. Hubby akan mengurus segalanya besok. Kali ini hubby sangat merindukan pelukanmu. " Edison tidur di kasurnya. Setelah membaringkan Seila di tempat tidur. Edison pun menarik tubuh Seila kepelukannya. Membenamkan wajahnya di leher sang istri. Edison merasa nyaman di samping istrinya.


"Aku mencintaimu, istriku. " lirih Edison di saat Seila sudah mulai memeluk Edison. Seila mencoba untuk menerima lagi semua yang ada pada diri Edison. Membentuk kembali keluarga kecilnya.


.


.


.


.


.


Bersambung.


IG : gx_shi7



Ikuti IG ku yah. Akan ada tampilan visual dari para pameran utama dan pendukung novel ku.


Terima kasih 😊😊


Jangan lupa dukungannya yah kesayangan 😚😘


By : Nadila Sizy


#Grizella&Jaxton_LFR

__ADS_1


__ADS_2