Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy

Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy
Expression of Jaxton's feelings


__ADS_3

Happy Reading readers 🌼🌼🌼


Jangan lupa like dan komentarnya ya🌻🌻🌻


Terima kasih 🌸🌸🌸


β€’β€’β€’β€’


Angin sore hari membawa ketenangan bagi setiap insan yang baru saja balik dari kerjanya. Ada yang menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya di taman. Ada yang mengajak anak-anaknya keliling kompleks. Ada yang sedang berolahraga di sekitaran taman. Dan masih banyak lagi yang dilakukan oleh para insan tersebut.


Lain halnya dengan pasangan yang ada di dalam mobil. Kesunyian dan juga kecangungan mendekati mereka. Tidak ada pembicaraan selama mereka memasuki mobil. Jaxton tiba-tiba saja kehilangan kata-kata di depan gadis yang ada di sampingnya saat ini. Entah apa yang terjadi tapi sulit baginya untuk membuka topik pembicaraan. Lain lagi dengan Grizella. Gadis itu memang pada dasarnya acuh dan tidak pekaan dengan situasi. Grizella hanya melihat dan menoleh ke arah jendela mobil. Mengacuhkan pria di sampingnya seperti patung yang tidak bisa di ajak bicara atau sekedar berkeluh kesah atau pun menatapnya sedikit pun.


Jaxton pun memutuskan untuk memberanikan dirinya. Tangannya mengepal kuat di setir mobil. Mencoba memberanikan dirinya.


"Emm, itu. Apa semuanya baik-baik saja? " Jaxton menatap sekilas Grizella.


"Nanti saja. Aku tidak mau berakhir di mobilmu. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi. " entah kenapa, hati Jaxton seperti terbelah 2. Karena Grizella tiba-tiba saja membuatnya bungkam tanpa berkutip.


Jaxton pun kembali fokus melihat ke depan. Sampai akhirnya mobil Jaxton berhenti tepat di depan apartemen Grizella.


"Kamu tunggu di sini. Aku akan membukakan pintu mobil untukmu. " Jaxton turun secepatnya. Grizella pun menunggu Jaxton di dalam.


"Silahkan. " Jaxton membukakan pintu mobilnya untuk Grizella.


"Terima kasih. " Grizella tersenyum. Jaxton pun kembali menutup pintu mobilnya. Saat dia hendak membalikkan badannya. Betapa terkejutnya Jaxton karena melihat motor berjalan kencang ke arah Grizella.


"Awas. " teriak Jaxton menarik tangan Grizella lalu mendorongnya ke tepian. Grizella terkejut karena Jaxton sudah tergeletak di aspal.


"Apa yang telah kamu lakukan? Kenapa kamu mengorbankan dirimu sendiri! " Grizella meletakkan kepala Jaxton di pangkuannya. Jaxton tersenyum di sela-sela rasa sakitnya.


"Kamu bersabarlah. Aku akan memanggil bala bantuan. " ucap Grizella. Disaat Grizella memanggil bala bantuan. Jaxton sudah tidak sadarkan diri. Lengan dan pinggang bagian kirinya terlihat berdarah.


"Tolong, Paman. Teman saya kecelakaan. " ucap Grizella ketika melihat beberapa orang tua sedang melewati apartemen Grizella.


"Kamu sadarlah. Jangan buat aku merasa bersalah karena ini. Aku mohon, sadarlah. Sadarlah, Jaxton. " kali pertama Grizella memanggil nama Jaxton. Tidak seperti biasanya yang mana Grizella memanggil aku dan kamu. Tanpa sadar ada air mengalir di kedua pipi Grizella. Air yang terus mengalir tanpa henti.


Grizella membawa mobil Jaxton. Meminta bantuan kepada para paman tadi untuk membawakan mobil Jaxton. Sedangkan Grizella sedang memangku kepala Jaxton di pahanya. Ada tetesan air mata yang tiada henti-hentinya. Paman yang mengendarai mobil melihat hal itu.


"Tenanglah, Nona. Tuan ini pasti baik-baik saja. Berdoalah jika hal buruk tidak akan menghampirinya. " ucap paman itu. Grizella tidak menjawab namun ada anggukan di kepalanya. Bibirnya kali ini teras kelu. Tubuhnya tidak berani bergerak barang sedikit pun. Mencoba berhati-hati agar tidak menambah luka di tubuh Jaxton yang mungkin berakibat fatal nantinya.


Setelah beberapa saat akhirnya mobil Jaxton sudah berada di depan rumah sakit terdekat. Grizella tidak berani bergerak. Tubuhnya terasa baku di tempat. Sampai akhirnya paman yang tadi memanggilkan perawat dan membantu Grizella mengangkat Jaxton ke atas brankar.


"Apa yang terjadi pada pasien. " perawat itu bertanya pada Grizella. Grizella masih tidak bisa berbicara sampai akhirnya perawat itu sedikit berteriak membuat lamunan Grizella terbuyarkan.


"Apa yang terjadi pada pasien?Β  " perawat itu kembali bertanya karena Grizella terlihat tidak fokus tadi.


"Emm. Dia kecelakaan motor. " Grizella gemetaran saat mengatakannya.


"Baiklah. Bawa pasien ke ruang UGD. Pasien butuh pelayanan utama saat ini. Kita tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. " jelas perawat itu pada teman-temannya. Grizella pun mengikuti brankar Jaxton yang di dorong tersebut. Dan langsung saja seorang dokter masuk dan menghampiri brankar Jaxton.


"Apa yang telah terjadi kepada pasien? " tanya dokter itu.


"Pasien kecelakaan motor, dok. " ucap perawat tersebut.

__ADS_1


"Baiklah. Bawa dia masuk ke dalam UGD. Dan bawakan semua pelengkapannya. " ucap dokter itu.


"Mohon keluarga menunggu di luar. " ucap seorang suster karena melihat Grizella yang ikut masuk ke dalam.


"Tapi sus...."


"Mohon kerja samanya, Nona. " ucap suster itu. Grizella pun terdiam di depan pintu UGD. Mencoba mengintip Jaxton dari luar. Tapi sayang, pintunya tidak tembus pandang. Membuat Grizella semakin di hantui rasa bersalah.


Karena rasa cemasnya membuat Grizella lupa diri. Dirinya terlihat pucat karena belum ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Grizella hanya terfokus kepada Jaxton sekarang ini. Bahkan, untuk mengabari Mommy Jaxton saja Grizella tidak terpikirkan.


Sampai akhirnya dokter sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya. Dengan darah yang sudah berserakan di baju putihnya.


"Bagaimana dengan keadaan teman saya, dok? Dia tidak apa-apakan? Dia baik-baik saja kan? " tanya Grizella berturut-turut. Tanpa ada jeda. Bahkan, ritme bicaranya campur aduk. Ada rasa cemas dan juga rasa khawatir.


"Pasien tidak apa-apa. Syukurlah pasien di bawa cepat ke sini. Kalau begitu, saya pamit dulu. " ucap dokter itu. Meninggalkan Grizella yang sendirian di luar. Grizella mencoba mengintip dari luar. Tapi, nihil. Grizella tidak bisa melihat Jaxton.


"Semua ini gara-gara aku. Jika saja dia tidak mendorong ku. Pasti dia baik-baik saja. " Grizella gemetaran. Tangannya tidak mampu lagi memegang tangannya yang lain.


Kembali dokter yang memeriksa Jaxton tadi datang lagi. Dia masuk ke dalam ruang UGD. Beberapa saat setelah itu, Jaxton keluar dengan beberapa perawat dan suster yang mendorong brankar nya. Grizella memperhatikannya.


"Apa yang terjadi pada teman saya, dok? " tanya Grizella. Grizella sudah kehilangan akalnya. Tidak bisa berkonsentrasi saat ini.


"Tenanglah, Nona. Pasien sudah di pindahkan ke ruang inap saja. " ucap dokter itu. Grizella terlihat menghela napasnya, lega.


"Syukurlah. "


"Apa keluarga pasien tidak ada? " tanya dokter itu. Grizella pun tersadar. Dia lupa memberikan kabar perihal kecelakaan Jaxton kepada keluarga Jaxton. Grizella pun merogoh tasnya. Mencari di mana letak ponselnya. Grizella tersadar bahwa tasnya tertinggal di dalam mobil. Grizella pun memutuskan pergi ke mobilnya.


"Ini dia. Aku harus mengabarkan pihak keluarganya. " lirih Grizella. Grizella menekan nomor ponsel si kembar.


"Terima kasih, Paman. Karena sudah membantu teman saya tadi. " ucap Grizella memberikan rasa hormatnya.


"Ternyata teman ya. Saya pikir suaminya. Kalau begitu saya pamit dulu. " ucap Paman tadi. Grizella hanya diam membisu ketika mendengar ucapan paman tadi.


Grizella kembali ke tempat rawat inap Jaxton. Memasuki ruangan Jaxton di rawat. Grizella membuka pelan-pelan pintu masuk. Mendapati Jaxton yang terdiam di atas ranjang rumah sakit. Ada air mata yang jatuh di pipi Grizella. Grizella pun duduk di samping ranjang Jaxton. Grizella menangis. Tidak kuat melihat keadaan Jaxton.


"Ini semua gara-gara aku. Jika saja kamu tidak menolongku. Kamu tidak akan seperti ini. Maafkan aku, maafkan aku. " lirih Grizella. Grizella menundukkan kepalanya. Hingga air mata Grizella membasahi lengan Jaxton yang ada di depannya. Jaxton pun mengerakkan tangannya. Grizella melihat hal itu. Grizella pun menegakkan kepalanya.


"Kamu sudah sadar. Apa ada yang sakit? Apa kamu butuh sesuatu? " Grizella berturut-turut mengatakan hingga nafasnya tak teratur. Jaxton pun tersenyum.


"Bernafaslah gadis bodoh. " Jaxton membuat Grizella terdiam. Baru kali ini Jaxton seperti itu padanya. Mengatakan dirinya bodoh. Hal itu membuat Grizella menangis lebih kencang dari yang tadi.


"Hei! Aku baik-baik saja. Kenapa reaksimu segitunya, hem. " ucap Jaxton tersenyum.


"Semua ini gara-gara kamu. Jika kamu membiarkan aku di tabrak. Kamu tidak akan seperti ini. " ucap Grizella memukul bahu Jaxton. Pria itu meringis. Menahan sakit di bagian lengannya.


"Maaf, maaf. Apa aku membuat lukanya semakin parah ya? " tanya Grizella.


"Sepertinya begitu. " bohong Jaxton.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. " ucap Grizella merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Apa kamu baik-baik saja? " tanya Jaxton.

__ADS_1


"Kamu yang tidak baik-baik saja. Kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu membiarkan dirimu di tabrak tadi. Harusnya kamu biarkan saja aku sendirian. " Grizella terlihat menahan air matanya.


"Dan aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku tidak ingin kamu terluka. Aku akan melindungimu bagaimana caranya. Aku ikhlas melakukannya. Agar kamu bisa kasihan padaku dan bisa di dekatku seperti sekarang ini. " Jaxton tersenyum.


"Itu tidak lucu. Lain kali jangan ulangi hal itu lagi. " Grizella menyeka air matanya.


"Aku tidak bisa melakukan hal itu. Karena aku akan selalu melindungimu. "


"Kenapa! Kenapa kamu harus melakukannya. Aku bukanlah siapa-siapa kamu! "


"Karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu di pandangan pertama kita bertemu. Aku sudah mengatakannya saat itu. Tapi, sepertinya kamu menganggap remeh hal itu. Apa kamu tidak mempercayai ketulusan ku yang saat ini? " tanya Jaxton. Grizella mematung di tempatnya. Tidak tahu harus menjawab apa lagi. Dilihatnya mata Jaxton. Ada ketulusan di sana.


"Emm. Aku mau ke toilet sebentar. Kamu tunggulah di sini. " Grizella hendak pergi.


"Jangan lari dari kenyataan. Aku tulus mencintaimu. Apa barusan kamu telah menolakku? " tanya Jaxton.


"Emm. Tidak. Eh bukan begitu. Aku...." ucap Grizella berbelit-belit yang intinya ia juga memiliki perasaan terhadap Jaxton. Karena di awal jawaban Grizella menjawab Tidak. Yang berarti Grizella ada perasaan padanya.


"Baiklah. Kamu bilang ingin ke toilet kan. Pergilah. " ucap Jaxton. Jaxton sudah puas dengan jawaban Grizella. Grizella pun berlenggang ke kamar mandi. Di saat kepergian Grizella. Jaxton pun tersenyum.


"Aku tahu. Kamu sudah memiliki perasaan terhadapku. Jawabanmu tadi sudah cukup membuat hatiku lega sekarang. Setidaknya hanya satu langkah lagi. Maka, aku akan memilikimu seutuhnya. " lirih Jaxton.


#Author


Mau bilang, ini 1500 kata loh. Itu tidaklah mudah dalam membuat jalan ceritanya. Jadi, jangan lupa dukungannya yah :)


Uni mau bilang bahwa janji akan doble up sudah Uni tepati. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah memberikan votenya.


Selanjutnya akan ada doble up lagi jika teman-teman semakin kencang votenya. Besok akan doble up jika votenya bertambah ya :). Jika tidak akan up seperti biasa yaitu 1 eps. Jika votenya lebih akan Uni up lebih juga :). TERIMA KASIH :)


Oh iya, ikuti IG Uni dong. Disitu ada Visual - visual para tokoh utama novel Uni. Mereka cantik2 dan juga ganteng2 tentunya. Nanti boleh sharing dan tanya jawab di sana ya.


INGAT! SIMBIOSIS MUTUALISME


.


.


.


.


.


Bersambung.


Follow IG Uni ya : gx_shi7


Terima kasih 😊😊


Jangan lupa dukungannya yah kesayangan πŸ˜šπŸ˜˜πŸ˜™


By : Nadila Sizy

__ADS_1


#Grizella&Jaxton_LFR


__ADS_2