
Kursi goyang tengah bergoyang oleh hentakan kaki seorang nenek. Dia tengah bersenandung lagu romansa klasik. Matanya menatap burung-burung yang sedang berkumpul bersama keluarganya. Nenek itu tersenyum lalu menoleh ke arah suara bising dari dalam rumahnya.
Dilihatnya dua anak kecil tengah berebut mainannya. Mereka seolah-olah tidak mau mengalah untuk mendapatkan mainan di tangan mereka. Tapi, mereka tidak main kasar. Hanya saling menatap dengan sindiran dari wajahnya yang terlihat jelas.
"Jack. Adelia. Jangan berantem terus. Sini . " seru nenek itu. Menyuruh 2 anak kecil tersebut untuk mendekatinya.
"Nek. Kak Jack pelit. Dia bahkan tidak mau meminjamkan Adel mainannya. " Seru Adellia cemberut. Jacky hanya bisa memutar bola matanya ke kanan. Lalu menatap tidak percaya terhadap sikap Adellia yang sok imut di depan sang nenek. Jacky hanya bisa melipat tangannya di dada lalu berharap sang nenek memahami kondisinya sekarang.
Namun, sang nenek hanya bisa tersenyum. Sang nenek pun mengambil mug yang ada di sampingnya lalu menyeruput kopi handal buatannya yang sudah turun temurun dari nenek sebelumnya. Dia membiarkan sebentar 2 anak kecil di depannya sembari menikmati rasa kopi buatannya.
"Sudah bertengkarnya? " tanya sang nenek
Dua anak kecil itu hanya diam sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Mereka tidak mau menatap satu sama lain. Memilih untuk melihat ke arah yang lain.
Sang nenek pun menghela napas melihat kedua cucunya dan kembali menyeruput kopi buatannya sampai habis.
"Kalian berdiri di sini selama 2 jam. Tidak ada yang boleh beranjak sedikit pun. Kenali kesalahan kalian masing-masing. Nenek mau istirahat dulu. Jika ada yang bergerak, kalian tahu kan apa yang akan terjadi. " seru Sang nenek beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan dua bocah tersebut.
Yah, sang nenek mengancam dua bocah itu. Bahwa kalau ada yang melanggar perintah Nenek maka 1000 ekor ulat bulu akan bergantungan di tubuhnya. Hal itu membuat dua bocah ini takut untuk melanggar perintah sang nenek. Mereka tidak tahu bahwa itu hanyalah omong kosong belaka. Namun, mereka malah mempercayai ucapan sang nenek.
"Nenek tidak. Itu terlalu lama. Nenekkkk ! " teriak kedua bocah itu yang tidak di indahkan oleh sang nenek. Kedua bocah itu pun mengerucutkan bibirnya. Menatap tidak suka satu sama lain. Mereka pun saling berpaling setelah mata mereka bertatapan.
Di tempat lain di waktu yang sama. Grizella membawa si kembar ke sebuah acara mingguan yang diadakan oleh pihak RT setempat. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul setengah 1 siang. Sebelum membawa si kembar ke acara itu. Grizella mengajak si kembar untuk membeli ice cream. Mereka masuk ke sebuah minimarket terdekat yang ada di sana.
"Kalian mau ice cream rasa apa? " tanya Grizella antusias.
"Anggur. " seru Chloe.
"Taro. " seru Zoe.
__ADS_1
Si kembar mengatakannya serentak. Membuat Grizella tersenyum.
"Baiklah. Kalian tunggu sebentar yah. " seru Grizella. Gadis itu membuka pintu frizer. Dan langsung mengambil pesanan si kembar. "Nih. "Memberikan ice cream itu kepada si kembar. " Apa kalian mau sesuatu lagi? " Tanya Grizella menoleh ke arah si kembar. Si kembar pun menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih mommy. Kata Daddy kita tidak boleh terlalu boros. Nanti cepat tua. Jadi, untuk saat ini kami hanya ini saja. " seru Chloe mewakili dirinya yang sebagai kakak dari si kembar.
Grizella tersenyum mendengar ucapan Chloe yang seperti orang dewasa. Mereka telah besar dan tumbuh bersama orang yang tepat.
"Baiklah. Kalau begitu ayuk kita ke pos. " seru Grizella semangat.
Sudah hampir dua jam lamanya. Akhirnya si kembar bisa meregangkan ototnya. Grizella yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Tidak habis pikir terhadap si kembar.
Mana bisa kalian seperti itu. Kami yang sibuk dan kalian yang lelah. Geleng-geleng kepala melihat si kembar.
"Yaudah. Hari sudah mulai sore. Mari kita pulang lagi. " ajak Grizella mengulurkan tangannya. Si kembar pun mendekat dan menggenggam tangan Grizella. Mereka berangkat dengan hati yang riang gembira.
"Chloe, Zoe. " teriak seseorang yang sudah berada di pinggir jalan raya. Berdiri tegak. Menyilangkan tangannya di dada. Bersandar di pintu mobil. Ikut menyilangkan kakinya. Menatap tajam dua anak kembar yang sudah berjalan pelan ke arahnya.
Jaxton tidak mengubrisnya dan memilih menatap wajah Grizella. "Bisa kita bicara sebentar." Grizella hanya diam. Tapi tidak menolak ajakan Jaxton. Grizella sendiri tidak tahu harus berkata apa. Karena yang dia tahu bahwa si kembar pergi sudah dapat restu darinya.
"Kalian masuk ke mobil. Jangan lihat keluar ataupun mendengar percakapan kami. " seru Jaxton membukakan pintu mobil untuk si kembar. " Tidak boleh membantah. Kalian tahu, Daddy sudah mencari kalian dimana-mana. " tahu si kembar akan merengek kepadanya. Si kembar hanya bisa diam dan berharap Jaxton tidak marah kepadanya.
Jaxton pun menoleh ke arah Grizella. Memberikan senyuman melalui bibirnya. Jaxton melangkah mendekati Grizella. Mereka berdua pun berdiri dengan saling berhadapan.
"Apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa. Apa kamu sehat-sehat saja belakangan ini? " tanya Jaxton dengan lemah lembut. Grizella terdiam. Tidak percaya terhadap apa yang dia dengar. Padahal mereka baru berpisah tadi malam kenapa Jaxton berpikir bahwa mereka sudah lama tidak berjumpa pikir Grizella. Dia pun tersenyum canggung. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Emm. Itu, aku baik-baik saja. Kamu gimana, sehat juga kan ? " Grizella berusaha mengusir kecangungannya. Jaxton tersenyum mendengar kepedulian Grizella terhadapnya.
"Seperti yang kamu lihat. Apa kita bisa pulang sekarang ? " tanya Jaxton membukakan pintu depan mobilnya untuk Grizella. Grizella mau tidak mau hanya bisa menerima ajakan Jaxton karena dua anak kembar itu juga sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Terima kasih. " seru Grizella ketika Jaxton membukakan pintu mobil untuknya. Jaxton membalasnya dengan senyuman di bibirnya.
Jaxton langsung masuk ke dalam mobil setelah melihat gadis itu sudah duduk dengan nyaman. Dia mengitari mobilnya lalu duduk di kursinya. Dia menoleh ke samping karena melihat gadis itu kesusahan memakai sabuk pengaman nya.
"Sini. Biar ku bantu. " Jaxton mendekat. Membuat jarak mereka terkikis. Hembusan nafas Jaxton terasa di pipi halus Grizella. Gadis itu berusaha menahan nafasnya agar Jaxton tidak mendengar detakkan jantungnya yang berdetak kencang. Wajahnya merona melihat wajah Jaxton yang ada tepat di depannya. Bahkan jaraknya hanya sekitar 5 cm saja.
"Bernafaslah. Apa kamu lupa caranya bernafas. " seru Jaxton yang sudah duduk nyaman di kursinya. Dia melihat Grizella mematung dengan menahan nafasnya. Tersenyum melihat wajah merona gadis itu.
"Apa mommy baik-baik saja. Apa Daddy melakukan sesuatu kepada mommy ? " tanya si kembar. Memegang bahu Grizella dari belakang. Membuat gadis itu jadi salah tingkah.
"Sudah. Jangan buat mommy kalian tidak nyaman. kembalilah ke tempat duduk kalian. Pasang sabuk pengaman kalian dan duduklah dengan manis. " seru Jaxton. Pria itu tahu saat ini garis di sampingnya bingung menjawab pertanyaan si kembar
.
.
.
.
.
Bersambung
Terima kasih 😊😊
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan 😚😘😙
By : Nadila Sizy
__ADS_1
#Grizella&Jaxton_LFR