
Di dalam mobilnya, Smith terlihat melamun ketika mengendarai mobilnya. Entah kenapa, melihat reaksi Daddynya sore tadi membuatnya mencemaskan sesuatu. Mencemaskan sesuatu yang tidak tahu apa masalahnya. Namun, ada ketakutan di hatinya.
Smith tidak fokus mengendarai mobilnya, hingga akhirnya Smith hampir saja menabrak kucing yang melintas di jalanan. Mobil Smith berhenti tepat di depan sebuah kafe. Smith pun memutuskan untuk minum kopi di sana. Smith langsung saja memarkirkan mobilnya di depan kafe tersebut.
Smith memilih duduk di sebuah kursi yang ada di sudut kafe itu. Sudah hampir satu jam lamanya. Smith pun memutuskan untuk pergi ke apartemen Catty. Saat hendak berdiri mata Smith menangkap sebuah pemandangan yang tidak menyenangkan hatinya. Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Terlihat dari urat-urat lehernya yang berbaris di sekitaran leher.
Smith hendak melangkah namun kakinya di jegat oleh kehadiran Grizella di sana. Grizella juga masuk ke dalam kafe tersebut. Smith pun memilih untuk tetap di posisinya. Melihat 3 orang yang berdiri tidak jauh dari tempat kasir kafe.
"Catty! Kamu di sini juga? " tanya Grizella menghampiri Catty yang sedang bersama pria di sampingnya. Catty terlihat mesra dengan pria itu. Terlihat dari caranya yang bergelayut manja dengan pria tersebut. Catty menoleh ke belakangnya. Melihat Grizella di belakangnya membuat Catty terkejut.
"Grizella. Ada apa kamu di sini? Apa kamu mau pesan kopi di sini juga? " tanya Catty gugup.
"Yah, ini adalah tempat favoritku. Tapi aku tidak pesan kopi. Aku mengantarkan pesanan. Disini aku menjual kopi yang sudah aku racik. " jawab Grizella tersenyum.
"Jadi, kopi di sini buatan kamu. Wow, hebat kamu yah. Kopi di sini enak tahu. Aku tidak menyangka kamu yang membuatnya. " ucap Catty mengagumi kehebatan Grizella. Kekaguman ini benar adanya. Catty memang menikmati kopi yang ada di kafe ini. Jika dia tahu Grizella yang membuat racikan kopi tersebut. Dia tidak akan susah payah keluar hanya untuk menikmati kopi di sana. Mending minta sama Grizella pikirnya.
"Oh iya, dia siapa? " tanya Grizella. Grizella bingung, apa hubungan Catty dengan pria di samping Catty. Mereka terlihat mesra jika berduaan.
"Bukannya kamu dengan...? " lanjut Grizella ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Kamu salah paham, Gi. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Smith. Dia hanya teman saja. Kamu tahu itu. " elak Catty.
"Tapi waktu itu kalian seperti...." ucap Grizella mengantung.
"Udah ya. Dia adalah pacarku. Dan yang kamu lihat kemarin hanya salah paham saja, oke. " jawab Catty. "Kenalkan sayang. Dia adalah temanku, Grizella. " lanjut Catty.
"Kenalkan, saya Marco. Pacar Catty. " ucap Marco memberikan tangannya kepada Grizella agar mereka berjabat tangan. Grizella pun menerimanya. Mereka berjabat tangan tanpa ada hal lain apapun.
Pria ini terlihat baik. Tapi, apa benar Catty tidak ada hubungannya dengan Smith. Jelas-jelas aku melihat mereka berciuman di wahana permainan saat itu. Gumam Grizella.
Di tempat Smith. Smith terlihat mengepal erat tangannya. Dirinya ingin sekali menampar wajah Catty dan memukul keras wajah Marco hingga hancur. Tapi, dia tidak mau Grizella mengetahui kehadirannya. Itu akan membuat dirinya malu. Dia sebagai pria tidak bisa menerima hal itu. Jelas-jelas Grizella sudah melihat perselingkuhan nya dengan Catty dan sekarang Grizella melihat Catty dengan pria lain. Mengaku-ngaku sebagai pacarnya. Lantas apa yang akan dia katakan di depan Grizella nantinya. Apa dia harus diam saja ketika Catty memperkenalkan Marco sebagai pacarnya. Dan mengatakan bahwa dia tidak ada hubungan apapun lagi dengan Catty, begitu.
Itu adalah kebodohan yang terbodoh yang akan dialami Smith jika dia mendekat di depan Catty sekarang. Dan Smith tidak mau dirinya terlihat bodoh di depan Grizella.
Ya, seperti itulah hidup. Kita tidak tahu bahwa pengkhianat itu ada di depan kita. Bahkan kita tidak sadar bahwa orang yang kita cintai adalah Pengkhianatan sebenarnya. Sungguh ironi sebuah kehidupan itu.
Smith tulus dan benar-benar mencintai Catty. Dirinya bahkan sudah memantapkan hatinya untuk menikahi Catty. Tapi, melihat kejadian hari ini membuat hatinya sakit.
__ADS_1
Dadanya sesak, ingin sekali dirinya berteriak. Memukul apapun yang ada di dekatnya. Meluapkan amarahnya yang sudah mendidih.
Smith hanya bisa menekuk lututnya. Bersandar di dinding kafe itu. Membenamkan wajah di tempurung kakinya. Air matanya turun begitu saja. Tidak kuat melihat kemesraan sang kekasih di depan matanya sendiri.
"Wanita jala**. Beraninya kamu mengkhianati ku. Aku sudah memberikan segalanya untukmu. Hatiku hanya untukmu seorang. Aku mencintaimu, Catty. Kenapa kamu bermain di belakang ku. Apa salahku padamu. Aku sangat mencintaimu selama ini. " lirih Smith di sela-sela tangisnya.
Smith pun memutuskan untuk berdiri setelah 3 orang itu sudah keluar dari kafe. Smith pun menjalankan mobilnya. Pergi menjauh entah kemana.
•••
Di sebuah restoran XX. Jaxton terlihat menyantap makan malamnya. Ditemani oleh Albert, asistennya. Di depan mereka ada seorang pemuda yang sudah cukup usianya. Dengan seorang ibu-ibu.
"Sepertinya Tuan sangat mencintai istrinya. " ucap Jaxton tersenyum kepada Tuan Cavindra.
"Dia adalah jiwa saya. Saya selalu membawa dirinya kemana pun saya pergi. Saya tidak kuat jika jauh-jauh dari istri saya. Apalagi, anak-anak sudah besar dan tidak ada waktu dengan kami. Istri saya kesepian jika di rumah sendirian. Karena itu saya memutuskan untuk membawanya ke manapun saya pergi. " ucap Tuan Cavindra mengenggam tangan istrinya.
"Kalau begitu, saya akan belajar dari Taun kedepannya. " ucap Jaxton tersenyum.
"Apa Tuan Jaxton sudah menikah? " tanya Tuan Cavindra.
"Masih belum. Tapi doakan saja itu akan segera datang. " ucap Jaxton.
"Yasudah, saya harap kerja sama ini tetap berlanjut. Saya sangat menyukai desain ini. Desain rumah yang klasik tapi tidak menghilangkan daya tariknya. " ucap Jaxton.
"Kalau begitu, saya pamit dulu Tuan. " ucap Tuan Cavindra. Jaxton pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka berjabat tangan setelah mencapai kesepakatan.
Tuan Cavindra pun berlenggang keluar. Jaxton masih di tempat duduknya. Menyandarkan punggungnya.
"Albert. Kapan sekolah anak-anak di mulai? " tanya Jaxton.
"2 hari lagi, Tuan. " jawab Albert.
"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya? " tanya Jaxton.
"Sudah, Tuan. " jawab Albert.
Maksudnya Jaxton itu adalah apakah Albert sudah menyiapkan guru les privat untuk si kembar. Terus apakah nanti si kembar ada latihan di luar. Kalau pun ada siapkan keperluan si kembar nantinya. Jaxton tidak mau si kembar kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sekolahnya. Ini adalah pertama kalinya Jaxton melihat proses belajar si kembar dan Jaxton tidak mau kekurangan apapun untuk proses belajarnya si kembar.
__ADS_1
Jaxton ingin keadaan si kembar seperti memiliki sosok Mommy di sampingnya. Meski mereka tumbuh tanpa kehadiran orang tua. Jaxton memastikan si kembar akan menikmati semua proses kehidupan yang seharusnya mereka nikmati saat kecil. Jaxton menjadikan dirinya sebagai sosok Daddy dan Mommy untuk si kembar.
"Yasudah, kita pulang sekarang. Aku sudah kangen dengan mereka. " seru Jaxton yang ditujukan untuk si kembar.
"Baik, Tuan. " jawab Albert. Albert adalah asisten pribadi Jaxton 24 jam. Jadi, kapanpun Jaxton butuh Albert, maka Albert akan ada di sampingnya.
Mobil pun membelah jalanan yang masih padat. Mobil mereka terlihat masih terjebak oleh kemacetan kota metropolitan tersebut. Lampu jalan yang berwarna kekuningan berbaris seperti pelayan yang menunggu tuannya yang baru pulang dari kantor.
Jaxton memilih melihat ke arah jendela mobil. Menengadahkan matanya melihat toko-toko yang masih buka. Jaxton melihat toko boneka di depannya. Terbesit di hatinya untuk membelikan si kembar boneka-boneka lucu itu.
"Kita berhenti dulu, Al. Aku mau membelikan anak-anak sesuatu. " ucap Jaxton. Jaxton pun turun dari mobilnya setelah Albert berhasil memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Jaxton melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko boneka tersebut.
Jaxton melihat boneka Stich dan Minion ada di depannya. Jaxton pun mengambil dua boneka tersebut. Mengambil yang ukuran besar. Saat hendak membayar Jaxton melihat boneka beruang. Jaxton teringat Grizella. Jaxton pun tersenyum dan mengambil yang ukuran besar juga. Jaxton meminta kepada kasirnya untuk membungkus boneka beruang itu. Di bungkus secantik mungkin.
"Terima kasih. " ucap Jaxton setelah menyelesaikan pembayarannya. Jaxton pun kembali ke mobilnya. Jaxton meletakkan dengan hati-hati boneka beruang itu di sampingnya. Sedangkan dua boneka lagi dia taruh di kursi depan dekat Albert.
"Kita ke apartemennya Grizella sebentar. " ucap Jaxton.
"Baik, Tuan. " jawab Albert. Mobil pun membelah jalanan.
.
.
.
.
.
Bersambung.
IG : gx_shi7
Terima kasih 😊😊
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan 😚😘😙
__ADS_1
By : Nadila Sizy
#Grizella&Jaxton_LFR