Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy

Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy
You are cute


__ADS_3

Tiga perempuan itu duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman. Si kembar menghimpit di kedua sisi Grizella duduk sekarang. Mereka memegang satu-satu lengan Grizella. Mereka seolah membuktikan bahwa Grizella adalah Mommy mereka kepada orang banyak. Memeluk lengan Grizella dengan posesif. Kali ini, mereka bisa sombong kepada orang-orang yang melihatnya. Membuktikan bahwa mereka juga memiliki seorang Mommy seperti anak-anak pada umumnya.


Grizella menoleh ke samping kanan dan kirinya. Tersenyum melihat keposesifan si kembar terhadapnya. Si kembar bahkan tidak melepaskan tangan mereka dari lengan jenjang Grizella. Grizella bahkan sampai tidak bisa bergerak di buatnya. Mau menyelipkan rambut ke belakang telinga tapi si kembar tidak mau melepaskan tangannya. Bahkan, rambut yang menutup pemandangan nya hanya bisa ia tiup dengan bibirnya ke atas atau kemana arah angin dari bibirnya memperbaikinya.


"Baiklah, Mommy tidak akan kemana-mana. Kalau begitu biarkan Mommy mengikat rambut dulu ya. Sebentar saja, kok. " ucap Grizella menatap memelas kedua keponakan suaminya tersebut. Tapi, si kembar tidak mengubrisnya. Malah menoleh ke arah yang lain. Sampai akhirnya...


"Buk Grizella. " panggil seseorang pria muda yang sebaya dengannya. Pria itu berjalan mendekati tempat duduk Grizella.


"Benar ini Ibuk Grizella. Saya pikir saya salah lihat orang. " ucap Gleen. Terlihat Gleen memakai pakaian olahraganya. Mungkin pria itu habis lari sore di sekitaran sana. Gleen pun memilih duduk di tanah. Meluruskan kakinya untuk mendinginkan tubuhnya yang berlari sedari tadi. Grizella sampai terperanjak melihat pria itu di depannya sekarang.


"Eh, Pak Gleen. Apa kabarnya, Pak?" Tanya Grizella basa-basi. Gleen pun tersenyum menanggapinya.


"Ya, seperti yang Ibuk lihat. Oh iya, kenapa Ibu bisa ada di sini? " tanya Gleen. Setahu Gleen. Kawasan yang ada di sana adalah kawasan elit. Hanya beberapa orang saja yang bisa tinggal di sana. Seperti presiden, menteri dan pejabat tinggi pemerintahan lainnya.


Grizella yang mendengar pertanyaan Gleen membuat dia menelan salivanya. Pasalnya, tidak ada yang tahu pernikahan ia dengan Jaxton. Hanya kerabat dan beberapa orang terdekat saja yang tahu.


"Emm, itu. Aku.... " jawaban Grizella mengudara di karenakan Jaxton datang dengan 3 buah ice cream Di tangannya.


"Sayang. Ini ice creamnya. " ucap Jaxton memberikan ice cream kepada Grizella dan juga si kembar. Jaxton pun menatap tidak suka kepada Gleen. Menatap tajam kepada pria yang berpakaian olahraga di depannya.


Di Pandangan Jaxton. Gleen seperti mencari perhatian Grizella dengan body nya yang gentle. Setiap wanita pasti akan terpesona bila di suguhkan oleh pria ganteng seperti Gleen. Rambutnya yang basah, perut kotak-kotak dan kulitnya yang putih seperti orang korea sudah jelas membuat wanita tergoda. Jaxton pun menatap sang pujaan hati. Dilihatnya istrinya tersebut hanya biasa saja. Jaxton pun berkata dalam hatinya. 'Istriku berbeda dengan wanita-wanita itu. Dia tidak akan tergoda dengan pria lain. Apalagi suaminya ganteng kayak gini dan kaya pula, mana bisa ia berpaling. Hahahaha.  ' Jaxton bangga dengan dirinya yang gagah paripurna. Paket komplit untuk di masukkan ke list orang yang sempurna.


Gleen berdiri ketika melihat Jaxton di depannya. Gleen tahu siapa itu Jaxton. Jaxton adalah orang berpengaruh yang pernah ia tahu.  Banyak kalangan pejabat dan pemerintahan yang mengaguminya. Bahkan, ia sekelas dengan presiden negeri ini. Jika ia mau, Jaxton bisa saja menjadi presiden periode mendatang. Namun, pria itu tidak mau. Menurutnya, menjadi seorang presiden memiliki tanggung jawab yang tidak bisa di remehkan. Dia setidaknya harus tahu apa isi hati rakyat terhadap dirinya. Bagi Jaxton. Dia cukup mensejahterakan rakyat dengan mempekerjakan mereka di perusahaannya. Semua itu bisa ia lakukan dengan memperbanyak anak cabang perusahaannya di tiap daerah. Lalu, mempekerjakan mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kecukupan hidupnya.


"Tu-Tuan Jaxton. " ucap Gleen gugup. Tidak menyangka bisa bertemu dengan Jaxton di tempat umum seperti sekarang. Ketika dia bertemu Jaxton di sekolah saja membuat ia gugup setengah mati. Apalagi, dalam situasi sekarang. Sungguh membuat ia tidak bisa berkata-kata lagi.


Jaxton mengernyitkan keningnya.


"Kamu kenal sama saya? " tanya Jaxton datar. Jaxton pun memilih untuk duduk di salah satu sisi keponakannya karena jika ingin duduk di samping Grizella ia tidak bisa. Biasalah, si kembar selalu mendominasi istrinya tersebut. 


Gleen menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Tentu, Tuan. Anda adalah orang yang menjadi panutan di negeri ini. Siapa yang tidak mengenal Tuan di negeri ini. " balas Gleen dengan nada gugup. Jaxton pun menyeringai. Menyilangkan tangannya di dada. Membiarkan Gleen berdiri sembari menundukkan kepalanya ke bawah. Sengaja Jaxton tidak mempersilahkan Gleen duduk untuk menunjukkan betapa ia di hormati di negeri ini. Grizella merasa tidak enak dengan sahabat gurunya tersebut.


"Pak Gleen. Silahkan duduk di kursi sana. " menunjuk kursi yang berada di depannya. Posisi kursi itu tidak jauh dari mereka. Jaxton pun menoleh ke arah istrinya. Memelototkan matanya tanpa di sadari oleh gadis itu. Lain halnya dengan si kembar. Mereka bisa merasakan kecemburuan Jaxton terhadap Grizella.

__ADS_1


"Eh, iya. Makasih Buk. " balas Gleen langsung duduk di kursi yang di tunjuk oleh Grizella.


"Apa Bapak tinggal di area sini juga? " tanya Grizella tanpa merasakan aura dingin di sampingnya. Padahal, si kembar sudah kedinginan loh. Bahkan, si kembar tidak bisa melanjutkan makan ice creamnya karena tatapan dingin Jaxton kepada Grizella.


"Sayang. Makanlah ice creamnya. " ujar Jaxton tersenyum paksa. Grizella sampai malu sendiri Jaxton memanggilnya 'sayang' di depan Gleen. Gleen yang mendengar Jaxton memanggil Grizella sayang membuat kepalanya yang sebelumnya tertunduk langsung terangkat ke atas.


"Iya, sayang. " balas Grizella yang kembali membuat Gleen tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar barusan.


"Apa yang telah terjadi? Apa Tuan Jaxton dan Buk Grizella pacaran? " tanya Gleen menepis rasa takut di dalam hatinya.


Jaxton tersenyum menyeringai. Lalu, menoleh ke arah si kembar.


"Sayang. Kalian mainlah dulu di sana. Kami orang tua mau bicara serius dulu sebentar. Tidak apa-apakan? " tanya Jaxton tersenyum hangat kepada kedua keponakannya.


"Baiklah, Dad. Tapi, jangan lama-lama, ya. " ucap Zoe.


"Iya, sayang. Daddy sebentar kok. " balas Jaxton. Si kembar memberikan kecupan lembut kepada Mommy dan Daddynya. Setelah itu, mereka bermain di sebuah wahana anak-anak yang ada di sana.


Kembali kepada permasalahan orang tua.


"Apa kami terlihat seperti pacaran. Apa kami terlihat romantis? " tanya Jaxton tersenyum hangat kepada istrinya tersebut. Grizella pun malu-malu kucing. Pipinya merona mendengar ucapan suaminya itu.


"Apaan sih. " ucap Grizella memukul pelan lengan Jaxton. Gleen yang melihat hal itu hanya bisa mengelengkan kepalanya. Mencoba untuk tidak mempercayai apa yang telah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Sejak kapan Tuan dan Buk Grizella pacaran? " tanya Gleen mencoba menahan rasa cemburu di dalam hatinya. Ya, hatinya sangat sakit melihat orang yang ia sukai bersama pria lain. Gleen sudah lama memendam rasa sukanya. Dulu, saat Grizella bersama Smith ia mencoba untuk ikhlas. Tapi, semenjak ia tahu Grizella sudah putus dengan Smith membuat ia bersemangat untuk mengejar gadis itu. Hanya saja, saat ia berencana mengejar Grizella. Dia pun di sibukkan oleh urusan kantor keluarganya. Karena keluarganya memberikan pilihan. Jika ingin tetap mengajar di sekolah. Maka, dia harus bisa memimpin perusahaan keluarganya. Jika tidak mau memimpin perusahaan maka keluarganya akan melarangnya untuk mengajar di sekolah.


Dan tujuan Gleen mengajar di sekolah karena ada Grizella di sana. Pujaan hatinya ada di sana. Setidaknya, jika ia tidak bisa memiliki. Maka, dia bisa menjadi sahabat dari gadis pujaan hatinya itu.


"Apa saya pernah bilang bahwa gadis ini pacar saya? " tanya Jaxton. Hal itu membuat angin segar menerpa wajahnya. Mendengar Grizella bukan pacar Jaxton membuat harapan Gleen masih ada secuil. Akan tetapi, melihat senyum Jaxton membuat pria itu was-was.


"Syukurlah. Setidaknya masih ada harapan. " lirih Gleen yang membuat kedua kelopak mata Jaxton membulat sempurna.


"Maksudnya apa ya? " tanya Jaxton mencoba menahan kekesalannya. Grizella pun bingung dengan Gleen. Grizella sendiri tidak tahu dan tidak peka jika Gleen menyukainya. Ia hanya menganggap Gleen rekan kerja. Jika lebih mungkin hanya sebatas kakak.


"Emm. Tidak ada, Tuan. " balas Gleen tidak mau Grizella menjauh jika mendengar ia menyatakan perasaannya sekarang. Gleen berniat akan mengungkapkan perasaannya nanti setelah ia memenangkan tender bisnisnya.

__ADS_1


"Baiklah. Saya tidak mau mendengar alasan apapun itu. Saya hanya mau bilang jika gadis ini memang bukan pacar saya. Tapi, dia adalah wanita yang menjadi teman saya di masa tua nanti. Wanita yang nantinya akan menjadi Mommy untuk anak-anak saya. Dia adalah istri saya. Grizella Anatasya Davinchi. " ucap Jaxton.


Duar.


Suara letusan atau mungkin saja ledakan di dalam hati Gleen. Ungkapan Jaxton berhasil membuat Gleen tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa mematung seperti patung pancoran. Atau mungkin vigura yang ada di dalam rumahnya.


Gleen tidak bisa berucap lagi. Ingin marah dan menarik Grizella ke sisinya tapi ia sadar. Pria di depannya bukanlah pria sembarangan. Sekali membuat masalah dengan pria di depannya ini maka satu keluarga atau bahkan 3 generasi sebelum dirinya akan hancur. Dan Gleen tidak mau karena egonya secara pribadi membuat keluarganya hancur lebur.


Gleen berdiri dari duduknya. Lalu, berlenggang tanpa ucapan pamit sedikit pun. Jaxton pun tersenyum menyeringai. Jaxton tahu Gleen menyukai istri manisnya itu. Tapi, sang istri tidak menyadari hal itu. Jaxton beruntung dengan ketidak pekaan sang istri. Dengan begitu, ia bisa memiliki gadis di sampingnya ini.


"Ada apa dengan pak Gleen, ya? Apa dia ada masalah? " tanya Grizella melihat kepergian Gleen yang sangat lesu itu. Jaxton pun tersenyum lalu mengusap lembut punggung belakang Grizella.


"Jangan pikirkan itu. Sekarang, kamu makanlah ice creamnya. Setelah itu kita pulang ke mansion. Lihatlah, anak-anak terlihat bahagia sekali hari ini. " ucap Jaxton melihat ke arah si kembar yang tengah bermain seluncuran.


"Iya, mereka sangat mengemaskan. " balas Grizella sembari mencicipi ice cream di tangannya.


"Kamu juga mengemaskan, kok. Dan juga manis." Jaxton langsung mengecup bibir Grizella yang bekas ice cream.


"Manis sekali. " ucap Jaxton menjilat pinggir bibirnya. Grizella pun memukul dada Jaxton.


"Bagaimana jika anak-anak melihat ulah kamu tadi. Nanti dia malah belajar yang tidak-tidak lagi. " ucap Grizella malu. Pipinya terlihat merona.


"Hahaha. Habisnya kamu itu mengemaskan sekali. " balas Jaxton menarik Grizella kepelukkannya.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2