
Happy Reading readers ๐ผ๐ผ๐ผ
Jangan lupa like dan komentarnya ya๐ป๐ป๐ป
Terima kasih ๐ธ๐ธ๐ธ
โขโขโขโข
Grizella terdiam cukup lama di dalam toilet. Jantungnya berdetak tak beraturan. Tidak pernah dia merasakan hal seperti ini sebelumnya. Bahkan, saat dirinya menerima piala emas atas kemenanganya dalam lomba di kampus tidak pernah sebedebar ini.
Ada rasa bahagia di rasakannya. Ada juga rada keraguan di hatinya. Keraguannya karena tidak percaya diri. Lain halnya dengan ia memenangkan piala lomba di kampus. Terdapat kepercayaan diri karena dia menyelesaikan kompetensi dengan penuh percaya diri.
Tapi, kalo ini kepercayaan dirinya hilang entah kemana.
Grizella menilai Jaxton sebagai pria yang sempurna. Jaxton memiliki segalanya. Wajah tampan, orang dengan predikat terkaya di kotanya, seorang yang berpengaruh di negerinya, orang yang di segani meski kita hanya menyebut namanya dan Grizella tidak yakin dengan dirinya sendiri. Benarkah Jaxton mencintainya. Apa benar yang di ucapkan pria itu.
Grizella mengelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar dari mulut Jaxton. Grizella membuang jauh-jauh isi pikirannya yang mengatakan apa yang di bilang Jaxton hanya omong kosong belaka. Akan tetapi, ada juga keraguan di hatinya. Grizella bisa melihat ketulusan di mata Jaxton saat pria itu mengungkapkan perasaannya tadi. Tidak ada kebohongan di matanya.
"Ahhh. Apa yang harus aku lakukan! Apa aku harus mempercayainya? Apakah aku akan seperti gadis murahan bila aku menerima perasaannya tadi. " lirih Grizella.
Grizella menarik napasnya pelan-pelan. Lalu segera membuangnya setelah merasa cukup lega.
"Baiklah. Aku butuh waktu untuk membuktikan perasaannya. Aku akan melihat ketulusan di hatinya secara langsung. Aku tidak bisa langsung menerima saja perasaannya itu kepadaku. " Grizella menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin.
Grizella memutuskan untuk kembali menemui Jaxton. Dilihatnya pria itu sedang menatap langit-langit atap kamar rumah sakit. Matanya terlihat fokus ke atas. Sampai akhirnya ia berpaling ketika merasakan kehadiran Grizella di sampingnya.
"Apa kamu baik-baik saja? " Jaxton menatap lekat gadis itu.
"Emm. Apa kamu butuh sesuatu? " Grizella mengucapkannya dengan suara yang amat pelan.
"Emm. Aku mau ke kamar mandi juga. " Jaxton mencoba untuk duduk.
"Ahhh. " Jaxton meringis membuat Grizella refleks mendekatinya.
"Apa kamu baik-baik saja? " Grizella terlihat khawatir.
"Yah. Seperti yang kamu lihat. " Jaxton tersenyum.
"Kamu tidak baik-baik saja aku lihat. Aku akan membantumu. " Grizella membantu memapah tubuh Jaxton. Meletakkan satu tangan Jaxton di pundaknya. Dan satu tangannya di pinggang Jaxton.
__ADS_1
Jaxton terperanjak dengan apa yang telah dilakukan Grizella. Tapi, ada senyuman di bibirnya. Tidak sia-sia dia kecelakaan kali ini. Setidaknya dia bisa dekat dengan gadisnya itu. Bahkan, tidak ada jarak di antara mereka saat ini. Tiba-tiba rencana licik berbaris rapi di otak Jaxton. Tersenyum penuh dengan kelicikan agar gadis itu bisa di dekatnya.
"Aku tidak bisa membuka celanaku. Tanganku masih sakit. " Jaxton melihatkan tangannya yang mengantung oleh kain untuk menyanga lengannya yang terluka itu.
"Aku akan memangil perawat. "
"Tapi aku sudah tidak tahan lagi. Aku bisa saja membuang air kecil di sini sekarang juga. "Jaxton menatap Grizella dengan ekor matanya.
"Tapi aku tidak pantas melakukannya. " Grizella ragu-ragu.
"Baiklah. Kamu bisa keluar sekarang. Aku tidak apa-apa. " Jaxton mencoba berusaha sendiri.
"Ahhh. " Jaxton kembali meringis di bagian lengan dan pinggangnya. Mencoba memancing Grizella lagi.
"Baiklah. Aku akan membantumu. Tapi aku akan menutup mata saat melakukannya. " ucap Grizella dengan sangat terpaksa. Jaxton pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Perlahan-lahan Grizella menutup matanya. Di dalam hatinya ia berkata ' Kamu harus bertanggung jawab padanya Grizella. Karna kamulah dia seperti ini. Sebagai orang yang baik kamu harusnya merawat orang yang telah menyelamatkan nyawamu. Dia bahkan tidak berpikir panjang saat menyelamatkan kamu. Kamu harus ikhlas membantunya kali ini, Grizella. ' begitulah kurang lebihnya Grizella bergumam di hatinya.
"Jangan bergerak. Aku akan mencoba melepaskan celanamu. "Grizella memicingkan matanya. Mencoba melorotkan celana Jaxton. Jaxton hanya tersenyum puas ketika Grizella melepaskan celananya. Tiba-tiba saja kejantanan Jaxton mengeras dan lebih parahnya lagi gadis itu tidak sengaja menyenggol kejantanan Jaxton. Membuat pria itu bergejolak menginginkan sesuatu untuk menuntaskan hasratnya. Grizella sendiri mematung di sana. Tidak tahu harus di tarok dimana mungkanya saat ini.
"Apa yang kamu lakukan? Apa barusan kamu sedang mengoda ku. " Jaxton mencoba menatap dingin Grizella.
"Ehh. Tidak seperti itu. Aku- ahhh " Grizella dengan cepat menutup wajahnya dengan tangan kecilnya karena tidak sengaja melihat kejantanan Jaxton. Sedangkan pria itu sedikit canggung. Tapi, dia tidak bisa apa-apa juga karena keadaannya yang tidak bisa membuat dirinya menutup miliknya tersebut.
"Kamu...." Jaxton memegang satu tangan Grizella. Mendorongnya ke tembok yang ada di kamar mandi. Jaxton pun memberikan kecupan penuh gairah di bibir Grizella. Grizella ingin memberontak tapi akal sehatnya masih bisa dia pakai. Grizella tidak mau membuat keadaan Jaxton semakin parah lagi. Yang bisa Grizella lakukan sekarang adalah. Menjauhi bibir Jaxton.
"Apa yang kamu lakukan? " Grizella menjauhkan wajahnya dari Jaxton.
"Aku melakukannya karena kamu membuatnya mengeras di bawah sana. Apa aku sudah salah dalam hal ini!ย Seharusnya kita sudah tahu siapa yang salah di sini kan? "Jaxton menatap dingin Grizella. Mencoba menyudutkan gadis itu agar di sini tidak dia saja yang di salahkan.
'Benar juga. Akulah yang memancingnya. Tidak salah kenapa dia sampai melakukan hal itu ' Grizella menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu aku pergi keluar dulu. Aku ingin melihat apakah keluarga mu sudah datang atau belum. " Grizella mengucapkannya dengan suara yang amat pelan, sampai membuat Jaxton gemes mendengarnya.
"Emm." Jaxton bersikap datar. Meski di hatinya bersorak penuh kemenangan.
"Lucu juga melihatnya seperti tadi. " lirih Jaxton. Jaxton pun menoleh ke bawahnya. Kejantanan nya mengeras.
"Apa kamu menginginkannya juga. Sepertinya kita butuh waktu untuk itu. Kamu yang sabar ya. " Jaxton mengusapnya pelan-pelan. Meski sudah tak tahan lagi. Asal jangan membuatย gadis itu membencinya maka semuanya akan baik-baik saja. Jaxton pun memelas dan melanjutkan hukum alam yang sempat tertunda.
__ADS_1
Di luar. Grizella belum mendapati sosok Jenny dan keluarga Jaxton lainnya. Grizella pun memutuskan untuk kembali menemui Jaxton. Grizella belum melihat sosok Jaxton. Grizella pun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi.
"Apa kamu masih berada di dalam? " Grizella mencoba mendengarkan jawaban Jaxton.
"Yah. Tolong bantu aku di sini. " Jaxton beralasan.
Grizella pun kembali masuk ke dalam. Dengan rasa canggung yang menggerogotinya, Grizella pun memaksakan dirinya menatap wajah Jaxton.
"Apa kamu tidak bisa melakukannya sendiri? " tanya Grizella. Jaxton pun menatap datar Grizella.
"Jika kamu tidak mau merawatku maka kamu boleh untuk pergi dari sini. Aku tidak memaksa kamu untuk membantuku. Aku akan menunggu Mommy datang saja. " Jaxton berusaha terlihat sakit di depan Grizella. Berjalan dengan tertatih-tatih agar membuat gadis itu merasa bersalah.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. "
"Tidak apa-apa. Aku sudah paham. " Jaxton berlenggang keluar namun tiba-tiba Grizella menghentikan langkah Jaxton. Kembali dirinya meletakkan tangan Jaxton di pundaknya. Memegang pinggang Jaxton dengan maksud membantu Jaxton berjalan. Ada senyuman di bibir Jaxton. Tapi di tahan oleh pria itu.
"Aku bisa sendiri. " Jaxton menatap Grizella dengan ekor matanya. Ada senyuman di bibirnya.
"Aku akan merawatmu. " ucap Grizella yang seperti tidak mau menerima penolakan dari Jaxton. Jaxton pun mengambil kesempatan itu dan membiarkan Grizella membantunya.
Author: " Bisa aja nih babang๐๐"
.
.
.
.
.
Bersambung.
IG : gx_shi7
Terima kasih ๐๐
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan ๐๐๐
__ADS_1
By : Nadila Sizy
#Grizella&Jaxton_LFR