
Chloe mengajak teman-temannya ke belakang mansion. Karena tugasnya mengenai tanah longsor maka Chloe membutuhkan tanah di mansion belakang. Dan hal itu tidak bisa ia lakukan di dalam rumah. Chloe dan teman-temannya membentuk tanah liat seperti gunungan. Lalu, membuat pohon buatan berukuran kecil. Setelah selesai mereka pun mengujinya dengan menjatuhkan air di gunung buatan mereka.
Mereka pun mulai menuliskan pemahaman mereka ke dalam buku tulis yang mereka pegang masing-masing. Setelah selesai mereka pun menggabungkan pemahaman mereka terhadap tanah longsor yang kemungkinan terjadi. Mencari penyebab dan cara penanggulangan banjir.
Mereka pun memutuskan duduk di sebuah kursi taman yang ada di sana.
"Baiklah, mari kita gabungkan pemahaman kita ke dalam satu kertas yang sama. Besok akan kita serahkan kepada ibu guru. " ucap Alexander. Ketua kelompok Chloe.
"Baiklah, biar aku salin dulu pemahaman kalian di doble folio ini. " ucap Chloe berinisiatif menuliskan tugas kelompoknya. Teman-teman Chloe pun memberikan pemahamannya kepada Chloe. Chloe pun menerima dengan senang hati.
Di sisi Zoe. Gadis itu terlihat mengerakkan tangannya. Menuliskan tugas dari guru. Zoe dan Aurin saling bekerjasama dalam mencari jawabannya. Sesekali Zoe menuangkan pendapatnya yang langsung di terima oleh Aurin.
"Sebentar deh. Kayaknya jawaban ini kurang tepat. Aku periksa dulu ya. " ucap Zoe. Aurin pun tersenyum menanggapinya. Aurin memperhatikan Zoe. Aurin kagum dengan sahabatnya itu. Sungguh Zoe memang pintar dalam hal pengetahuan. Sejak tadi kebanyakan Zoe yang menjawab soalnya. Aurin hanya kebanyakan menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian, Aurin tidak iri sedikit pun. Aurin hanya merasa minder karena otaknya yang pas-pasan.
"Bagaimana? Apakah jawabnya yang sekarang memuaskan? " tanya Zoe membuyarkan lamunan Aurin.
"Eh, iya. Udah kok. Oh iya, aku mau ke toilet. Toilet nya dimana ya? " tanya Aurin.
"Kita ke kamar aku saja ya. " balas Zoe yang di anggukan oleh Aurin.
Mereka pun memutuskan untuk pergi ke kamar si kembar. Setibanya di kamar Aurin kagum dengan dekorasi kamarnya. Bak kamar princess di negeri dongeng.
"Wah, kamarnya cantik sekali. Ini kamar kamu dengan Chloe? " tanya Aurin. Zoe pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ini dia kamar mandinya. Aku akan menunggu kamu di sini. " ucap Zoe memilih untuk duduk di kasurnya. Memainkan boneka kesayangannya.
Di kamar mandi Aurin selalu membayangkan bagaimana bahagianya kehidupan Zoe dan Chloe. Aurin pun terbayang dengan kehidupannya sendiri. Sekejap bayangan kedua orang tuanya yang selalu bertengkar membuat dirinya sedih. Andai dia berada di posisi Zoe pasti hidupnya akan bahagia. Tidak akan menderita seperti yang ia alami sekarang. Aurin pun menghela napasnya perlahan. Membuang rasa iri di hatinya. Aurin yakin, kehidupannya akan berubah seiring berjalannya waktu. Perlahan-lahan Aurin menghapus air matanya. Setelah itu, Aurin pun keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Zoe sedang menunggunya. Gadis cantik itu tersenyum kepadanya. Dilihatnya Zoe berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apakan? " tanya Zoe melihat sekelebat air mata Aurin. Aurin pun tersenyum lalu mengelengkan kepalanya.
"Mari kita lanjutkan tugasnya. " ucap Aurin. Zoe pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke tempat tadi mereka buat PR.
Di tempat lain di waktu yang sama. Arion dan Aksa tengah berada di RS. Mereka sedang menjenguk istri paman mereka yang sedang di rawat di sana. Dengan semangatnya mereka menemui istri pamannya tersebut.
"Bibi, kami datang. " ucap Arion memberikan bunga kenapa Issabela. Ya, Arion dan Aksa adalah keponakannya Mario. Mereka adalah anak dari kakak sepupu Mario. Aksa dan Arion di besarkan oleh Mario dan Issabela. Kakak Mario di sibukkan oleh pekerjaan. Sehingga mereka lebih banyak waktu bersama Mario dan Issabela. Mereka sudah menganggap Issabela sebagai Mommy mereka sendiri. Cinta mereka sama seperti mereka mencintai kedua orang tua mereka.
"Bagaimana sekolahnya? Nyaman kan? " tanya Issabela membelai sayang kepala Arion dan Aksa. Arion dan Aksa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, Mommy mau denger cerita kalian hari ini. Apa ada yang mengganggu pikiran kalian di sekolah? " tanya Issabela. Seketika Arion dan Aksa menundukkan kepalanya. Cemberut ketika mengingat kejadian siang tadi. Yang mana mereka di jauhi oleh si kembar. Issabela dan Mario mengernyitkan keningnya ketika melihat 2 keponakannya itu. Issabela menatap suaminya. Meminta jawaban apa yang telah terjadi pada kedua keponakan suaminya tersebut. Mario pun mengangkat kedua bahunya. Tidak tahu juga apa yang telah terjadi pada keponakannya.
"Hei, kenapa cemberut begitu? Cerita sama Mommy, hem. " ucap Issabela. Arion dan Aksa pun mengangkat kepalanya. Menatap bibinya.
"Tidak apa-apa, Mom. " balas Aksa dan Arion serentak. Issabela pun tersenyum lalu mengusap lembut kepala Arion dan Aksa.
"Apa kalian sudah makan siang? " tanya Mario memecah keharuan yang ada. Begitulah Mario, suka menggangu momen keponakan dan Bibi.
"Belum, kami hanya mau menemani Mommy di sini. Kami tidak lapar sama sekali. " ucap mereka. Issabela pun tersenyum mendengarnya.
"Tidak boleh begitu. Kalian harus makan siang dulu. Habis itu baru ke sini. " ucap Issabela. Aksa dan Arion pun terpaksa menuruti perintah Issabela.
Kembali di kediaman Jaxton dan Grizella.
Di dalam taman belakang. Chloe dan teman-temannya sudah menyelesaikan tugas kelompoknya. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Mom, teman-teman ku mau pulang katanya. " ucap Chloe kepada Grizella yang sedang berduaan dengan Jaxton di meja makan. Grizella pun menoleh ke arah Chloe.
__ADS_1
"Kenapa cepat sekali? Sudah selesai tugasnya? " tanya Grizella.
"Sudah, Mom. " balas Chloe.
"Yaudah, kalian hati-hati ya. Apa mau di antarkan ke rumahnya? " saran Grizella.
"Tidak perlu, Buk guru. Kami di jemput oleh supir saya. Kalau begitu kami pamit dulu, Buk. " ucap Alexander mewakili teman-temannya. Grizella pun tersenyum mendengar jawaban Alexander yang begitu ramah dan sopan.
"Jangan panggil buk guru dong. Di sekolah kita adalah guru dan murid baru panggil buk guru. Kalau di rumah panggil Mommy saja, sama seperti Chloe dan Zoe. Ya kan sayang? " tanya Grizella kepada Chloe. Chloe pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Benar kata Mommy. Panggil Mommy saja. Tidak apa-apa, kok. " ucap Chloe kepada teman-temannya.
"Baiklah, Mom. Kalau begitu kami pamit dulu. Takut ke sorean. " ucap Alexander. Grizella pun tersenyum.
"Baiklah, hati-hati ya. Salam untuk orang tuanya. " ucap Grizella yang di jawab iya oleh anak-anak tersebut.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1