
Setelah berpamitan kepada istrinya. Mobil Jaxton pun membelah jalanan yang padat di pagi senen. Pagi yang mana lagi padat-padatnya. Kali ini arah tujuan Jaxton lurus ke depan. Berbelok ke tempat gedung keamanan Davinchi Group. Letaknya tidak terlalu jauh dari kantor pusat Davinchi Group.
Setibanya di sana. Jaxton di sambut oleh beberapa anggota keamanan Davinchi Group yang berbaris rapi di pintu masuk. Jaxton di sambut dengan penuh hormat oleh para pria yang berbadan kekar dan dengan wajah sangar yang mereka miliki.
"Selamat datang, Tuan. " sapa mereka menundukkan kepalanya ke bawah. Ada beberapa anggota wanita juga di sana. Posisi mereka ada di barisan belakang yang tidak terlihat jika kita tidak peka.
Jaxton membalas sapaan mereka dengan hanya menganggukkan sekali kepalanya. Lalu, ia kembali fokus ke depan.
Jaxton di tuntun oleh salah seorang yang sepertinya memiliki pengaruh di sana.
"Sesuai yang Tuan katakan. Kami sudah memeriksa CCTV di tempat kejadian. Dan ada seseorang yang terlihat mencurigakan. " ucap pria tersebut. Panggil saja namanya Gior. Gior terlihat masih muda. Kira-kira seumuran dengan Jaxton. Memiliki bentuk badan yang cukup membuat orang beralih ke arahnya. Emm, kira-kira seperti tubuh pesinetron kondang yang berambut panjang sebahu. Dengan otot-otot di lengannya. Sering di jumpai dengan pakaian tanpa lengannya. Kalian boleh menebaknya. Bebas kok.
Jaxton menghentikan langkahnya. Duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan memang khusus untuknya. Jaxton menyilangkan kakinya dan melipat kedua lengannya di dada. Mengernyitkan keningnya ketika mendengar ucapan Gior.
Pikir Jaxton apa istrinya memiliki seorang musuh. Yang Jaxton tahu. Grizella adalah gadis baik-baik. Tidak mungkin memiliki masalah dengan orang lain. Kecuali, orang itu tidak suka dengan istrinya tersebut. Karena tidak semua kebaikan itu di anggap baik oleh orang lain yang iri dengan kita yang baik hati. Dan memiliki kelebihan.
"Katakanlah apa yang telah kalian temukan. Lebih jelas lagi. " ucap Jaxton dingin. Sungguh. Membayangkan kejadian kemarin membuat Jaxton marah. Jika Jaxton tidak cepat menangkap tubuh Grizella. Jaxton tidak tahu apa yang akan terjadi pada gadis itu. Melihat cairan yang berasap saja sudah Jaxton pastikan itu adalah air keras yang bisa membuat kulit yang ada di tubuh gadisnya terbakar.
Jaxton berusaha memendam kekesalannya. Agar ia bisa cepat-cepat menyelesaikan pertemuan hari ini. Lalu, menjemput istri manisnya ke kantor.
Saat Gior hendak berbicara. Jaxton pun mengerakkan tangannya agar Gior berjalan mendekatinya.
"Pinta pengawal wanita untuk menjemput istri saya ke kantor nanti. Kawal istri saya. Dan jangan sampai istrinya saja Kenapa-napa. " ucap Jaxton.
"Baiklah, Tuan. " balas Gior. Jaxton pun mengerakkan tangannya lagi. Bermaksud agar Gior menjelaskan lagi hasil penyelidikan tadi.
__ADS_1
"Emm, dan... "
"Katakanlah dengan jelas. Jangan berbelit-belit. " ucap Jaxton kesal dengan Gior yang sepertinya ragu untuk menjelaskan hasil penyelidikannya.
"Jadi Tuan. Dari hasil interogasi yang saya dapatkan. Dan dari hasil rekaman CCTV. Sepertinya kecelakaan kemarin telah di rencanakan oleh seseorang. " ucap Gior. Jaxton pun menatap dingin Gior. Seolah berkata langsung saja keintinya.
"Dan seseorang di balik semua ini adalah nona Bianca. Dokter bedah RS XX. " ucap Gior yang berhasil membuat kedua bola terlihat sempurna. Bahkan, tangan yang sebelumnya ia lipat tiba-tiba turun ke bawah. Dan Jaxton pun berdiri dari duduknya.
"Apa kamu telah melihat betul videonya? Saya rasa kamu tidak fokus dengan pekerjaanmu. Periksa sekali lagi dan tunjukkan kepada saya hasilnya. " ucap Jaxton tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Setahu Jaxton. Bianca adalah gadis baik-baik. Mereka sudah dari kecil saling mengenal. Dan mereka saling mengenal sifat masing-masing. Dan Jaxton tidak percaya bahwa Bianca lah dalang dari kecelakaan kemarin.
"Saya sudah memastikannya, Tuan. Tuan bisa lihat sendiri hasil rekaman video yang saya dapatkan. " Gior meletakkan laptop si depan Jaxton. Menunjukkan kepada Jaxton yang sebenarnya. Jaxton pun mengelengkan kepalanya. Berusaha untuk tidak mempercayainya. Tapi, hasil bukti berupa video sudah di putar oleh Gior. Jaxton pun menoleh ke arah laptop di depannya. Mata Jaxton langsung di fokus kan dengan seseorang yang ada di dalam video tersebut. Seorang wanita berambut panjang sebahu. Wanita itu tengah berdiri di posisi yang tidak jauh dari kecelakaan. Dan dari gerak-gerik nya di pastikan bahwa Bianca telah bekerjasama dengan pria bermasker hitam tersebut. Pria yang sebelumnya berencana mencelakai Grizella. Istri tercintanya.
"Video ini tidak bisa di jadikan bukti. Saya tidak bisa mendengarkan suaranya. Carilah bukti lain. Dan ya, tetap awasi gerak-gerik wanita itu( Bianca). Bagaimanapun, dia sudah membuat kita manduganya. Saya tidak mau karena kelalaian saya, membuat istri saya terluka di kemudian hari. Tetap awasi kesehariannya dan laporkan kepada saya. " Jaxton memperbaiki giwang jasnya. Saat hendak melangkah keluar. Tiba-tiba, Jaxton menoleh ke salah satu pengawal wanita yang ada di sampingnya.
"Jemput istri saya sekarang. Carilah pengawal wanita yang seumuran dengan istri saya. Lakukanlah tugas kalian dengan baik. Jangan sampai istri saya terluka barang sedikit pun. " ucap Jaxton yang di tujukan untuk Gior. Lalu, Jaxton pun melangkahkan kakinya keluar. Gior pun membalas ucapan Jaxton tanpa di balas oleh Jaxton karena Jaxton sudah lebih dulu melangkahkan kakinya keluar.
Jaxton pun pergi ke kantornya. Raut wajahnya seolah berkata bahwa apa yang ia lihat tadi tidaklah benar. Jaxton butuh bukti lain. Jaxton tidak mau persahabatannya hancur karena salah memperkirakan. Tapi, Jaxton juga tidak mau sesuatu terjadi pada istrinya. Oleh karena itu, Jaxton perlu memastikan lagi kebenarannya. Kebenaran yang Jelas-jelas sudah ada di depan matanya tadi. Seharusnya, dari video tadi sudah bisa Jaxton jadikan sebagai alasan yang tepat bahwa Bianca lah pelakunya. Tapi, berkat persahabatan mereka membuat Jaxton untuk mencari bukti lain. Setidaknya, Jaxton sudah menyuruh orang untuk mengawasi istrinya agar tidak terjadi kecelakaan seperti kemarin lagi. Tapi, kita tidak tahu takdir akan berskenario seperti apa. Kita hanya bisa mengalami saja. Jika kita tahu skenarionya maka pasti kita akan mewaspadainya, bukan.
Jaxton kini sudah berada di ruangan kerjanya. Dirinya langsung di suguhkan oleh laporan kerja karyawan beberapa hari belakangan ini.
Di tempat lain di waktu yang sama. Grizella tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor suaminya. Grizella menunggu jemputan Jaxton datang. Sebelum jemputan Jaxton datang. Ternyata Bianca datang dengan masih memakai pakaian dokternya.
"Aku ingin istirahat sebentar. " ucap Bianca menatap datar Grizella. Lalu, ia meninggalkan Grizella sendirian di ruang tengah. Bianca terlihat memasuki kamar tamu yang biasa ia tempati.
__ADS_1
Grizella hanya bisa menghela napasnya. Ia tidak memiliki keberanian untuk melarang Bianca masuk meski ia sudah mendapat izin dari Jaxton dalam memegang kendali mansion yang ia tinggali. Dalam pikiran gadis itu, Bianca adalah orang yang mempunyai peranan penting dalam hidup suaminya. Sehingga, ia masih belum berani menahan Bianca untuk masuk ke mansion.
Setelah beberapa saat. Mobil jemputan Grizella datang. Orang-orang yang di perintahkan oleh Gior menuntun Grizella untuk memasuki mobilnya. Grizella bingung. Siapa wanita-wanita yang menyambutnya saat ini. Tapi, Grizella menepis kebingungan nya karena melihat sopir Jaxton yang mengendarai mobil.
"Apa suami saya sudah menyelesaikan urusannya, Pak? " Tanya Grizella kepada sopir Jaxton.
"Sudah, Nyonya. " balas sopir tadi. Grizella tidak menjawab tapi kepalanya manggut-manggut.
Di tempat lain. Di sekolah si kembar. Aksa dan Arion tengah berada di kantin sekolah. Mereka terlihat sedang duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan. Mereka memilih kursi yang ada di sudut ruangan.
Mereka memakai topi dan masker penutup separuh wajah mereka. Mereka menundukkan kepala agar tidak di kenali oleh anak-anak yang sudah menjadi fans fanatik mereka.
"Sampai kapan kita akan menjadi seperti ini, kak ? " tanya Arion kepada kakaknya, Aksa.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1