
Beberapa jam setelah itu. Jaxton sudah membawa istrinya ke sebuah villa pribadi miliknya yang terletak di dekat hutan dan danau yang luas yang jauh dari jangkauan hewan liar. Tempatnya di jaga oleh beberapa orang yang sudah di tugaskan khusus melindungi keamanan villa tersebut. Semua itu dilakukannya agar dia dan sang istri baik-baik saja selama berada di sana.
Saat ini Grizella tertidur setelah Jaxton menguasainya seharian di dalam kamar. Bahkan beberapa saat yang lalu, Jaxton tidak membiarkan diri mereka istirahat sedikit pun. Beberapa hari setelah pernikahannya membuat Jaxton tidak bisa membendung hasrat untuk tidak menyentuh istrinya tersebut.
Saat ini Jaxton tengah berada di teras kamar yang menghadap ke hutan lebat namun terawat. Jaxton menerima panggilan masuk dari sekretarisnya. Ada beberapa masalah di kantor akan tetapi sudah di atasi oleh Albert, selaku asistennya.
Jaxton membalikkan bedanya kebelakang ketika mendengar lenguhan sang istri. Jaxton pun memutuskan panggilan masuk setelah mendengar pamitan dari orang seberang. Jaxton pun berjalan ke arah kasurnya.
Dilihatnya Grizella sedang mengusap matanya.
Jaxton pun duduk di sisi ranjang. Bertepatan di samping ranjang istrinya tersebut.
"Apa kamu lapar, Sayang? " tanya Jaxton mengusap pipi Grizella. Menyelipkan rambut Grizella kebelakang telinga wanita itu. Grizella sendiri masih mengumpulkan nyawanya yang entah berkelana kemana. Grizella pun tersenyum ketika melihat Jaxton ada di depannya.
Grizella mencoba untuk duduk. Tiba-tiba ia merasakan sakit di area sensitifnya.
"Sepertinya hubby bermain terlalu kasar semalam. Maafkan hubby, sayang. Karena telah membuatmu merasakan sakit seperti ini. " ucap Jaxton sendu. Menyesali perbuatannya terhadap sang istri. Grizella pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak salah, By. Ini sudah biasa terjadi. " balas Grizella mengusap punggung tangan Jaxton yang ada di atas pipinya. Jaxton pun tersenyum tipis. Jaxton pun memberikan kecupan di bibir kecil Grizella.
"Aku lapar. " rengek Grizella.
"Yaudah, Hubby akan meminta pelayan mengantarkan makanan ke sini. " ucap Jaxton hendak berdiri, namun langkahnya terhenti karena Grizella menahannya.
"Aku ingin makan di meja makan. Sekarang bantu saja aku ke kamar mandi. Aku mau mandi dulu, By. " ucap Grizella. Jaxton pun tersenyum dan langsung menggendong tubuh Grizella ala bridal style.
Tidak ada yang terjadi di kamar mandi selama beberapa menit. Mereka murni melakukan ritual mandi seperti biasanya. Hal itu terjadi karena ketidaktegaan Jaxton terhadap sang istri yang masih menahan rasa sakit di area sensitifnya.
__ADS_1
Setelah ritual mandi selesai. Jaxton pun membantu Grizella bersiap-siap. Jaxton mendudukkan Grizella di depan meja rias.
Grizella sendiri masih mengenakan handuk kimononya yang berwarna putih. Saat ini, Jaxton membantu Grizella mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Setelah itu, Jaxton pun mengambilkan sang istri baju untuk dikenakan hari ini. Jaxton sendiri sudah selesai bersiap-siap terlebih dahulu sebelum ia membantu istrinya sekarang.
Melihat istrinya sudah rapi dan cantik seperti biasa. Jaxton pun mulai menggendong bayi besar nan manisnya itu.
"Hubby. Aku bisa berjalan sendiri. " lirih Grizella menoleh kanan kiri. Malu sendiri karena beberapa pelayan melihat ke arahnya.
"Dengan tertatih dan merasa perih? Tidak akan. Tidak akan Hubby biarkan itu terjadi. Kamu tenang saja. Tidak akan ada yang berani berkomentar di sini tentang kita. " ucap Jaxton yang masih membawa sang istri di dalam gendongannya. Grizella pun menyerah dan membiarkan Jaxton melakukan apa yang telah dilakukannya. Grizella pun membenamkan wajahnya di ceruk leher Jaxton dengan tangannya melingkar di leher Jaxton. Jaxton pun tersenyum dan memastikan langkahnya ke ruangan yang ada makanannya. Jaxton mendudukkan Grizella di salah satu kursi yang ada di meja makan tersebut. Jaxton pun menarik salah satu kursi lagi dan mendekatkannya dengan kursi Grizella.
"Mau makan apa, hem? " tanya Jaxton. Grizella pun menatap hidangan di depannya.
"Eummm, apa tidak ada sambal di sini, By? Aku tidak mengenal apapun makanan di sini? Kenapa aku seperti melihatĀ semua yang ada di sini seperti roti ya? " Grizella bingung. Dilihatnya ada beberapa bentuk makanan yang seperti wafer dan macam-macam roti lainnya. Jaxton pun tersenyum melihat raut wajah bingung istrinya.
"Orang-orang yang ada disini biasa menyantap makanan yang seperti ini. Terus letakkan telur mata sapi ini di atasnya dan beberapa sayuran segar juga. Kamu suka kan? " tanya Jaxton. Grizella pun menganggukkan kepalanya. Tapi, masih dengan wajah yang seperti memaksakan perutnya untuk bisa menyantap sarapannya. Jaxton pun tersenyum dan mengusap sayang pipi Grizella.
Di tempat lain, di waktu yang berbeda. Si kembar tengah pergi jalan-jalan bersama pamannya di pasar malam. Pria itu mengekori kedua keponakannya. Sedangkan dirinya bergandengan tangan bersama sang kekasih.
"Lihat itu. Kita naik itu yuk? " ajak Zoe. Jemari kecilnya menunjuk sebuah wahana yang ada di sana.
"Ayuk. " balas Chloe. Mereka pun menoleh kebelakang dan melihat pamannya yang tengah bermesraan dengan sang kekasih. Merci dan Maxim pun gelagapan. Membuat jarak di antara pasangan kekasih itu.
"Kamu sih. Udah di bilang ada anak-anak. " kesal Merci. Merci pun berjalan mendekati si kembar.
"Ada apa? Apa kalian mau sesuatu? " tanya Merci menundukkan kepalanya dengan meletakkan tangannya di kedua pahanya guna menahan berat tubuhnya.
"Kami mau naik itu. " tunjuk si kembar ke tempat wahana yang ingin mereka naiki. Merci pun menoleh ke arah yang di tunjuk Zoe. Dan ia tersenyum.
__ADS_1
"Yaudah, ayuk kita menaikinya. Dan biarkan paman kalian sendirian. Okey. " ucap Merci tersenyum. Si kembar pun ikut tersenyum. Dan menggandeng tangan Merci agar melangkah ke arah wahana yang akan mereka naiki. Maxim pun gelagapan dan mengejar para perempuan yang ia sayangi.
"Sayang. Kok ninggalin aku sendirian sih? " tanya Maxim berlari ke arah para perempuan.
Saat ini Merci sedang melakukan transaksi pembayaran karcis. Si kembar setia menemaninya di belakang Merci. Sedangkan Maxim sibuk memperhatikan gadisnya.
"Sayang. Kenapa kamu hanya membeli tiga karcis? Untuk aku mana? " tanya Maxim bingung.
"Kamu naik sendiri. Kami ingin bersama. Benar kan anak-anak? " tanya Merci kepada si kembar. Si kembar pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Terkekeh geli melihat pamannya yang di lupakan oleh pacarnya sendiri.
"Kok gitu sih, yang? Aku kan ingin naik juga. " lirih Maxim. Merci pun menoleh kebelakang Maxim dan melihat dua anak tampan di belakangnya.
"Eh, bukankah kalian murid School Internasional ? " tanya Merci. Ya, dia melihat Arion dan Aksa.
"Benar, Bibi. " balas Aksa dan Arion serentak. Mereka pun menoleh ke arah si kembar dan tersenyum.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Maaf para pembaca ku sekalian karena baru sempat up. Dan juga tidak bisa menepati janji ku yang sebelumnya. Mohon pengertiannya ya^^