
Setelah beberapa saat akhirnya Jaxton dan Grizella sampai di sebuah toserba. Grizella langsung melihat isi ulang gas ketika ia membuka pintu toserba. Grizella pun mendekat. Mengambil satu tabung isi ulang gas. Disaat hendak membayarnya Grizella tidak sengaja melihat beberapa peralatan yang akan di gunakannya di rumah. Grizella mengumpulkannya sampai troli gandeng di tangannya penuh. Membuat Jaxton geleng-geleng kepala melihatnya.
"Hehehe. Maaf ya. Aku emang kayak gini. Kalau udah lihat emang suka lapar mata. Tapi ini memang aku butuhin juga sih. " seru Grizella tersenyum kikuk.
"Emang untuk apa semua itu? Sepertinya itu bukan untuk orang yang seumuran kamu. " tanya Jaxton bingung. Melihat ke dalam keranjang yang di pegang oleh Grizella.
"Aku adalah seorang guru. Dan minggu depan adalah tahun ajaran baru. Jadi, aku menyiapkannya untuk anak-anak. " jelas Grizella.
Tidak hanya cantik ternyata dia juga sayang dengan anak-anak. Mengemaskan sekali. Jaxton.
"Di masa depan anak-anakmu pasti sangat menyayangi ibunya yang baik hati ini. " seru Jaxton. Tangan kekar Jaxton terangkat. Nalurinya menyuruhnya untuk mengelus pipi mulus Grizella. Grizella terkejut ketika mendapati Jaxton mengusap pipinya dengan sangat lembut. Grizella pun menjauh beberapa langkah ke belakang. Grizella pun ikut tidak percaya terhadap apa yang dia lakukan. Dia meminta maaf kepada Grizella. Grizella hanya diam dan menatap canggung Jaxton.
Kenapa juga dia nyentuh pipi ku sih. Ahhh kan jadi canggung begini. Grizella.
Dada wanita berdegup kencang. Entah kenapa baru pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini. Nyaman. Hal itu yang terlintas di benak Grizella. Wajahnya memerah.
Grizella melangkahkan kakinya ke meja kasir. Hatinya masih belum terkendalikan namun rasa malunya membuat ia menjauhi Jaxton. Grizella langsung memeriksa saku celananya. Mengambil dompet atau sesuatu yang bisa ia bayar untuk belanjaannya. Namun, mata Grizella membulat sempurna ketika mengingat bahwa ia lupa membawa dompetnya. Bahkan uang sepeserpun lupa di bawa olehnya. Grizella merasa canggung dan tidak enak kepada Nona penjaga kasirnya. Grizella hendak meminta maaf. Tiba-tiba tangan seorang pria memberikan kartu rekening kepada Nona kasirnya. Grizella menoleh ke sampingnya. Melihat Jaxton yang sedang tersenyum kepadanya.
"Kamu bisa mentotalkan semua balas budimu dan aku tidak akan mendesakmu untuk membayarnya. " seru Jaxton tersenyum.
"Itu tidak perlu Tuan. Saya kembalikan saja semuanya. "
"Tidak apa-apa. " Mengambil kartunya kembali dari Nona kasir dan kembali memasukkan kartu tersebut ke dalam dompetnya. " Kita sudah sampai di sini dan kamu juga sangat membutuhkannya, bukan! " Jaxton mengambil bungkusan belanjaan Grizella di tangan kirinya dan mengangkat tabung gas di tangan kanannya.
"Tapi Tuan.... " seru Grizella menggantung karena Jaxton sudah keluar duluan. Membawa semua barang belanjaannya. Grizella pun menoleh ke arah Nona kasir dan tersenyum canggung. " Makasih Mbak ya. " Grizella pun mengejar Jaxton. Grizella sedikit berlari karenaย langkah pria itu terlalu besar.
"Biar aku bantu membawa bungkusannya. " seru Grizella saat wanita itu sudah mensejajari langkah kaki Jaxton.
__ADS_1
" Tidak apa-apa. Biar aku saja yang bawa semuanya. "
"Tidak. Biarkan aku saja yang bawa. Bahkan kedua tanganmu terpakai. Apalagi tabung gas ini. Pasti itu terlalu beratkan. " Grizella mendekat dan mencoba mengambil bungkusan plastik di tangan kiri Jaxton namun pria itu tidak melepaskan bungkusan di tangannya.
"Tidak perlu. Ini terlalu berat untuk kamu bawa. Apalagi dengan tangan kecil itu. " Melihat tangan Grizella. Grizella pun menoleh ke arah tangannya. Ia tersenyum kala tahu kondisi tangannya. Jaxton ikut tersenyum lihat wajah Grizella yang malu-malu.
"Emm itu. Terima kasih untuk semuanya. Nanti akan saya akan ganti semuanya setiba kita tiba di rumah. " seru Grizella canggung tanpa menoleh ke arah Jaxton.
"Kenapa! " Berhenti. Melihat ke samping. Gadis di sampingnya terlihat malu-malu. "Aku ikhlas melakukannya. Tapi, jika kamu mau ganti maka kamu bisa menggantinya lain kali. " lanjutnya.
"Tapi aku tidak mau berhutang budi terus kepadamu. " lirih Grizella. Menundukkan kepalanya. Tidak mau menunjukkan wajahnya yang mungkin sudah memerah karena malu.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh membantu kamu. Kamu tidak perlu segan dan canggung kepadaku. Karena anak-anakku sepertinya sangat menyukaimu. Dan aku juga sangat menyukaimu. "
Deg...
Deg...
Deg...
"Aku akan masuk dan membuka pintu dulu. "seru Grizella ketika mereka sudah berada di depan kamar kos. Jaxton hanya diam dan membiarkan Grizella membuka pintunya.
Setibanya di dalam Jaxton langsung meletakkan bungkusan plastik di atas meja. Jaxton pun langsung pergi ke dapur dan memasangkan tabung gas ke slangnya. Awalnya Grizella menolak Jaxton melakukan hal itu namun Jaxton sepertinya tidak mau di bantah. Sampai akhirnya Grizella membiarkannya. Grizella memilih menyusun peralatan yang dia beli di toserba tadi.
"Terima kasih atas semuanya. Kalau kamu ada waktu, aku mau mentraktir kamu makan. " seru Grizella menatap Jaxton ketika pria itu sudah selesai dengan tugasnya. Jaxton pun tersenyum lalu menyodorkan ponselnya di depan Grizella. Grizella menjadi bingung terhadap apa yang dilakukan oleh Jaxton.
"Simpanlah nonormu di sini. " Jaxton mengerakkan ponselnya agar Grizella menyimpan nomor ponselnya.
__ADS_1
"Tapi untuk apa kamu nomorku? " tanya Grizella.
"Biar aku bisa menagih kamu untuk mentraktiku makan . " jelas Jaxton tersenyum seramah mungkin. "Simpanlah nomor ponselmu di situ. "Lanjutnya. Grizella awalnya terkejut. Grizella pun mengambil benda pipih tersebut lalu mengetikkan nomor ponselnya. Setelah selesai dia mengembalikan kembali benda pipih tersebut ke pemiliknya. Jaxton terlihat memanggil seseorang melalui ponsel di tangannya. Dan benar saja ponsel Grizella berdering. Grizella mengambil ponselnya yang iaย letakkan di sofa lalu mengangkatnya.
"Baiklah. Itu adalah nomorku. Jangan lupa di simpan nomor ku yah. " seru Jaxton. Grizella pun menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu jadi nambah kopinya? Aku akan buatkan sekarang. " seru Grizella. Menatap wajah Jaxton.
"Tidak perlu. Hari sudah malam. Anak-anak pasti sedang menungguku pulang. Mereka tidak akan bisa tidur tanpa diriku di sampingnya. " Jaxton mengeluarkan kunci mobil yang dia taruh di sofa. " Kuncilah jendela dan pintunya dengan rapat. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam pada malam hari. Kalau ada apa-apa kamu bisa menelpon ku. Aku akan datang jika kamu membutuhkanku. " Jaxton sudah berdiri di luar pintu. " Kalau begitu aku pergi dulu. Ingat! Langsung kunci pintunya dan jangan buka kalau hari sudah malam. Sekarang kamu masuklah ke dalam. Selamat beristirahat. " Jaxton menlambaikan tangannya. Menunjukkan perpisahan mereka di malam itu. Jaxton terus tersenyum sampai Grizella sudah tidak terlihat lagi. Terbatas oleh benda padat di depan mereka.
Huh. Suasana macam apa ini. Kenapa dia lembut dan hangat begitu kepadaku. Kenapa juga jantungku berdetak kencang seperti tadi ketika dia mengatakan suka padaku. Ada apa ini! Grizella.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Terima kasih ๐๐
Jangan lupa dukungannya yah kesayangan ๐๐๐
__ADS_1
By : Nadila Sizy
#Grizella&Jaxton_LFR