Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy

Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy
My wife can be childish


__ADS_3

Di RS swasta yang ada di kota tersebut. Mario membantu sang istri berbaring di tempat tidurnya. Menarik selimut sampai ke dada wanita itu. Wanita itu menurut dengan wajah di tekuk kesal. Mario yang melihatnya hanya bisa menunjukkan senyum pepsodentnya.


"Malah senyum-senyum yang bikin orang kesel gitu. Jika bukan karena adikku aku malas menceritakan semuanya. " ucap Issabela kesal dengan Mario karena pria tampan tersebut senang sekali mengoda suami adik iparnya.


"Maafkan hubby, sayang. Sesungguhnya hubby hanya ingin mengodanya. Jarang-jarang orang seperti itu di goda sampai segitunya. " balas Mario yang sekarang sudah ikut tidur di samping istrinya.


"Sini, mendekatlah. " menepuk dadanya agar wanita di sampingnya bersandar di sana. Issabela pun luluh. Menggerakkan badannya. Menurut apa yang diinginkan oleh suaminya tersebut.


"Tapi jangan lagi hubby ulangi kesalahan pahaman ini. Itu akan merusak RT mereka. " peringatan dari Issabela kepada suaminya.


"Iya, sayang. Yaudah, kita tidur sekarang ya. " ucap Mario. Issabela pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Di tempat lain di waktu yang sama. Grizella dan Jaxton sudah selesai dengan ritual mandinya. Mereka keluar dengan kimono handuk berwarna putih.


Grizella terlihat mengeringkan rambutnya. Sudah dengan pakaian lengkap. Jaxton sendiri baru selesai memakai pakaiannya.


Melihat istrinya sedang mengeringkan rambut. Jaxton pun mendekat dengan senyuman di bibirnya ketika melihat sang istri melihatnya dari pantulan cermin.


"Biar aku bantu. " ucap Jaxton. Grizella pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Emm, apa aku boleh bertanya? " Grizella membuka pembicaraan dengan ragu-ragu. Takut sang suami menganggapnya wanita yang tidak baik-baik. Jaxton pun tersenyum melihat rasa ragu pada diri istrinya itu. Jaxton pun membelai pipi kanan sang istri. Memastikan bahwa saat ini dia menerima semua keluhan istrinya tersebut.


"Mau bicara apa? Katakan saja langsung. Aku akan mendengarkannya. " ucap Jaxton kembali fokus dengan rambut sang istri. Menatap wajah polos istrinya di balik pantulan cermin.


"Emm, apa ... apa Nona.... " ucap Grizella terhenti karena mendengar suara ketukan dari luar.


"Ada apa? " tanya Jaxton dari dalam. Grizella pun terlihat menunggu respon dari orang yang berada di luar.


"Jax. Ini aku, Bianca mu. " balas Bianca. Grizella terlihat tidak suka dengan cara bicara Bianca. Seolah menunjukkan bahwa dirinya adalah wanita yang di dambakan oleh suaminya.


"Bianca! Ada apa? " tanya Jaxton dari dalam. Belum mau membuka pintu kamarnya.


"Iish kamu ini. Buka dulu pintunya. " balas Bianca. Jaxton pun hendak membuka pintu tapi tangannya di cekal oleh Grizella. Grizella geleng-geleng kepala. Menatap Jaxton dengan raut wajah yang cemberut.


"Biar aku yang buka. Kamu keringkan dulu rambut kamu pakai ini. " memberikan pengering rambut yang di pakai Jaxton untuk rambutnya tadi kepada suaminya tersebut. Jaxton pun tersenyum lalu mengusap lembut pipi Grizella. Grizella diam saja. Tidak ada reaksi sedikit pun. Masih ada raut kesal ketika mengingat perkataan Bianca siang tadi.


Grizella pun melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar. Perlahan membukanya.


"Jax aku.... " ucap Bianca terhenti karena ia pikir Jaxton yang akan membukakan pintu untuknya.


"Ada apa? " tanya Grizella dengan wajah datarnya. Bianca pun melihat pakaian Grizella. Entah kenapa, membuat dirinya marah tapi tidak bisa juga mengungkapkan kemarahannya itu.


"Dimana Jaxton? " tanya Bianca mencari sosok pria itu.


"Ada di dalam. Emang kamu mau apa sih? " tanya Grizella. Bianca pun tidak menjawab. Dia langsung mendorong tubuh Grizella agar minggir dari hadapannya. Lalu, mencari keberadaan pria yang sedang di carinya tersebut. Dilihatnya Jaxton sedang mengeringkan rambut. Bianca pun tersenyum lalu berjalan mendekati Jaxton.


"Kok kamu sendiri yang melakukannya. Apa tidak ada yang bisa mengurusmu, hem?" Menatap Grizella dengan ekor matanya.


"Sini biar aku yang bantu." mencoba mengambil pengering rambut di tangan Jaxton.

__ADS_1


"Tidak usah. Aku bisa meminta bantuan kepada istriku. " balas Jaxton melihat ke arah istrinya. Jaxton tersenyum kepada istrinya tersebut. Grizella pun membalas hal yang sama.


Bianca menyilangkan tangannya di dada,  menatap tidak suka kepada Grizella. Dan itu bisa dilihat oleh Jaxton. Tapi, pria itu mencoba bersabar mengingat orang tua mereka bersahabat dekat.


"Sini sayang. Kita gantian lagi. Tadi kan aku udah bantu kamu ngeringin rambut kamu. Sekarang giliran aku lagi." ucap Jaxton mencoba mengumbar ke romantis mereka di depan Bianca. Karena Jaxton tau istrinya itu bukanlah gadis yang suka memanasin orang hanya untuk kepuasannya sendiri. Jaxton pun menarik tubuh Grizella untuk mendekat ke arahnya.


"Kamu kenapa begini sih. Aku malu tahu. " bisik Grizella menoleh sekilas ke arah Bianca yang ada di belakangnya. Jaxton pun tersenyum lalu mengusap sayang rambut kepala Grizella.


"Tidak apa-apa. Kita adalah suami istri. Tidak apa-apalah mesra-mesraan. Nih. " memberikan pengering rambut kepada Grizella. Grizella pun menerimanya. Jaxton pun melihat ke arah Bianca.


"Kamu ngapain ke sini? Keluarlah jika tidak ada yang mau kamu bicarakan. " ucap Jaxton melihat sekilas Bianca lalu kembali fokus melihat ke arah istrinya.


"Aku hanya mau bilang kalau aku akan menginap semalam di sini. Kalau begitu aku pergi dulu. " ucap Bianca yang langsung berlalu karena takut Jaxton akan mengusirnya. Bianca sudah merasa tidak aman jika bicara dengan Jaxton bila ada Grizella di samping pria itu. Ia merasa akan kalah meski dia belum melakukan apa-apa.


Jaxton pun melihat sekilas wanita itu pergi. Lalu, kembali fokus dengan istrinya.


"Kenapa hanya diam, hem? " tanya Jaxton. Grizella pun mengernyitkan keningnya. Bingung dengan pertanyaan Jaxton.


"Tadi kamu bilang mau bicara sesuatu. " ucap Jaxton menjelaskan karena melihat istrinya yang kebingungan.


"Emm, tapi kamu jangan marah. Aku takut kamu marah padaku nanti. " balas Grizella menundukkan kepalanya.


"Aku tidak akan marah. Katakan saja. " ucap Jaxton.


Grizella menatap lekat suaminya. Mencoba mencari keberanian di mata sang suami.


Jaxton memegang dagu Grizella. Mendongakkan kepalanya agar istrinya itu melihat ke arahnya.


"Dia memang pernah tidur di sini. Tapi, percayalah bahwa aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun. Aku pertama kali tidur dengan gadis. Dan gadis itu adalah gadis yang ada di depan ku sekarang. Apa kamu percaya padaku, hem? " tanya Jaxton menatap hangat istrinya tersebut. Grizella melihat kejujuran di mata suaminya. Grizella pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Jaxton pun langsung menarik tangan Grizella. Membuat tubuh gadis itu menempel erat di dekapannya.


"Tapi aku tidak mau ada wanita lain di sini. Aku tidak suka. Aku tidak tahu kenapa. Tapi yang jelas aku tidak menyukainya. " ucap Grizella masih menempelkan kepalanya di dada kekar Jaxton.


"Apa kamu mau aku mengusir dia dari sini? " tanya Jaxton. Grizella pun mengelengkan kepalanya.


"Ya janganlah. Aku tidak akan pernah berani meminta hal yang seperti itu. Hanya saja aku tidak mau ada lagi wanita asing yang menginap di sini. Kamu pahamkan? " tanya Grizella.


"Aku tahu sayang. Lalu, aku harus bagaimana sekarang? " tanya Jaxton.


"Aku juga tidak tahu. " balas Grizella. Jaxton pun tersenyum lalu mengusap lembut kepala Grizella.


"Yaudah, ini adalah malam terakhir wanita asing menginap di sini. Lain kali aku tidak akan membiarkan orang asing menginap di sini. Apa kamu senang sekarang, hem? " tanya Jaxton. Grizella tidak menjawab. Dia malu sendiri dengan keinginannya tersebut. Ada rasa  senang di hatinya karena Jaxtone menuruti permintaannya. Tapi, dia tahu malu. Dia tidak mungkin menunjukkan kebahagiaannya karena berhasil membuat Jaxton untuk berpihak kepadanya. Alhasil, Grizella hanya bisa membenamkan wajahnya di dada kekar Jaxton.


"Kamu mau keluar nggak? Biasanya aku mengajak anak-anak jalan-jalan sore ke taman. Apa kamu mau ikut? " tanya Jaxton.


"Yaudah, kalau begitu aku lihat anak-anak dulu. " balas Grizella. Jaxton pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Grizella pun keluar dari kamarnya setelah ia selesai merias dirinya. Grizella pergi ke kamar si kembar. Dilihatnya anak-anak tengah bersama Bianca. Terlihat mereka akan pergi ke suatu tempat. Grizella pun berjalan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Apa kalian mau pergi? Tanpa Mommy kalian akan pergi? " tanya Grizella memelas. Bukan Kenapa-napa. Grizella merasa tidak becus menjaga anak-anak itu. Harusnya dia ada waktu untuk si kembar. Tapi, ini malah orang lain yang lebih dekat dengan mereka. Harusnya ia lebih dekat dengan anak-anak tersebut. Karena dia lah Mommy mereka.


Si kembar pun menatap tidak tega Mommynya. Lalu, menoleh ke arah Bianca. Awalnya, mereka memang ingin pergi dengan Bianca untuk jalan-jalan ke Mall. Tapi, sepertinya rencana itu harus merasa urungkan karena tidak tega melihat wajah memelas Mommy mereka.


Jaxton yang sudah selesai pun pergi ke lantai bawah. Dia bisa melihat raut wajah Grizella yang sedih. Dia tidak percaya jika istrinya itu ternyata memiliki sifat ke kekanak-kanakan juga. Bisa cemberut juga jika ia merasa di abaikan. Melihat itu membuat Jaxton tersenyum sendiri. Geli aja melihat istrinya itu. Padahal, istrinya adalah seorang guru. Seharusnya ia mempunyai kepekaan sendiri. Tapi, nyatanya tidak. Tapi, ia beruntung dengan semua itu. Jadi, dia memiliki kesempatan untuk membuat istrinya itu bermanja-manja dengannya. Jaxton pun berjalan mendekati mereka.


"Sayang. Apa kalian mau ikut dengan Daddy dan Mommy? " tanya Jaxton ketika sudah berada di samping sang istri. Grizella tersenyum melihat Jaxton ada di sampingnya. Apalagi Jaxton melingkarkan tangannya di pinggang ramping miliknya. Menunjukkan betapa ia tidak mau jauh-jauh darinya. Grizella pun melihat reaksi si kembar. Dilihatnya si kembar terlihat antusias.


"Ayuk, Dad, Mom. " balas si kembar serentak.


"Yaudah, ayuk. " ucap Jaxton memberikan tangannya agar si kembar memegang nya. Si kembar pun berjalan ke arah Jaxton. Lalu, menyematkan jemari mereka di jemari Jaxton.


Jaxton dan Grizella pun keluar bersama anak-anak. Si kembar sudah bersiap-siap. Grizella pun mengekor di belakang sang suami. Bianca terlihat mengikuti mereka dan Jaxton pun menyadari hal itu.


"Aku tidak mau ada orang lain di antara kami. Lebih baik baik kamu di rumah saja. Aku rasa kamu kelelahan seharian mengurus pasienmu. " ucap Jaxton melihat Bianca dengan ekor matanya. Wanita itu terdiam mendengarkan ucapan Jaxton. Dulu, pria itu selalu membiarkan dirinya ikut jalan-jalan sore. Tapi, hari ini tidak. Hatinya sedih di perlakuan seperti itu. Dan ia menyalahkan Grizella terhadap semua itu. Karena keberadaan Grizella membuat posisinya bergeser. Perlahan-lahan juga kasih sayang si kembar tidak ada lagi untuk mereka.


Wanita sialan. Semua ini gara-gara kamu. Aku tidak pernah di perlakuan seperti ini sebelumnya. Aku bahkan bebas melakukan apapun di rumah ini sebelumnya. Kenapa kedatanganmu membuat semua orang berubah padaku. Apa yang kamu miliki sehingga mereka berpaling dariku dan memilih kamu di dekat mereka. Apa lebihnya kamu dari aku. Kamu hanya wanita kampungan yang tidak tahu apa-apa tentang dunia Jaxton. Kehidupan tentang keluarga Davinchi ini.


Grizella merasa bersalah terhadap Bianca. Tapi, dia tidak bisa berbuatapa-apa juga. Entah kenapa, keberadaan Bianca membuat dia tidak suka.


Jaxton dan Grizella pun melangkahkan kakinya ke arah taman yang ada di sekitar mansion. Taman di mansion berada tidak jauh dari posisi mereka.


Setibanya di taman. Si kembar melihat pedagang ice cream. Si kembar meminta kepada Jaxton untuk membelikannya.


"Aku rasa strawbery dan aku samangka. " ucap si kembar bergantian. Jaxton pun menoleh ke arah istrinya.


"Kamu,  sayang? Mau rasa apa? " tanya Jaxton melihat gadis itu termenung.


"Emm. Aku mau rasa vanila saja. " balas Grizella.


"Yaudah. Kalian tunggu di sini ya. Daddy akan membelikannya untuk kalian. " ucap Jaxton mengusap lembut kepala si kembar. Lalu, memberikan senyuman hangatnya untuk Grizella. Tidak mungkin kan ia mencium bibir gadis itu di depan anak-anak. Memikirkan hal itu membuat Jaxton tersenyum sendiri. Membuat 3 perempuan di depannya mengernyitkan keningnya. Bingung dengan pria di depannya.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Maaf ya. Setelah aku lihat. Aku lebih baik Update 1 episode tiap harinya. Karena jika aku up 2 likenya tidak banyak. Jadi, untuk sementara ini aku up 1 saja dulu ya. Tunggu sampai likenya bertambah maka akan aku doble Update lagi ^^


Tapi, tenang saja. Meski cuman 1 eps aku tetap up banyak kok^^ .


TERIMA KASIH ^^

__ADS_1


__ADS_2