Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy

Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy
Mommy for my children


__ADS_3

Setelah puas bermain dan juga menghamburkan  kemesraan. Keluarga kecil itu pun memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Si kembar terlihat berjalan berbarengan di depan. Sedangkan pasangan baru itu memilih bermesraan di belakang anak-anak. Setiap kesempatan di ambil oleh Jaxton untuk mencuri kecupan di wajah sang istri. Gadis itu sampai merasa risih karena selalu di perhatikan oleh orang yang lewat.


Untung di sana perumahan elit. Sehingga, tidak terlalu banyak yang memperhatikan.


"Iih. Udah dong. " ucap Grizella mendorong wajah Jaxton yang menempel di pipinya.


"Kenapa! Aku kan begini hanya kepadamu saja. Lain juga jika bersama wanita lain. " ucap Jaxton masih melingkarkan satu tangannya di pinggang Grizella.


"Tapi aku malu tahu. Coba saja nanti kamu main sama wanita lain. Siapkan saja berkas-berkas nya. " ucap Grizella berlalu meninggalkan Jaxton. Jaxton pun mengernyitkan keningnya.


"Maksudnya apa? Berkas apa? " tanya Jaxton bingung. Jaxton pun terlihat berpikir dan matanya membulat ketika tahu maksud dari perkataan sang istri.


"Sayang, kok ngomongnya gitu, sih. " ucap Jaxton mengejar Grizella yang sudah masuk ke gerbang mansionnya bersama si kembar. Grizella yang di panggil Jaxton hanya bisa tersenyum. Membuat si kembar kebingungan.


"Mommy kenapa senyum-senyum begitu? " tanya Chloe.


"Tidak apa-apa, sayang. Kita masuk ke dalam ya. " ucap Grizella dengan langkah cepat masuk ke dalam mansion. Tapi, Jaxton langsung mencekal tangan Grizella. Membiarkan si kembar masuk duluan.


"Kenapa ngomongnya seperti itu? Aku tidak mau kamu bicara seperti itu lagi. Aku mencintaimu, sayang. " ucap Jaxton memeluk erat tubuh kecil Grizella. Tidak membiarkan gadis itu melawan ataupun memberontak sedikit pun karena Jaxton sudah mengunci setiap pergerakan tubuh Grizella.


"Iya, aku tidak akan bicara seperti itu lagi. Lepaskanlah pelukannya. " ucap Grizella. Jaxton pun melepaskan pelan-pelan pelukannya. Grizella yang sebelumnya di kunci pergerakannya oleh Jaxton tiba-tiba oleng karena belum menyesuaikan posisi berdirinya. Untung Jaxton ada di depannya sehingga pria itu langsung menarik tubuh Grizella kepelukkannya lagi.


"Kamu yang seperti ini mengemaskan tahu. " ucap Jaxton memeluk dengan sayang pujaan hatinya. Grizella mengerucutkan bibirnya lalu tersenyum.


"Aku tahu, aku itu mengemaskan. Buktinya kamu jatuh cinta padaku. " balas Grizella. Grizella pun ikut memeluk tubuh Jaxton.


"Hahaha. " Jaxton tertawa bahagia. Tapi, tawanya tidak berlangsung lama karena tiba-tiba ada pengganggu kemesraan mereka.


"Ehem. Kecentilan amat sih jadi cewek. " sindir Bianca yang berdiri di depan pintu masuk. Ia menyilangkan tangannya di dada lalu pura-pura melihat bunga yang ada di sampingnya.


"Kita masuk saja ya. Ada jomblo karatan. " sindir  Jaxton. Bianca yang mendengarnya hanya bisa mengeram kekesalannya.


Jaxton dan Grizella pun masuk ke dalam mansion. Jaxton melingkarkan tangannya di pinggang ramping Grizella. Mereka langsung masuk ke dalam kamar.


Setibanya di kamar. Grizella terlihat membersihkan tangannya. Jaxton sendiri memilih untuk menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Ada beberapa email masuk dari sekretarisnya.


Grizella terdiam di kamar mandi. Ia terlihat berpikir. Bagaimana caranya ia meminta Bianca untuk pergi dari rumahnya. Ia tidak punya keberanian untuk mengusir orang lain. Apa lagi orang itu sahabat dari kecil suaminya. Sampai akhirnya, lamunan Grizella di buyarkan oleh Jaxton yang memanggilnya.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja di dalam? " tanya Jaxton di balik pintu kamar mandi. Menunggu istrinya itu keluar dari sana.

__ADS_1


"Eh, iya. Aku tidak apa-apa, kok. " balas Grizella. Grizella pun dengan cepat keluar dari kamar mandi. Ia langsung melihat Jaxton berdiri di depannya.


"Kamu yakin kamu baik-baik saja? " tanya Jaxton memegang kedua bahu Grizella. Memeriksa kondisi istrinya dari atas sampai bawah. Grizella pun tersenyum lalu mengusap lembut pipi kiri Jaxton.


"Aku baik-baik saja, sayang. Aku hanya.... " ucap Grizella ngegantung ucapannya. Ragu-ragu Grizella untuk bicara.


"Hanya apa? " tanya Jaxton. Grizella pun mengelengkan kepalanya. Tidak mau membicarakan masalah Bianca kepada suaminya tersebut.


Grizella memilih untuk menyibukkan dirinya dengan mengambil beberapa buku tugas yang dibawanya dari sekolah. Grizella memeriksa lagi tugas-tugasnya. Jaxton pun memperhatikan gerak-gerik istrinya. Terlihat jelas bahwa istrinya itu tengah menjauhi dirinya. Mencoba melupakan ucapannya barusan.


"Kamu ada masalah? " tanya Jaxton duduk di samping istrinya yang sibuk sendiri. Memegang bahu kanan gadis itu.


"Aku? Tidak kok. Kamu ada-ada saja. " ucap Grizella memukul pelan lengan Jaxton. Jaxton mengernyitkan keningnya. Dilihatnya sang istri seperti menutupi sesuatu. Ia yakin dengan hal itu.


Jaxton memegang kedua bahu Grizella. Lalu, menghadapkan gadis itu ke arahnya.


"Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Ella sayangku. " memberikan kecupan di kening Grizella.


"Aku tidak.... " balas Grizella terhenti karena Jaxton menahan bibir Grizella yang berbicara dengan jari telunjuknya.


"Kamu yang jujur atau aku cari tahu sendiri? " tanya Jaxton. Grizella pun menundukkan kepalanya. Mencoba jujur kepada suaminya.


"Kenapa juga aku harus begitu? " tanya Jaxton.


"Aku ini suami kamu. Apapun yang kamu lakukan aku akan mencoba memahami dan memikirkannya. Jadi, kamu tidak perlu takut aku berpikir buruk kepadamu, ya. " ucap Jaxton. Grizella pun mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap manik mata hitam sang suami.


"Aku tidak mau ada orang asing tinggal di rumah ini. " balas Grizella melirih.


"Bianca maksud kamu? " tanya Jaxton. Grizella pun menganggukkan kepalanya.


"Karena itu saja kamu jadi kayak gini. Nanti jika kamu mau membicarakan sesuatu katakan saja, ya. Aku tidak akan berpikir buruk kepadamu. Asal apa yang kamu lakukan adalah hal benar maka aku akan menyetujuinya. Kamu paham kan?" Tanya Jaxton.


Grizella menatap lekat suaminya.


"Kamu tidak marah jika temanmu tidak tinggal di sini lagi? " Tanya Grizella. Jaxton pun tersenyum lalu mengusap lembut pipi Grizella.


"Dia temanku dan kamu adalah istriku. Ayo tebak, siapa yang harus aku dukung? " tanya Jaxton. Grizella tidak menjawab. Gadis itu terdiam saja. Jaxton pun gemes. Lalu, melum** bibir ranum sang istri.


"Dia sahabatku. Kamu adalah istriku. Sudah pasti kamu yang aku dukung. Kamu paham kan? " tanya Jaxton memegang kedua pipi Grizella. Grizella pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Grizella pun memeluk erat tubuh Jaxton.

__ADS_1


"Makasih ya karena kamu setuju dengan pendapatku. " ucap Grizella. Jaxton pun membalas pelukan istrinya. Mengusap lembut punggungnya.


"Tapi kenapa kamu tidak mau dia tinggal di sini, hem? " tanya Jaxton.


"Aku merasa dia tidak baik saja. Aku rasa dia punya niatan untuk memperebutkan kamu dari aku. Aku tidak mau memelihara wanita yang akan merebut suamiku nantinya. " ucap Grizella yang mulai posesif. Jaxton tidak menyangka istrinya akan posesif seperti sekarang. Tapi, dia paham dengan rasa takut istrinya itu. Jaxton pun sadar jika Bianca suka kepadanya. Dia juga tidak mau nantinya keluarganya hancur hanya karena ada orang ketiga di rumahnya.


"Aku juga tidak mau tinggal di sini lagi. Kalian sudah memiliki kenangan di sini. Maaf jika aku egois. Tapi, aku tidak mau anak-anak mengingat masa lalu kalian di rumah ini. Aku tidak apa-apa rumahnya kecil asal rumah itu hanya memiliki kenangan kita saja. " ucap Grizella lagi. Lagi-lagi ucapan Grizella membuat Jaxton merona. Dia tidak menyangka istrinya itu memikirkan semuanya.


"Yaudah, ternyata istriku ini pencemburu juga, ya. Jika sudah bilang kayak begitu aku hanya bisa mengikuti alurnya saja. " goda Jaxton menatap Grizella dengan ekor matanya.


"Kamu mengejek aku. Yaudah, jika kamu tidak suka maka jangan lakukan. " ucap Grizella bangun dari duduknya. Lalu, hendak melangkahkan kakinya keluar. Sebelum itu terjadi. Jaxton sudah mencekal tangan Grizella. Menariknya hingga gadis itu terduduk di pangkuannya. Jaxton pun langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Grizella. Membenamkan wajahnya di dada gadis itu. Memeluk posesif istrinya.


"Kamu begitu saja sudah ngambek. Aku becanda, sayang. Aku hanya tidak menyangka saja jika kamu bisa posesif juga kepadaku. Dan aku tidak menyangka kamu memikirkan semuanya. Aku mencintaimu, Ella ku sayang. " ucap Jaxton. Jaxton pun mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap mata sayu sang istri. Dilihatnya gadis itu tengah merona karena ulahnya.


"Katakanlah, kamu mau rumah yang seperti apa. Aku akan membuatkan nya untukmu. " ucap Jaxton masih melingkarkan tangannya di pinggang ramping Grizella.


"Terserah kamu saja. Apapun bentuk rumahnya aku akan tetap menyukainya. Asalkan ada kamu dan si kembar di dalamnya. Aku akan tetap suka. " balas Grizella melingkarkan tangannya di leher Jaxton.


"Baiklah. Aku akan membuatkan rumah istimewa untukmu, istriku. " ucap Jaxton.


"Bagaimana dengan rumah ini? " tanya Grizella.


"Kamu maunya gimana? " tanya Jaxton sembari menyelipkan anak rambut Grizella yang mengganggu pipi gadis itu.


"Emm. Kamu sedekahkan saja. Lumayan buat tabungan di akhirat. " balas Grizella. Jaxton pun tersenyum. Gemes dengan istrinya. Istrinya terlalu baik apalagi memiliki sifat polos seperti sekarang ini.


"Memang cocok jadi Mommy untuk anak-anakku. " ucap Jaxton memeluk erat istrinya itu. Membenamkan wajahnya di dada sang istri.


.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2