Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy

Si Kembar Mencari Mommy : Menemukan Mommy
Evening Enjoyment


__ADS_3

Di dalam perjalanannya mengantar Grizella pulang. Jaxton berusaha untuk mengajak Grizella bicara. Namun, entah mengapa bibirnya terasa berat. Disaat Grizella menoleh ke arahnya Jaxton dengan cepat memalingkan wajahnya. Membuat Grizella mengangkat bahunya. Aneh nih orang pikir Grizella. Grizella pun memilih menampar jendela mobil dengan matanya. Dilihatnya hujan sangat lebat. Menutupi pemandangan nya keluar. Padahal tadi saat berangkat dari rumah Jaxton cuaca sangat bagus. Namun, entah kenapa saat dia pulang cuacanya sangat tidak bagus. Membuat tubuhnya gemetar kedinginan. Jaxton melirik nya. Jaxton teringat bahwa dia ada jaket yang tidak sengaja dia simpan di paper bag di kursi tengah mobilnya.


"Bisakah kamu ambilkan paper bag yang ada di belakang? " Melihat ke arah kursi belakang sekilas. Grizella pun menoleh ke belakang lalu mengambilkan paper bag itu untuk Jaxton.


"Bukalah. Dan untuk sementara pakailah jaket itu untuk melindungi kulitmu dari dinginnya malam ini. " seru Jaxton menoleh sekilas ke arah Grizella karena dia harus fokus mengemudikan mobilnya.


"Aku baik-baik saja. Kamu simpan saja jaketnya. " balas Grizella. Jaxton pun menghentikan mobilnya. Tidak senang Grizella menolak perintahnya. Jaxton mengambil paper bag di tangan Grizella lalu ia pun menutupi tubuh Grizella dengan jaket itu. Dengan sangat lembut dan hangat dia memakainya.


"Kalau kamu baik-baik saja kamu tidak akan gemetar seperti ini. " Melihat tubuh wanita itu yang gemetaran. Jaxton pun mengambil kedua tangan Grizella dan memberikan kehangatan dengan mengusap-usap tangan Grizella dengan  kedua tangannya.


"Lihatlah. Tanganmu dingin seperti ini. Bagaimana jika kamu sakit. Siapa yang akan menjaga kamu di saat kamu jauh dari rumah. " Grizella terpana dengan apa yang telah dilakukan oleh Jaxton untuknya. Jaxton sangat lembut dan penuh kasih Sayang saat memberikan kehangatan di jemarinya. Dirinya tidak bisa melawan sedikit pun saat pria itu menyentuhnya. Jantungnya berdegup kencang dan wajahnya merona melihat apa yang telah dilakukan oleh Jaxton untuknya.


"Apa sudah merasa lebih baik? Atau kita cari tempat untuk minum kopi? " tanya Jaxton. Grizella pun tersadar lalu mengelengkan kepalanya.


"Rumah ku sudah dekat. Aku langsung pulang saja. " Grizella memalingkan wajahnya karena sadar wajahnya bersemu. Jaxton pun tersenyum  lalu duduk di posisinya kembali. Jaxton kembali menghidupkan mobilnya.


Selang tidak lama Jaxton sudah menghentikan mobilnya di depan rumah kos Grizella. Hujan sudah mulai reda ketika mereka sampai di sana. Security yang bertugas malam pun membukakan pintu gerbang. Security itu terpana. Baru kali ini dia melihat mobil mewah terpikir di depan kosan. Security itu tersenyum ramah ketika Jaxton berterima kasih kepadanya.


"Makasih ya sudah mengantarku pulang. Maaf karena sudah merepotkan kamu dari tadi. " seru Grizella ketika mereka sudah keluar dari mobil.


"Sama-sama. Semua ini aku lakukan karena sudah tugas aku kamu selamat sampai tujuan. Dan juga aku tidak merasa di repotkan sama sekali. Malah saya berterima kasih karena kamu sudah menemani anak-anak jalan-jalan tadi. " seru Jaxton. Grizella hanya bisa tersenyum untuk membalas ucapan terima kasih Jaxton.


"Baiklah. Apa kamu mau mampir dulu. Sekedar minum kopi. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah di antar pulang. Dan juga meminjamkan ini. " Menunjuk jaket yang di pakainya. Menatap Jaxton dengan senyuman di bibirnya.


"Apa saya boleh masuk. Kalau tidak merepotkan. Boleh saya memakai toiletnya sebentar." Seru Jaxton.

__ADS_1


Grizella pun membawa Jaxton masuk ke dalam kosannya. Sebuah ruangan dengan ukuran 10 × 20 m luasnya. Cukup untuk menyimpan dan memajang alat-alat yang digunakan oleh wanita itu. Balkon kecil juga terdapat di sana. Jaxton memperhatikan setiap ruangan dan sudut. Grizella menyadari Jaxton tengah memperhatikan kamar kosnya. Dan lebih canggung nya lagi ketika dia melihat laki-laki itu melihat tempat tidurnya yang kecil. Grizella merasa canggung dan dengan cepat dia membawa Jaxton ke kamar mandi. Selagi Jaxton di kamar mandi Grizella memanaskan air putih dan merapikan bubuk kopi buatannya sendiri.


Di dalam kamar mandi Grizella. Jaxton mematung. Dia melihat peralatan mandi Grizella. Jaxton terperanjak dan pipinya memerah melihat pakaian dalam Grizella terletak di tempat pakaian kotor. Dengan cepat Jaxton memalingkan wajahnya lalu ia mencuci segera wajahnya. Jaxton bahkan melupakan tujuannya ke kamar mandi Grizella. Grizella di buat bingung sendiri karena Jaxton keluar dari kamar mandi dengan tergesa-gesa. Namun dia tidak ambil pusing dan tetap fokus membuat racikan bubuk kopi untuk Jaxton.


"Maaf tuan. Karena saya masih belum selesai membuat kopinya. Bagaimana kalau tuan cari udara segar dulu di luar. " Menunjuk balkon yang ada di dekat sofa. Namun, Jaxton malah mendekatinya. Membuat Grizella terdiam karena bingung dan merasa canggung karena Jaxton mendekatinya.


"Tuan lagi! Bahkan bicaramu juga formal lagi." Mendekati Grizella. Grizella pun mundur ke belakang. " Apa kita tidak bisa lebih dekat lagi. Kamu bahkan sudah meminta aku minum secangkir kopi di sini. Tapi, kenapa kita masih seperti orang asing lagi. " Jaxton sudah mendekat. Membuat Grizella membentur dinding dapur. Jaxton sudah menopang dinding dengan kedua tangannya agar wanita di depannya tidak menjauh darinya.


"Emm ... itu ... karena sa... aku belum terbiasa. " Memalingkan wajahnya karena jarak mereka yang sangat dekat. Jaxton tersenyum ketika melihat wajah Grizella yang merona. Lalu dia pun menyentil kening Grizella.


"Ini adalah hukuman untukmu karena belum terbiasa memanggil namaku. " Jaxton pun menjauh dan meninggalkan Grizella di dapur.  Dia memilih pergi ke balkon. Takut tidak bisa menahan hasratnya kepada Grizella. Di luar Jaxton terlihat melepaskan rasa lelahnya dengan menghirup udara segar. Untuk pertama kalinya Jaxton mendatangi rumah seorang wanita. Dia merasakan kenyamanan disana. Sebuah kenyamanan yang belum pernah dirasakannya selama ini. Meski kecil namun kehangatannya bisa membuat dirinya bahagia. Kamar mandi di rumahnya bahkan lebih besar dari tempat yang ia datangi saat ini. Dia terbuai dalam kenikmatan. Memandangi perpohonan dari lantai 3 gedung tersebut.


"Ini. " Grizella memberikan secangkir kopi panas. Membuyarkan lamunan pria itu ketika menikmati pohon yang basah oleh air hujan. Grizella datang dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya. Jaxton terlihat lalu mengambil kopi panas dari tangan wanita itu.


"Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama. " lanjut Grizella. Grizella pun ikut melihat perpohonan yang basah oleh air hujan dan melihat genangan air di atas tanah yang berumput.


Jaxton merasai setiap rasa yang ada di dalam mulutnya. Bibirnya terasa manis. Membuat lidahnya keluar untukemckbai sisa kopi di mulutnya. Grizella melihat reaksi Jaxton ketika meminum kopi buatannya.


"Jika kamu mau lagi, aku akan membuatkannya untukmu. Bubuk kopinya sudah aku racikan. Jadi, kita hanya membutuhkan air panas saja lagi. "


"Jika tidak keberatan apa aku boleh minta secangkir lagi ? " Tanya Jaxton tersenyum. Melihat ke gelasnya yang sudah kosong. Grizella tersenyum lalu mengambil gelas kosong di tangan pria itu.


"Baiklah. Kamu tunggu sebentar. Akan aku buatkan. " jawab Grizella tersenyum.


Grizella kembali ke dapur. Dia menghidupkan kompor gas untuk memanaskan air putih. Namun, apinya tidak Keluar - keluar.  Grizella melihat ke arah tabung gas dan ternyata isi gasnya sudah habis  Grizella pun memutuskan untuk membeli isi ulang gasnya. Grizella membuka tabung gas dari slangnya dan membawanya keluar. Sebelum itu dia pamit dulu  kepada Jaxton untuk membeli isi ulang gasnya.

__ADS_1


"Emm ... itu kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau keluar Untuk membeli isi ulang gas. Sebentar kok. " seru Grizella yang sudah mengangkat tabung gas. Namun, Jaxton tiba-tiba mengambil tabung gas dari tangannya. Membuat wanita itu terkejut.


"Aku akan mengantarmu kamu. Hari sudah malam. Tidak baik keluar sendirian. Lagi pula tabung gas ini sangat berat. Biar aku temani dan membantu kamu membawanya. " Jaxton berdiri di samping Grizella.


"Tapi.... " Grizella tidak menyelesaikan ucapannya karena Jaxton sudah jalan duluan. Meninggalkannya sendiri yang mematung. Grizella pun mengikuti dari belakang dan mengunci kamarnya.


"Maaf ya sudah sangat merepotkan kamu. " seru Grizella yang sudah mensejajari langkah kaki Jaxton.


"Tidak apa-apa. Anggap sebagai bayaran kopi nikmat yang sudah kamu buat untukku. " Jaxton tersenyum.


"Tapi, itulah bentuk terima kasihku karena kamu sudah membantuku. " balas Grizella.


"Kalau begitu kamu bisa menggantinya di lain hari." Jaxton tersenyum. "Emm ... Ngomong-ngomong apa tempatnya masih jauh? " tanya Jaxton.


"Ah tidak kok. Dikit lagi nyampe. " balas Grizella.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2