Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Drama Zoya.


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain, Zoya sudah memarkirkan mobilnya di salah satu restoran yang tidak jauh dari rumahnya. Dia menelepon Daffin dengan suara yang dibuat-buat seolah dia sedang menangis.


"Ami- Ami." Suaranya terputus-putus seolah dia sedang menangis saat suamiya mengangkat teleponnya.


" ... "


"Ami hilang, aku sudah mencarinya tapi gak ketemu."


" ... "


"Cepatlah ke sini, aku gak tau harus mencarinya ke mana lagi."


Setelah itu sambungan telepon antara dirinya dan suaminya terputus, dia kembali menelepon seseorang dan meminta pada orang yang diteleponnya untuk mendatanginya.


Tak lama setelah panggilan antara dirinya terputus, seseorang mengetuk kaca mobilnya, dia pun segera membuka kaca mobilnya dan berbicara dengan seorang pria berpakaian security.


"Apa kamu ingat apa yang harus kamu lakukan?" tanyanya pada security yang bekerja di restoran itu, orang itu adalah orang yang akan membantunya dalam rencana itu.


Restoran itu adalah restoran milik teman Zoya dan dia sudah meminta bantuan pada temannya yang saat ini sedang tidak berada di tempat, jadi temannya meminta security itu untuk membantunya.


"Saya ingat, Nona anda tenang saja, saya pastikan tidak akan ada yang akan curiga," jawab security dengan yakin.


"Bagus," gumam Zoya dengan menyeringai.


Dia menunggu suaminy datang sambil memainkan ponselnya menscrol media sosialnya, saat security itu memberi kode, jika Daffin datang. Dia dengan segera mengambil obat tetes mata, di dalam tas-nya dan langsung meneteskan di matanya, ekspresinya sudah berubah seperti orang yang benar-benar sedih.


"Sayang, bagaimana apa sudah ketemu Ami-nya?" tanya Daffin berdiri di samping mobil Zoya dengan wajah khawatirnya.


"Belum, ini security yang membantuku mencari Ami, tapi dia juga tidak menemukannya,"sahut Zoya turun dari mobilnya dan langsung memeluk suaminya.


"Apa sudah coba periksa cctv?" tanya Daffin pada security itu dengan memeluk Zoya.


"Maaf, Tuan. Saat ini cctv-nya rusak dan belum diperbaiki karena atasan saya, saat ini belum kembali dari urusannya di luar kota, jadi kami belum sempat memperbaikinya," terang security itu.


"Terus, apa kalian gak coba tanya orang-orang di sini apakah ada yang melihat adik iparku atau tidak?" tanya Daffin dengan ekspresi khawatir yang jelas terlihat di wajahnya.

__ADS_1


Melihat suaminya menghawatirkan Ami dengan begitu serius, membuat dada Zoya bergemuruh, kecemburuan pada adiknya semakin meningkat, dia tidak terima suaminya begitu memperhatikan Ami.


"Aawww," ringis Zoya memegang perutnya untuk mengalihkan perhatian suaminya dari kekhawatiran terhadap Ami.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Perut aku sakit," lirih Zoya seolah benar-benar tengah kesakitan.


"Tuan, sebaiknya anda bawa istri anda untuk istirahat, sepertinya dia kelelahan, karena sudah hampir satu jam berkeliling mencari adiknya," saran security.


"Baiklah, ayo kita pulang. Pak saya titip mobil dulu ya, nanti akan ada sopir saya yang mengambilnya ke sini. Rumah kami tidak jauh dari sini," ucap Daffin memapah Zoya ke mobilnya.


"Baik, Tuan. Saya pasti akan menjaga mobil ini dengan baik," ucap security itu.


Daffin menganggukkan kepalanya dan memasuki mobil, tidak menunggu lama lagi, dia menjalankan mobilnya, meninggal parkiran restoran.


"Kenapa kamu gak hubungi aku dari tadi, biar kamu gak harus cari Ami sampai kamu kelelahan seperti itu," ucap Daffin di tengah-tengah perjalanan pulang.


"Aku gak mau ganggu kamu, aku kira Ami belum terlalu jauh makanya aku coba cari sendiri," sahut Zoya mengusap perutnya yang masih rata.


"Tenanglah, biar nanti aku bicara pada Papa, jika dia pulang dan Ami belum ketemu," ucap Daffin menatapnya sekilas sambil tersenyum dan mengusap ujung kepala Zoya untuk menenangkannya.


"Aky takut, Papa akan semakin membenci aku."


"Jangan banyak pikiran ya, aku gak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa, masalah nanti biar nanti saja kita hadapinya, jangan dipikirkan dari sekarang."


Zoya mengangguk dan mengusap pipinya yang basah, dia menyeringai karena rencananya berhasil. Dia sudah mengalihkan perhatian Daffin, untuk tidak mencari Ami.


"Apa masih sakit perutnya, mau ke rumah sakit?" tanya Daffin sambil mengusap perut Zoya.


"Gak perlu, sekarang sudah mendingan. Tadi sedikit tegang karena aku terlalu banyak jalan ditambah terlalu khawatir." Zoya melihat ke arah Daffin dan tersenyum.


"Baguslah kalau sudah mendingan, kamu jangan banyak pikiran kalau gitu, kita cari Ami-nya pelan-pelan aja. Aku yakin dia tidak akan jauh dari tempat kalian tadi," ucap Daffin.


"Aku harap dia baik-baik saja di luaran sana, aku akan merasa bersalah, jika sampai dia kenapa-kenapa," ucap Zoya dengan nada sedih.

__ADS_1


"Aku yakin, orang sebaik Ami. Pasti akan bertemu orang yang baik juga yang akan menolongnya," sahut Daffin sambil fokus pada setirnya.


Mendengar suaminya memuji Ami, Zoya mengepalkan tangan dengan erat, Aku harap kamu tidak akan pernah kembali, pergilah yang jauh, jangan mendekati orang-orang di sekitarku lagi dan biarkan aku hidup dengan tenang, batin Zoya dengan tatapan tajam ke arah depannya.


"Iya, terima kasih karena kamu langsung datang saat aku menghubungimu, padahal kamu pasti masih banyak pekerjaan," ucap Zoya yang langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan tampang menyesal.


"Kamu istriku, sudah seharusnya aku datang saat kamu membutuhkan aku, pekerjaanku sudah hampir beres, bisa diselesaikan besok pagi," sahut Daffin yang sudah menghentikan mobilnya.


"Ayo turun, kamu harus istirahat," ucap Daffin menatapnya dan tersenyum.


"Iya," sahut Zoya tersenyum samar.


Mereka kemudian mulai turun dari mobil, sopirnya yang heran karena melihat mereka tanpa Ami pun menghampiri mereka.


"Den, Non. Maaf Non Ami mana ya, bukannya tadi pergi sama, Non Zoya?" tanya sopir.


"Ami hilang, Pak," jawab Daffin.


"Apa? Hilang gimana maksudnya, Den?"


"Tadi saat selesai makan malam, sebelum pulang aku pergi ke toilet sebentar dan saat kembali Ami sudah tidak ada," jawab Zoya dengan nada sedihnya lagi.


"Apa sudah dicari, Den, Non?"


"Sudah, tapi Zoya kelelahan, jadi aku membawanya pulang untuk istirahat. Besok kita bisa coba mencarinya lagi," terang Daffin.


"Oh ini kunci mobil, tolong ambil mobil di restoran tempat Zoya dan Ami makan," sambung Daffin.


"Baik, Den," sahut sopir itu.


Setelah itu Zoya dan Daffin memasuki rumah, dengan Zoya yang dipapah oleh suaminya, sedangkan sopirnya masih bergeming di tempatnya karena kepikiran Ami yang menghilang.


"Apakah yang dikatakan Non Zoya itu benar," gumamnya tidak yakin dengan pernyataan Zoya.


Dia dari awal sudah curiga, jika ada yang janggal dengan Zoya yang mengajak Ami untuk makan malam bersama, meskipun dia belum selama Tini bekerja di sana, tapi dia dan Ami lumayan dekat karena nona-nya itu tidak punya orang lain yang bisa diajaknya mengobrol selain dia dan Tini.

__ADS_1


Ditambah Ami yang selalu baik padanya, hal itu membuat dia dan Ami dekat, sekarang nona-nya itu hilang, dia khawatir dengan keadaan nona-nya di luar sana.


__ADS_2