
Ami sudah menunggu kepulangan Fariz di apartemen. Dia duduk manis di sofa ruang tengah, jujur saja hatinya tidaklah setenang wajahnya.
Dari tadi hatinya terus berkata, jika dia tidak rela kalau harus meninggalkan pria itu, hatinya terus berbisik meminta untuk terus tinggal, tapi jika dia tetap tinggal di sana, dia tidak akan bisa bersama dengan Fariz nantinya karena kekuranganya itu.
Pintu apartemen mulai terbuka dan tak lama kemudian kembali tertutup, Ami sudah bisa menebak siapa yang memasuki apartemen itu.
"Mas," panggil Ami, mulai bangun dari sofa.
Fariz tidak langsung menjawab, dia hanya diam mematung di depan pintu dengan tatapan lurus pada Ami yang kini telah memasang senyuman.
Ami terlihat lebih cantik dengan dress bunga berwarna putih yang panjangnya di bawah lutut itu. Seperti perkiraannya saat dia memilihkan dress itu, nampak cocok dipakai oleh Ami.
Hatinya sedikit tidak rela akan mengantarkan wanita itu pada keluarganya, tapi lagi-lagi dia tidak punya pilihan, selain melakukan hal itu, demi kebaikan Ami juga.
Wanita itu akan lebih ama tinggal dengan keluarganya, walau bagaimanapun dia dan Ami adalah dua orang yang tidak memiliki ikatan.
"Kamu sudah siap?" tanya Fariz setelah beberapa saat terdiam.
"Sudah, mau langsung berangkat Mas?" sahut Ami sambil menganganggukkan kepalanya.
"Iya, biar tidak terlalu malam sampainya, mana barang-barangmu?" tanya Fariz karena melihat tangan Ami kosong.
"Bukankah saat datang aku tidak membawa apa pun, jadi sekarang pergi pun tidak ingin membawa apa pun," sahut Ami diiringi sebuah senyuman.
"Baiklah terserah," sahut Fariz singkat.
Untuk beberapa saat, mereka masih saling diam dan mematung di tempatnya, seolah kaki mereka teramat sulit untuk digerakan, karena ada ketidakrelaan dalah hati masing-masing untuk berpisah.
Ijah mendatangi mereka dengan sebuah tas selempang kecil yang tidak lain adalah milik Ami, dia segera memberikan tas itu pada Ami.
"Makasih, Bi." ucap Ami tersenyum, sambil mengambil tas itu.
Ijah dan Ami pun berpelukan untuk perpisahan mereka, kebersamaan yang terjadi selama dua bulan lebih itu membuat mereka menjadi dekat, meskipun hanya kebersamaan yang cukup singkat.
__ADS_1
"Makasih ya, Bibi sudah baik sama aku, selama aku di sini," ucap Ami yang masih memeluk Ijah.
"Iya sama-sama, Non hati-hati setelah pulang nanti," sahut Ijah mengusap punggung Ami. "Non, Bibi sudah memasukan apa yang Non minta," sambungnya dengan berbisik.
"Iya, makasih ya Bi," sahut Ami lagi yang juga berbisik.
"Ya udah Bibi jaga kesehatan ya, Bi. Kalau suatu saat nanti ketemu sama Ami, sapa aku ya. Biar aku tau Bibi nantinya," sambung Ami lalu melepaskan pelukan antara mereka.
Ami pun membalikkan badannya ke arah pintu apartemen, menghadap Fariz yang masih belum bergerak sama sekali.
"Ayo, Mas kita berangkat," ucap Ami tersenyum, seolah tidak beban di hatinya karena akan segera pergi dari sana.
"Baiklah, ayo." Fariz langsung menggandeng tangan kecil Ami dan membawanya keluar dari apartemen itu dengan langkah beratnya.
Bisakah dia menghentikan waktu sampai di sini, hingga dia bisa tetap berada di dekat wanita yang saat ini berada di deketnya.
Apakah suatu saat nanti dia akan bertemu lagi, bahkan bisa bersama dan menggenggam pemilik tangan mungil ini yang selalu bisa memberikan kehangatan sampai ke dasar hatinya.
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benak Fariz sambil terus menatap wajah Ami yang berdiri di sampingnya dengan sebuah senyuman yang masih belum hilang dari wajah manisnya itu.
Dia segera mengalihkan pandangannya, menjadi lurus ke depan saat lift sudah sampai di lantai dasar, dia kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari apartemennya.
*****
"Mas," panggil Ami yang baru membuka suaranya.
Saat ini mereka sudah sampai di setengah perjalanan menuju ke tempat tinggal Denis, setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Ami mulai bersuara.
"Kenapa?" sahut Fariz fokus dengan setirnya.
"Apakah nanti kita bisa bertemu lagi?" tanya Ami dengan tersenyum samar.
"Pertemuan kita adalah takdir, begitu pun dengan perpisahan kita. Dan aku yakin, jika takdir itu menginginkan kita untuk bertemu kembali, maka itu pasti akan terjadi sejauh apa pun jarak kita nantinya," sahut Fariz yang terucap begitu saja.
__ADS_1
"Bisakah aku menawar pada takdir itu, agar mempertemukan kita lagi? Apakah setelah ini kita bisa bertemu lagi, nanti kita akan bisa bersama, Mas?" tanya Ami dengan wajah yang sudah menghadap pada Fariz di sampingnya.
Fariz tidak menyahutinya, dia diam karena dia sendiri pun tidak tahu harus menjawab seperti apa, pertanyaan itu.
"Mas, aku yakin kita suatu saat nanti akan bertemu lagi, apa Mas akan menerima rasa suka aku padamu, jika kita bertemu lagi?" tanya Ami penuh harap.
"Setelah pulang nanti, aku pasti akan menjalani perawatan pada mataku dan aku akan bisa melihat dengan normal lagi, bisakah Mas tunggu aku?" sambung Ami.
Fariz menghentikan mobilnya, karena saat ini mobilnya sudah sampai di depan gerbang rumah yang Ami sebutkan tadi.
Dia memiringkan tubuhnya, menatap Ami dalam, mencari kebohongan dari ucapan wanita di depannya, tapi yang terlihat hanya wajah sayu yang terlihat sedih.
"Jika kamu benar bisa melihat lagi, nanti kamu bisa bertemu dengan ribuan pria dan kamu pasti akan jatuh cinta pada pria itu, jangan merasa berhutang budi padaku, hingga nanti kamu mengabaikan perasaanmu sendiri."
"Aku tidak akan merasa seperti itu!" jawab Ami dengan tegas.
"Kamu jalanilah hidupmu dengan tenang, lupakan apa yang pernah terjadi antara kita, lupakan jika kamu pernah bertemu denganku, mulailah hidupmu yang baru, jika nanti kamu benar-benar sudah bisa melihat dengan normal lagi," terang Fariz.
"Tapi, bukankah tadi Mas bilang jika takdir menginginkan kita untuk bertemu maka kita akan bertemu, bukankah itu artinya, Mas Fariz juga berharap kita bisa bertemu lagi?" setetes air mata sudah mulai menetes di pipi Ami.
"Tadi aku hanya asal bicara, aku harap kita tidak bertemu lagi" sahut Fariz dengan berat hati.
Dia tidak ingin goyah lagi, jika dia bertemu lagi dengan Ami dan pada akhirnya mengecewakan Alisha.
Mendengar ucapan Fariz, memebuat hati Ami terasa sesak, sebegitu tidak adakah keinginan dalam hati Fariz untuk tidak menyembunyikan perasaannya itu. Ami memaksakan diri untuk tersenyum, dia kemudian menguasap pipinya.
"Mari kita serahkan semuanya pada takdir, jika nanti takdir mempertemukan kita, kita pasti akan bisa bersama," ucap Ami dengan penuh keyakinan.
"Sekarang kamu turunlah, tugasku sudah selesai, mulai dari saat ini kita tidak mengenal satu-sama lainnya, kita akan kembali menjadi orang asing seperti sebelumnya," ucap Fariz yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak bisa menatap terlalu lama wajah sedih dari wanita itu.
"Apa Mas tau, kata-kata Mas itu, benar-benar menusuk hati," ucap Ami dengan jujur.
Hatinya benar-benar merasa tertusuk dengan ucapan pria itu, meskipun dia yakin jika pria itu mengatakan hal itu pasti dengan terpaksa, tapi tetap saja hatinya sakit.
__ADS_1