
Ami melangkah memasuki rumahnya dengan langkah lunglai, sisa-sisa kesedihan masih terlihat di wajahnya itu.
Dia berharap akan memenangkan hati dan pikirannya, di rumahnya itu. Namun, sayang yang dia dapatkan bukanlah ketenangan, tapi saat memasukki rumahnya itu, terlihat papanya tengah duduk di sofa dan menatapnya dingin.
Apalagi ini? Batin Ami dengan lemah.
Dia yakin akan terjadi sesuatu lagi, kala melihat tatapan Denis padanya, dia yakin ada yang membuat papanya itu marah dan itu tentangnya, meskipun dia belum tahu apa.
"Apa benar kamu memiliki hubungan dengan pria yang sudah memiliki pasangan, bahkan pria itu akan segera menikah?" tanya Denis, tepat saat Ami sudah berada di depannya.
"Siapa yang mengatakan hal itu pada Papa?" tanya Ami yang kemudian, melihat ke arah kakaknya yang nampak duduk dengan santai di sofa yang dekat dengan papanya.
"Bukan itu jawaban yang papa inginkan, tapi yang papa inginkan adalah, jawaban iya atau tidak!" tegas Denis.
Ami menghela napasnya dalam-dalam, dia tidak ingin berdebat lagi saat ini, akhirnya dia pun mengangguk dengan tatapan masih tertuju pada papanya itu.
"Iya, Papa juga pasti tau pria itu, dia adalah Fariz Jauhar, anak angkat Tuan Nevan Gajendra dan Nyonya Alisha, dia juga saudara angkat Tuan Aaric, atasan Papa." Ami menjawab tentang keluarga Fariz dengan lantang.
"Tinggalkan dia, papa tidak mau anak papa menjadi duri dalam hubungan orang lain."
"Papa tenang saja, Ami baru saja bertemu dengannya dan barusan adalah pertemuan kita, Ami tidak akan menemuinya lagi, karena aku tau batasanku, meskipun aku mencintainya, aku tidak asa niat untuk merebutnya dari wanita yang akan menjadi istrinya," ucap Ami dengan lantang.
Tatapan matanya dia layangkan pasa Zoya, sebagai isyarat jika apa yang dia katakan itu, adalah sebuah sindiran untuk kakaknya itu. Namun, Zoya hanya menanggapinya dengan memutar mata malas dan mencebik.
"Tapi satu hal yang perlu Papa tau, pria itu adalah pria yang Ami cari selama ini, pria yang menolong dan menjaga Ami saat, dia dengan teganya meninggalkanku di tempat asing saat malam hari," terang Ami menunjuk Zoya yang matanya sudah terbelalak, tidak menyangka jika Ami akan mengatakan hal itu.
"Apa maksudmu?" tanya Denis menuntut penjelasan atas apa yang diucapkannya.
"Apa maksudmu, jangan mengalihkan pembahasan ya, kenapa kamu bawa-bawa aku!" bentak Zoya, tidak terima jika Ami membahas masalah itu, tapi tidak Ami hiraukan.
"Dia berbohong dengan mengatakan akan membawaku makan malam, tapi dia meninggalkan aku di tempat asing malam-malam, Papa mau tau apa yang terjadi saat itu?" Ami menatap papanya dengan mata yang sudah kembali basah, mengingat hal itu membuatnya sedih dan sakit hati atas perlakuan kakaknya.
__ADS_1
"Ami ditangkap oleh pria asing yang nyaris saja memperk*sa Ami Pa, untung saat itu aku bisa melarikan diri, dari para pria itu dengan cara melompat dari mobil yang tengah melaju." Ami menunjuk dirinya sendiri sambil menangis.
"Jika tidak ada Mas Fariz yang menolong dan menjagaku saat itu, percayalah Pa, mungkin saat ini Ami tidak akan bisa berdiri di sini lagi, tapi Ami sudah tenang bersama dengan Mama." Ami mengusap pipinya dengan kasar dan kembali bersuara.
"Itulah alasan kenapa aku senang saat bertemu dengannya lagi ... ya selama beberapa bulan ini, kami memang menjalin hubungan, tapi Papa tenang saja, barusan Ami sudah mengakhiri semuanya," terang Ami panjang lebar.
Denis menatap Ami tak percaya mendengar penjelasan dari Ami itu, dia kemudian mengalihkan pandangan pada anak pertamanya yang tengah menatap Ami dengan kesal.
"Apa ada yang mau Papa katakan lagi, kalau tidak ada Ami mau ke kamar dulu," ucap Ami yang langsung pergi, tanpa menunggu sahutan dari papanya itu.
Dia tidak peduli apa yang akan terjadi antara Zoya dan Denis, karena yang dia inginkan saat ini pergi dan menenangkan diri, saat ini rasanya seluruh energi dalam dirinya telah terkuras habis oleh kejadian yang baru saja terjadi itu.
Saat sampai di kamar dan menutup pintu, dia melempar tasnya ke sembarang arah, tidak peduli jika yang ada di dalam tas itu akan rusak atau tidak karena dilemparnya itu.
Tubuh yang tidak bersemangat itu, dia paksa untuk memasuki kamar mandi, tanpa melepaskan baju yang dipakainya, dia segera menghidupkan shower, mengguyur tubuhnya denga air dingin yang keluar dari shower itu.
Berharap itu dapat mendinginkan hati dan kepalanya yang terasa panas dan sesak.
Aliran air yang mengaliri tubuhnya menghanyutkan air mata yang kembali membanjiri pipinya itu, tubuhnya merosot ke lantai, dia memeluk tubuhnya yang gemetar, karena tangis itu.
...*****...
Sementara di sisi lain, Aaric saat ini sedang mengantarkan Fariz kembali ke apartemennya, dia memilih untuk kembali ke apartemennya itu, dia ingin menenangkan hatinya terlebih dahulu.
"Kamu yakin akan tinggal di sini Riz, kamu di sini sendirian, gimana kalau ada yang kamu butuhkan," ucap Aaric yang mengkhawatirkan pria itu.
"Aku akan baik-baik saja, kamu tenang saja," sahut Fariz.
"Baiklah, kalau butuh apa-apa telepon aja ya, nanti aku akan datang," ucap Aaric pasrah, dia mengerti, jika Fariz saat ini butuh sendiri.
"Iya," sahut Fariz lagi menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kanu pulanglah, dari semalam kamu belum pulang," sambung Fariz.
"Baiklah, akau pulang dulu ya," sahut Aaric, mulai bangun dari sofa yang didudukinya.
"Iya, terima kasih udah bantuin aku selama aku di rumah sakit," ucap Fariz.
"Santai saja." Aaric menepuk pundak Fariz.
Aaric pun mulai berjalan menuju ke pintu apartemen, saat hampir sampai di pintu, dia menghentikan langkahnya terlebih dahulu dan berbalik menatap Fariz.
"Aku tau, mungkin saat ini kamu kecewa pada Mama atau Papa, tapi aku harap, kamu tidak terlalu lama mendiamkan mereka, karena mereka pasti akan sedih, jika kamu menghindari mereka terlalu lama," ucap Aaric menatap Fariz.
Fariz balik menatap Aaric, dia kemudian menganggukkan kepala, itu semua tidak mungkin, dia tidak akan bisa menghindar dari kedua orang-tuanya itu terlalu lama.
"Aku akan menemui mereka lagi nanti, saat ini aku hanya ingin sendiri dulu untuk beberapa hari," sahut Fariz.
"Baguslah, ya udah aku pulang sekarang."
Aaric mengangguk lega, dia kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke pintu dan keluar dari apartemen.
Fariz menjalankan kursi rodanya, mengunci pintu dan langsung memutar kursi roda itu kembali, dia berniat akan ke kamar tamu, karena tidak memungkinkan untuknya, tinggal di kamarnya.
Dia membuka pintu kamar itu, masih sama seperti biasa, setiap memasuki kamar itu, bayangan Ami yang selalu duduk di ranjang dengan hening selalu hadir di benaknya.
Secara perlahan, dia kembali membawa kursi rodanya mendekati ranjang, meski kakinya terasa masih sakit, tapi dia memaksakan diri untuk menaiki ranjang itu.
Setelah duduk di ranjang dengan nyaman, tangannya merogoh saku celana, dia mengeluarkan ponsel dari celananya itu, berniat menghubungi Ami.
Beberapa kali mencoba untuk meneleponnya, tapi tidak mendapatkan jawaban, dia menghela napas dalam, kemudian meyimpan ponselnya ke nakas dan mulai merebahkan tubuhnya.
"Semoga kamu baik-baik saja, Mi. Maaf karena tadi aku tidak bisa berbuat apa pun," ucap Fariz dengan tatapan lurus ke langit-langit kamar itu.
__ADS_1