
Karena tidak mendapat sahutan dari Ami, Fariz pun perlahan mulai menyentuh pergelangan kaki yang mungil itu.
"Ssshh, sakit, Mas," ringis Ami.
"Tahanlah, kalau tidak langsung ditangani sekarang, nanti pasti akan tambah sakit dan bengkak," sahut Fariz dengan tangan yang fokus mengurut pergelangan kaki Ami dengan perlahan.
Ami tidak menyahutinya, dia hanya memejamkan matanya, berusaha tetap tenang meski kakinya terasa ngilu.
"Mungkin ini akan lebih sakit," ucap Fariz sambil memutar pergelangan kaki Ami, setelah itu menariknya agar tulangnya kembali normal.
"Aakkhhh, sakit!" jerit Ami yang kini sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi.
"Sudahlah jangan menangis, ini sudah selesai," ucap Fariz yang entah kenapa, tidak suka melihat wanita di depannya itu menangis.
"Ma-maaf, habisnya tadi sakit sekali," ucap Ami terputu-putus karena disertai tangisan.
"Dasar cengeng," cebik Fariz, setelah itu mengakhiri pijatan di kaki Ami.
"Makasih," ucap Ami yang sudah menghapus air mata dan menghentikan tangisannya.
"Oh iya bagaimana bisa, Mas Fariz ngobatin aku?" sambung Ami lagi.
"Mamaku adalah dokter, meskipun bukan dokter umum, tapi dia ngasih tau tentang pertolongan pertama," jawab Fariz.
"Oh pantesan." Ami menganggukkan kepala mengerti.
"Kamu diamlah di ranjang, jangan berkeliaran hari ini," perintah Fariz dan mulai berdiri.
"Iya, Mas." Ami mengangguk patuh, karena dia memang tidak akan bisa ke mana-mana dengan kondisi yang seperti ini.
Sudah tidak dapat melihat, ditambah sekarang kaki dua-duanya terluka, Ami jadi merasa, jika dirinya benar-benar orang yang cacat saat ini.
Setelah itu Fariz mulai melangkahkan kakinya untuk pergi, berangkat kerja karena hari sudah mulai beranjak siang.
"Mas," panggil Ami membuat langkah Fariz terhenti dan berbalik menatapnya.
"Apa?"
"Bisakah Mas Fariz jangan terlalu baik padaku," ucap Ami dengan air wajah yang berubah jadi sendu.
"Kenapa?" tanya Fariz dengan kening mengerut.
"Tidak ada alasan yang pasti, aku hanya berharap agar, Mas tidak terlalu baik saja," jawab Ami yang semakin membuat pria itu tidak mengerti dengan arah pembicaraannya.
"Kamu tidak punya hak, untuk melarang orang lain berbuat baik. Seharusnya kamu bersyukur dengan kebaikan yang orang lain lakukan untukmu, apa kamu mau setiap orang berprilaku tak peduli pada sesamanya," sahut Fariz setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya.
Apa maksudnya berkata seperti itu, apa wanita itu tidak bisa menghargai kebaikanku, terus apa arti dari ucapan terima kasih yang selalu dia ucapkan, apa itu hanya omong kosong semata. Fariz menggerutu dalam hati.
Tiba-tiba saja dia menjadi kesal setelah mendengar perkataan Ami barusan, bagaimana bisa wanita itu melarangnya untuk berbuat baik, benar-benar tidak masuk akal menurutnya.
Sementara itu Ami hanya menundukkan kepala, setelah mendengar langkah kaki Fariz semakin menjauh dari kamarnya.
__ADS_1
Aku hanya tidak mau terlalu terbuai, jika kamu terus memperlakukan aku terlalu baik, aku takut tidak bisa lagi mengendalikan hatiku ini dan akhirnya hanya ada sakit yang tersisa di akhir cerita, batin Ami.
"Non, ini sarapannya," ucapan Ijah membuat Ami mengangkat kembali wajahnya dan berusaha tersenyum.
"Makasih, Bi."
"Iya sama-sama, cepat makanlah. Nanti makanannya keburu dingin," sahut Ijah.
Ami mengangguk dan mengambil piring yang telah terisi nasi goreng di depannya, dia memakan nasi goreng itu dengan tenang.
"Oh iya, Mas Fariz udah berangkat, Bi?" tanya Ami di sela-sela kunyahannya.
"Sudah, Non. Barusan langsung berangkat," sahut Ijah.
"Non ada masalah apa sama Den Fariz?" tanya Ijah.
Dia sebenarnya barusan mendengar percakapan mereka, dia sudah berada di depan kamar Ami dengan lumayan lama, tapi dia tidak berani masuk dan hanya menunggu di depan kamar itu.
"Tidak ada apa-apa, Bi. Kenapa gitu?" tanya Ami.
"Tidak kenapa-napa, Non."
Ami kembali melanjutkan sarapannya yang masih tersisa setengahnya, setelah itu menyerahkan piring kotor pada Ijah untuk dibawa kembali ke dapur.
...*****...
Sore harinya, Fariz pulang ke apartemennya dan saat memasuki apartemennya itu, Ijah sudah bersiap pulang seperti biasa.
"Iya, Bi."
"Apa dia keluar dari kamar?" tanya Fariz berhenti sejenak.
"Tidak, Den. Non Ami dari tadi diam di kamar, barusan Bibi juga sudah membantunya untuk mandi," sahut Ijah.
"Baguslah kalau gitu. Kalau Bibi mau pulang, pulang aja."
"Iya, Den. Bibi sudah masak buat makan malam, tapi barusan Bibi nawarin Non Ami buat makan sekarang agar Bibi siapin makanannya, tapi dia menolaknya, katanya belum lapar," terang Ijah.
"Tidak apa-apa, biar nanti aku yang siapin makanan untuknya."
"Baiklah, kalau gitu Bibi pulang dulu ya, Den."
Fariz mengangguk sebagai jawaban, setelah Ijah keluar dari apartemennya, dia kemudian menuju ke kamarnya.
Seperti biasa, sebelum melakukan apa pun, dia akan mandi terlebih dahulu agar badannya lebih fresh.
Tak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang terawat.
Dia mengambil kaos oblong dengan celana pendek tidak lupa juga underwear dan langsung mengenakan semua pakaiannya itu.
Setelah selesai berpakaian, dia pun segera keluar dari kamarnya dan langsung ke dapur, dia mengambil makanan untuk Ami terlebih dahulu dan akan membawanya ke kamar wanita itu.
__ADS_1
Setelah makanan dan air minumnya sudah tertata rapi di nampan, dia pun bergegas ke kamar Ami dan mengetuk pintu terlebih dahulu seperti biasa.
"Bi," panggil Ami yang mengira itu adalah Ijah.
"Ini aku ... ini makanlah." Fariz menyimpan nampan di nakas, lalu mengambil piring dan menyerahkan pada Ami.
"Apa Bi Ijah udah pulang?" tanya Ami.
"Iya, dia harus segera pulang karena suaminya juga pulang kerja jam segini," terang Fariz.
"Oh," sahut Ami dengan nada pelan.
Dia memakan makanannya dengan kurang bernafsu, dia pikir tadi yang masuk adalah Ijah, tadinya dia mau meminta pertolongan padanya.
"Kenapa?" tanya Fariz yang peka, jika ada yang mengganjal dari sikap wanita di depannya itu.
"Tidak ada," sahut Ami menggelengkan kepalanya.
"Cepatlah makannya."
"Iya, Mas." Ami melanjutkan makannya dengan cepat, tidak ingin membuat Fariz merasa jengkel padanya.
"Apa kamu dikejar maling, kenapa kamu makan dengan terburu-buru seperti itu!" decak Fariz.
"Tadi katanya disuruh cepat," sahut Ami sedikit memajukan bibirnya.
Melihat tingkah wanita di depannya yang seperti itu, membuat salah satu sudut bibir Fariz terangkat, wanita itu terlihat natural, tidak menampilkan eksepsi yang dibuat-buat.
"Maksud aku tidak secepat itu juga, kamu makannya jangan sambil melamun," ucap Fariz yang sudah mengembalikan ekspresinya seperti semula.
"Iya," sahut Ami lalu melanjutkan kembali makannya dan kali ini lebih santai dari yang tadi.
Fariz terus berdiri di samping ranjang dengan tatapan masih lurus pada Ami yang sedang makan, dia menyilangkan tangannya di dada.
Semakin lama kita bersama, aku merasa semakin ada sebuah kehangatan dalam hatiku. Tatapan Fariz masih terpaku pada Ami.
"Mas, aku sudah selesai makan, sebaiknya, Mas Fariz juga segeralah makan."
Suara Ami membuat Fariz yang tengah melamun, tersadar dan mengalihkan pandangan pada nampan di atas nakas.
Piring yang barusan penuh oleh makanan, kini sudah kosong, begitu pun dengan gelas yang kini tinggal tersisa setengah itu.
Entah kenapa, rasanya setiap dia memperhatikan Ami, waktunya seolah berlalu begitu cepat, hingga dia tidak sadar jika dia telah melewati beberapa waktu hanya dengan menatap wanita di depannya itu.
"Ya udah, sekarang kamu istirahatlah," ucap Fariz sambil berdehem.
"Iya makasih, Mas."
Fariz hanya mengangguk dan pergi dari sana, dia merasa tidak karuan setiap kali menatap wajah Ami dengan lama.
Berbeda dengan Ami, entah apa yang wanita itu rasakan saat ini, di sisi lain dia merasa sangat senang dengan setiap perhatian yang pria itu berikan, tapi di sisi lain dia juga merasa takut, jika dia tidak dapat mengendalikan hatinya kelak.
__ADS_1