Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Cerita Ijah.


__ADS_3

Di balik ruangan tempat menyetrika pakaian, Ijah yang sudah selesai menyetrika dari tadi, tidak berani keluar saat melihat Fariz yang terus menatap Ami dengan serius.


Art itu terus berdiam diri di balik tembok, menguping apa saja yang mereka bicarakan, dia sampai tidak percaya, jika majikannya bisa berbicara panjang lebar pada Ami yang baru saja dikenalnya beberapa hari. 


Setelah salah satu orang pergi, dia pun baru berani keluar dari tempatnya dengan keranjang yang berisi pakaian yang sudah disetrikanya.


"Den, Bibi mau nyimpen pakaian ke kamar, Den Fariz," ijin Ijah saat keluar dari ruangan itu.   


"Iya, Bi. Simpan saja," jawab Fariz yang sudah memfokuskan dirinya pada tv lagi.


Ijah mengangguk dan langsung menuju kamar Friz, dia memberskan pakaian majikannya seperti biasa, setelah selesai dia segera keluar dari kamar itu dan kembali ke ruangan setrika untuk mengambil pakaian Ami yang juga sudah disetrika olehnya.


"Non, ini pakaiannya, langsung Bibi masukan ke dalam lemari ya," ucap Ijah pada Ami yang tengah duduk di ranjang.


"Iya, Bi. maaf ngerepotin ya."


"Tidak merpotkan sama sekali kok, Non," sahut Ijah yang sudah mulai memasukkan baju-baju Ami ke dalam lemari yang ada di seberang ranjang.


Setelah selesai dengan tugasnya, Ijah tidak langsung keluar, tapi dia ikut duduk di pinggir ranjang Ami dan menatap Ami dengan serius. Wajah yang cantik dengan mata bulat, hidung mancung meski tidak terlalu tinggi dan ukurannya yang kecil.


Bentuk wajah bulat dengan pipi yang bulat, tidak tirus, alis yang sudah terbentuk seolah sering dirawat, tanpa make-up pun wanita di depannya itu sudah cantik.


Apalagi jika seandainya wanita yang selalu bicara dengan tutur kata lembut itu, dapat melihat dengan normal dan merawat dirinya dengan benar, pasti akan semakin cantik lagi.


Jadi hal yang wajar jika majikannya menyukai wanita di depannya itu.


"Bi," panggil Ami karena dapat merasakan pergerakan di depannya, tapi tidak ada suara dari orang di depannya itu.


"I-iya, Non. Maaf Bibi melamun barusan."


"Ngelamunin apa sih, Bi. Sampai serius gitu."


"Bibi lagi ngelamunin, tentang Den Fariz."


Ami mengerutkan kening mendengar ucapan Ijah itu, lalu bertanya, "Ngelamunin Mas Fariz, emang Mas Fariz kenapa?"


"Non tau gak, sebenarnya Den Fariz adalah orang yang susah berinteraksi dengan orang lain, apalagi yang baru dia kenal," terang Ijah.


"Mungkin Mas Fariz merasa canggung kalau sama orang baru, Bi," sahut Ami.


"Sepertinya tidak begitu, Non."


"Maksudnya, Bi?" tanya Ami heran.

__ADS_1


"Sepertinya Den Fariz, susah untuk berkomunikasi dengan orang baru, bukan hanya karena canggung, tapi ada penyebab lainnya," ucap Ijah.


Dia berbicara dengan suara yang pelan karena takut terdengar oleh Fariz yang saat ini masih berada di ruang tengah.


"Non Ami, tau gak. Dulu Den Fariz baru mau bicara sama Bibi saat Bibi sudah bekerja hampir dua tahun di sini, bahkan awalnya Bibi ngira kalau Den Fariz tidak bisa bicara, karena saat dia berkomunikasi dengan Bibi menggunakan isyarat. Dan awalnya Bibi juga kesusahan untuk mengerti apa yang dia inginkan atau yang dia perintahkan," terang Ijah panjang lebar.


"Benarkah begitu, Bi? Tapi kalau yang Bibi katakan itu benar, kenapa Mas Fariz biasa saja saat pertama kali kita bertemu, dia bicara dengan normal, meskipun terkadang bicara dengan singkat."


"Nah itu dia yang bikin Bibi heran, kenapa Den Fariz bersikap biasa saja ke Non."


"Apa Mas Fariz sering membawa teman atau pacarnya ke sini?" tanya Ami yang tiba-tiba ingin tahu tentang kehidupan penolongnya lebih jauh lagi.


"Boro-boro pacar, bahkan teman laki-laki pun, Den Fariz belum pernah membawanya ke sini, paling orang yang kadang-kadang mampir ke sini orang-tua dan saudaranya aja," sahut Ijah.


"Masa sih, Bi. Bibi udah lama kerja di sini tapi belum pernah sekali pun lihat Mas Fariz bawa teman atau pacarnya?" Ami merasa heran dengan apa yang diceritakan oleh Art itu.


"Kayaknya, Den Fariz emang orang yang susah untuk dekat dengan orang lain deh, Non."


Ami tidak bicara lagi, dia memikirkan apa yang Ijah katakan itu.


Benarkah apa yang dikatakan oleh wanita didepannya itu, jika Fariz sama sekali belum pernah membawa teman atau pacarnya.


Rasanya tidak mungkin, kalau Mas Fariz, tidak punya pacar. Meskipun dia sedikit datar saat berbicara, tapi aku yakin dia pria yang baik, batin Ami.


Mendengar hal itu, Ami kaget setengah mati, bagaimana bisa laki-laki sebaik Fariz menyukainya. Tidak mungkin, batinnya menyergah ucapan Ijah itu.


"Hust, Bibi ngawur," ucap Ami pada Ijah yang kini menatapnya kening mengerut.


"Emang apa salahnya kalau Bibi, bilang gitu, Non. Siapa tau aja itu benar," ucap Ijah dengan yakin.


Saat tadi dia melihat majikannya menatap Ami terus, saat mereka duduk di sofa, pikiran itu langsung muncul di kepalanya.


"Itu tidak mungkin, Bi," ucap Ami tersenyum samar, tapi tidak dapat menyembunyikan kesedihan dari raut wajahnya.


Dia teringat tentang Daffin yang berulang kali mengucapkan kata cinta padanya, tapi ujung-ujungnya, pria itu kini menjadi kakak iparnya.


"Apa yang salah dengan itu, Non."


"Sudah Bi, jangan bicara yang aneh-aneh, nanti kalau Mas Fariz dengar dan dia tersinggung bagaimana."


"Kalau Den Fariz, tidak menyukai Non, kenapa dia membawa Non ke sini dan membiarkan Non tinggal di sini coba," ucap Ijah lagi yang yakin, jika apa yang dipikirkannya itu benar.


"Mas Fariz melakukan itu pasti karena merasa kasihan padaku saja, Bi."

__ADS_1


Ya, benar Fariz peduli padanya karena merasa kasihan saja dengan kondisinya saat ini, begitulah yang dipikiran Ami, mendengar dari yang Ijah katakan tadi.


Fariz pasti adalah orang yang tidak mudah menyukai orang, bagaimana bisa pria itu menyukainya yang baru beberapa hari dikenalnya.


"Tapi Bibi yakin bukan karena itu."


Ami tidak menyahutinya lagi, dia hanya tersenyum pada Ijah dan membiarkan wanita itu berpikir sesukanya.


"Ya udah kalau, Non tidak percaya kita lihat saja nanti," ucap Ijah dengan penuh keyakinan.


"Iya, iya, terserah Bibi aja," sahut Ami terkekeh, merasa lucu dengan Ijah.


Dia jadi teringat, akan pengasuhnya dari kecil, Tini yang sudah dianggapnya sebagai ibu ke-dua dan orang yang menyayanginya seperti Denis.


"Sudah waktunya makan siang, Bibi mau buatkan dulu makan siang ya, Non," pamit Ijah.


"Iya, Bi."


Ijah keluar dari kamar itu, saat melewati ruang tengah, dia berhenti sejenak di dekat sofa yang masih didukuki oleh Fariz.


"Den, mau Bibi buatkan apa untuk makan siang?" tanya Ijah membuat Fariz melihat ke arahnya.


"Apa saja," sahut Fariz singkat.


"Baiklah permisi, Den," pamit Ijah lagi.


Fariz berdehem sebagai jawaban, dia kemudian kembali memalingkan wajahnya ke arah tv, sedangkan Ijah melanjutkan langkahnya.


Sementara itu, Ami termenung di kamarnya, dia sangat merindukan papanya.


Dia sebenarnya ingin mendengar suara papanya, meskipun hanya sebentar, tapi dia takut itu akan membuat papanya khawatir dengan keadaannya.


"Pa, Papa harus jaga kesehatan ya, jangan terlalu berlebihan kerjanya," gumam Ami dengan setitik air menetes di pipinya, tapi langsung dia usap.


"Ami sebenarnya merindukan Papa, tapi Ami gak berani hubungi Papa atau pulang," gumamnya lagi langsung menutup wajahnya dengan ke-dua tangannya.


Dia takut untuk pulang, takut kakaknya akan melakukan hal yang membuatnya celaka lagi.


Sementara itu di depan pintu kamarnya, Fariz ternyata sedang berdiri dan melihatnya yang tengah bersedih itu dengan heran.


"Sebenarnya apa yang terjadi antara dia dan keluarganya, kenapa dia  tidak ingin pulang, padahal dia merindukan keluarganya," gumam Fariz.


 

__ADS_1


__ADS_2