
Ami memasuki kamarnya, dia menutup pintu dan berjalan menuju ke ranjang yang selama dua bulan lebih itu tidak dia tinggali.
Dia duduk di pinggir ranjang, mengambil sesuatu dari dalam tas yang dari tadi tidak dia lepaskan, ada hal yang sangat berharga baginya dalam tas selempang itu.
Tidak ada apa pun lagi dalam tas yang Ijah siapkan untuknya, selain sebuah foto yang dia minta pada Ijah, itu adalah foto Fariz.
Dia sengaja memohon pada Ijah untuk membantunya mengambilkan foto pria itu, meskipun awalnya menolak tapi karena dia memaksa akhirnya dia pun memberikan foto itu.
"Sayang sekali, Bi Ijah tidak menyebutkan alamat apartemen atau rumah itu," gumamnya yang kemudian menyimpan foto ke dalam tas kembali.
Maaf ya, Non. Bibi gak bisa kasih tau alamat apartemen ini, karena Den Fariz melarang Bibi untuk memberitahukannya, ucapan Ijah saat dia meminta Ijah untuk menyebutkan alamat apartemen itu.
Ijah sudah diperingatkan oleh Fariz, terlebih dahulu setelah dia mendengar pembicaraan antara dirinya dan Ijah saat itu.
"Apa kamu benar-benar akan melupakan aku gitu aja, Mas? Apa kamu benar-benar tidak ingin memberikan aku kesempatan untuk tau tentang dirimu kelak," gumamnya lagi.
Dia menghela napas berat, Fariz benar-benar tidak membiarkan dia mengetahui tentang dirinya lagi, dia seolah tidak ingin dia hadir lagi dalam hidupnya.
"Tapi, sayang keinginanmu itu tidak akan terlaksana Mas, aku akan datang lagi dan berdiri di depan kamu dengan aku yang baru," ucap Ami dengan penuh keyakinan.
Dia benar-benar bertekad akan melakukan apa pun agar dia bisa bersama dengan orang yang dicintainya itu.
Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi lebih baik dari Cindy, wanita yang Alisha anggap cocok untuk anak angkatnya itu.
Apakah semua rencana yang sudah dia susun selama semalaman itu akan terlaksana atau tidak, dia berharap jika rencana itu akan benar-benar terlaksana.
Merasa sudah cukup lama termenung, Ami bangun dari ranjang, berjalan dengan perlahan ke arah lemari, menyimpan tas yang berisi foto itu dengan hati-hati, seolah di dalam tas itu adalah sebuah berlian yang tidak ternilai.
Namun, baginya sebuah kertas yang ada gambar dari Fariz itu, adalah sebuah barang yang teramat berharga lebih dari apa pun.
Ami akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya untuk istirahat sejenak, sambil menunggu waktunya makan malam tiba.
...*****...
__ADS_1
Fariz melangkah tanpa semangat memasuki apartemennya, dia menatap ke sekeliling apartemen itu dengan helaan napas berat, mulai sekarang suasana apartemen itu akan terasa sunyi seperti sebelumnya, hanya ada dirinya yang tenggelam dalam kesunyian di malam hari.
Tidak akan lagi, ada obrolan ringan antara dia dan Ami seperti yang biasa dia lakukan bersama wanita itu sebelum mereka tidur, setelah makan malam.
"Den, Bibi pulang dulu ya." Suara Ijah membuat Fariz yang masih mematung di depan pintu, menengok ke arahnya.
Fariz menatap Ijah sekilas, dia kemudian hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Permisi, Den."
Ijah pun keluar dari apartemen, sedangkan Fariz melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya, dia langsung menjatuhkan dirinya di kasur empuk miliknya dan memejamkan mata.
Kembali mengingat tentang kejadian tadi, saat mengantarkan Ami, dia tidak langsung pergi dari sana, tapi dia menghentikan kembali mobilnya dan melihat Ami dari jauh.
Melihat wanita itu langsung menangis dalam pelukan papanya, dia mengira, jika hal itu terjadi karena Ami sudah sangat merindukan keluarganya.
Itu artinya, keputusan dia untuk segera mengantarkan Ami pulang, adalah keputusan yang sangat tepat, meskipun Ami terlihat biasa saja saat di dekatnya, tapi dalam hatinya pasti dia sangat merindukan keluarganya.
Dia mulai beranjak dari ranjangnya dan kembali keluar dari kamarnya, menuju ke meja makan, kini sudah waktunya untuk makam malam.
Dia mendudukkan dirinya di kursi, menatap berbagai hidangan makan malam yang sudah Ijah siapkan sebelumnya.
"Kembali ke situasi awal," gumamnya terkekeh samar, sambil mulai menuangkan nasi dan lauk pauknya ke piring.
Bukankah dari beberapa tahun ini dia terbiasa untuk sendiri seperti itu, tapi kenapa saat ini ada yang berbeda, dia benar-benar merasa sendiri saat ini, berbeda dari saat dia pertama kali pindah ke sana.
Tidak ingin terus memikirkan hal itu, dia segera memfokuskan dirinya pada makanan di depannya, memulai makan malamnya dengan tenang.
Di tengah-tengah makan malam itu, ponselnya berbunyi ada sebuah chat yang masuk ke ponselnya itu, dia sudah menebak siapa yang mengirimkan pesan itu dan memlih mengabaikannya.
Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali berbunyi, dia pun berdecak kesal dan mengambil ponselnya itu, membaca pesan itu.
Malam, sedang apa?
__ADS_1
Aku yakin, saat ini kamu pasti sedang makan malam, balas jika benar. Dua pesan yang tidak lain adalah dari Cindy.
Ya. Jawaban singkat yang Fariz berikan.
Besok jangan lupa, sama janji kamu. Jemput aku di rumah sakit, aku tungguin. Balasan Cindy, disertai sebuah emoticon mengedipkan sebelah mata.
Kapan aku berjanji padamu?
Jadi, maksudnya kamu gak mau nih, yakin!
Pergi sendiri saja.
Kasian banget mama kamu yang sudah terlalu berharap padamu.
Mendapat balasan seperti itu, Fariz kembali mencebikkan bibirnya kesal, Cindy sepertinya memanfaatkan rasa suka Alisha padanya untuk mengendalikan dirinya.
Jam lima sore, jika kamu tidak keluar dari rumah sakit jam lima sore, maka lupakan saja untuk pergi bersamaku"
Setelah membalas pesan itu, Fariz menyelesaikan makan malamnya, dia juga merapikan meja makan terlebih dahulu dan mencuci peralatan seperti biasanya.
Awalnya dia selalu membiarkan peralatan makan kotor untuk dikerjakan oleh Ijah, tapi karena sudah terbiasa membantu Ami beres-beres setelah makan. Dia ternyata jadi mulai terbiasa untuk melakukan hal itu.
"Bisakah kamu pergi dari pikiranku ini, jangan membuatku tersiksa dengan terus memikirkanmu," gumamnya karena kini pikirannya dipenuhi oleh Ami.
Bukan hanya pikiran, tapi hatinya pun tidak lepas dari Ami, dia meyakinkan dirinya jika itu hanya akan sementara, dia yakin lambat laun, Ami akan menghilang secara perlahan dari hati dan pikirannya itu.
Situasi mereka berdua saat ini adalah, antara dua hati yang saling terikat tanpa mereka sadari, dua hati yang semula hanya ada kekosongan dan kesunyian tanpa mereka sadari ikatan tak kasat mata itu, mulai mengisi kekosongan itu dan memberikan kehangatan.
Dua raga yang saling berjauhan, terpisah oleh jarak dengan hati yang saling merindu satu sama lainnya, meskipun perpisahan mereka terjadi baru menghitung jam.
...----------------...
Seperti biasa, aku sebagai author rumahan ini mau mengucapkan terima kasih untuk dukungan dari para pembaca semuanya, semoga kalian selalu suka sama cerita ini🙏😍
__ADS_1