
Hari ini adalah hari yang sakral, hari dimana akan diadakannya, pernikahan antara Ami dan Fariz yang sangat dinantikan dan diimpikan oleh kedua sejoli itu akan digelar.
Acara ijab qabul, akan dilaksanakan di kediaman Denis, sesuai dengan keinginan dari pria yang sebentar lagi akan menjadi mertua dari Fariz itu
Saat ini Fariz sudah berhadapan dengan Denis, sedangkan Ami sudah duduk di samping Fariz dengan perasaan deg-degan, menantikan papanya yang akan menyerahkan tanggung jawab terhadap dirinya yang akan diserahkan pada Fariz sepenuhnya.
"Sudah siap Pak?" tanya penghulu pada Denis.
"Iya, siap Pak," sahut Denis menganggukkan kepalanya.
"Kalau Mas-nya, sudah siap?" Penghulu beralih menatap Fariz yang langsung dijawab anggukan yakin oleh Fariz.
Tidak terlihat sedikit pun, raut tegang atau gugup dari wajah pria itu, justru yang tegang dan tidak tenang di sana adalah keluarganya, mereka takut, jika Fariz tidak bisa melantunkan ikrar itu dengan sekali ucapan.
Mengingat bagaimana pria itu yang tidak bisa berbicara di depan banyak orang sebelumnya, Alish terus berdoa dalam hati, agar Fariz bisa bersuara dengan lancar. Meskipun kini pria itu telah menjadi pusat, bagi ratusan mata yang tengah menantikan ijab qabul itu.
"Baiklah, kita langsung saja kalau gitu Pak." Penghulu pun, mulai memberikan arahan pada Denis dan Fariz.
Tidak jauh dari Alish, Ami juga terus berdoa dalam hatinya, agar semuanya lancar. Terutama Fariz yang kini sudah mulai menjabat tangan dari Denis, pria itu bahkan menggelengkan kepala, saat penghulu menanyakan apakah dia ingin latihan terlebih dahulu atau tidak.
Ami merasa tangannya sudah basah oleh keringat, dia terus menundukkan kepala, dengan doa dalam hati yang belum juga usai, dia berharap Fariz mengucapkan ikrar itu dengan lancar dan sekali pengucapan.
__ADS_1
Jantungnya berpacu lebih cepat, menantikan Fariz yang akan menjadikan dia pasangan halalnya, hanya tinggal menghitung detik itu.
"Saya terima nikahnya Zamira Azliana Binti Denis Permana dengan mas kawin dibayar tunai!"
Suara berat nan tegas yang mengucapkan, ikrar dengan lancar itu, membuat Ami yang semula merasa kepalanya teramat berat, mulai terasa ringan. Seolah benda berat yang menahan kepalanya itu telah terangkat.
Dia mulai mengangkat wajahnya, menatap Fariz tak percaya, Fariz mengucapkan kata sakral itu dengan sekali ucapan yang tegas nan penuh keyakinan, dia kemudian menghembuskan napas lega, saat kata sah dari para saksi di sana, atas pernikahan mereka itu.
Itu artinya, kini dia sudah resmi menjadi pasangan halal dari pria yang bertahta di hatinya itu, dia mengsusap sudut matanya yang basah, meskipun hubungan mereka terjalin tidak terlalu lama, tapi jalan yang mereka lewati untuk sampai di tahap ini tidak terlalu mulus.
"Sekarang kalian bisa saling memasangkan cincin di jari manis, disusul oleh suami yang mencium kening istrinya," ucap penghulu memberikan pengarahan.
Mereka akhirnya saling memakaikan cincin di jari manis pasangan, disusul oleh Fariz yang mencium kening Ami dengan khidmat, diiringi dengan doa yang pak penghulu bacakan untuk mereka.
"Sekarang Nak Ami harus mencium tangan suaminya, sebagai tanda hormat Nak Ami pada pria yang saat ini sudah mengambil tanggung jawab atas diri Nak Ami sepenuhnya, tanggung jawab yang semula berada di tangan Papa Denis."
Ami mengikuti arahan dari penghulu itu, dia mengambil tangan Fariz dan mencium punggung tangan pria yang kini telah menjadi nahkoda dari kapal yang akan mereka gunakan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Rasa haru dan bahagia melingkupi pasangan itu, begitupun dengan Fariz yang kini tengah berbahagia. Penantian dirinya yang mengharap sebuah kebahagiaan, kini telah ada di depan mata, dia berjanji pada dirinya sendiri, jika dia akan menjaga ikatan suci itu dengan sebaik mungkin.
Dia akan memperlakukan Ami dan anak-anak mereka kelak dengan penuh kasih sayang dan cinta, karena dia tidak ingin anak-anaknya atau Ami merasakan hal yang dia dan mamanya rasakan dulu.
__ADS_1
Alish dan keluarganya yang lain, juga ikut terhanyut dalam suasana penuh haru itu, Alish beberapa kali mengusap pipinya yang terus basah oleh air mata.
Bukan air mata kesedihan, tapi itu adalah air mata bahagia, air mata haru seorang ibu yang telah merawat anak laki-laki yang tidak disangka akan datang padanya dengan kesedihan yang dia miliki itu.
Anak yang dulu matanya selalu terlihat kosong, seolah tidak ada kehiupan dalam mata itu, juga bibir yang selalu terlihat dipaksa untuk tersenyum.
Namun kini, dia dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri, mata itu kini telah memancarkan sebuah binar dan bibir itu tengah memasang senyum tulus, meskipun hanya terlihat samar, tapi itu tidak dapat menutupi kebahagiaan yang terlihat jelas di wajah anak itu.
"Aku kira aku tidak akan bisa melihat, binar bahagia dan senyum tulus dari anak yang aku rawat dengan tanganku itu, tapi kini aku melihatnya sendiri, melihat bagaimana dia tersenyum seperti itu dan melihat kebahagiaan di wajahnya, membuat hatiku ikut merasakan kebahagiaan." Alish menengok ke arah sampingnya.
Nevan menatap istrinya itu, dia mengangguk dan tersenyum pada Alish, tangganya terangkat dan mendarat di pundak wanita yang telah menemaninya selama ini dengan memberikan usapan lembut.
"Iya, bukankah itu yang kita harapkan dari dulu, semoga mulai sekarang dia akan secara perlahan meninggalkan kesedihan yang selalu dia bawa itu dan menggantikannya dengan kebahagiaan," ucap Nevan penuh harap.
"Iya," sahut Alish mengangguk, dia kemudian mengusap bawah matanya yang kembali basah oleh air mata menggunakan tisu.
...----------------...
Masih di sini, kan? Pengikut Ami, Fariz?
Ini udah mendekati Bab terakhir ya, tinggal satu Bab lagi, cerita tentang Ami sama Fariz bakalan Tamat.
__ADS_1
Kenapa aku tamatin? Karena aku merasa cerita ini udah sampai di akhir perjalanan Ami dan Fariz, mereka sudah bersama, kan?🤗