Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Jangan Terus Menyakiti Hatimu.


__ADS_3

Ami tersenyum pada orang yang kini tengah menatapnya tak percaya, orang itu hanya berdiri di ambang pintu dengan mata yang masih tidak berkedip.


"Apa Ami hantu, sampai-sampai Bibi terus menatapku seperti itu," ucap Ami pada ijah dengan tersenyum tipis.


Dia sudah menduga jika wanita yang kini berdiri di depan pintu itu adalah Ijah art di apartemen itu.


"Non Ami, akhirnya Non datang juga, Bibi kira Non tidak akan pernah kembali lagi ke sini," ucap Ijah dengan serius.


"Ceritanya panjang, Bi kenapa Ami telat datang ke sininya," ucap Ami pada Ijah.


"Ayo Non, masuk dulu," ajak Ijah, pada Ami yang masih berdiri di depan pintu.


"Bibi mau ke mana?" tanya Ami karena melihat Ijah membawa kantong kresek besar.


"Ini sampah, tadinya Bibi mau bawa ini ke bawah, tidak apa-apa. Bibi buang ininya nanti saja, ayo masuk dulu Non," ajak Ijah lagi, sambil menyimpan kantong yang dibawanya itu di samping pintu.


"Baiklah," sahut Ami mengikuti Ijah memasuki apartemen.


"Non duduklah, Bibi mau ambilkan dulu minuman," ucapa Ijah menuju ke dapur.


Ami memindai setiap sudut ruangan itu, di sinilah dia tinggal selama hampir tiga bulan itu, di sofa itulah, dia sering menonton bersama dengan Fariz, menghabiskan waktu berdua sambil bercerita di sana.


Ami secara perlahan kembali melanjutkan langkah kakinya, dia duduk di sofa mengusap sofa itu dengan hati-hati.


"Ini, Non minumnya," ucap Ijah menyimpan minuman untuk Ami.


"Iya terima kasih, Bi. Duduklah aku ingin mengobrol," ucap Ami pada Ijah dan menepuk tempat kosong di sampingnya.


Ijah pun menurut, dia duduk di samping Ami, melihat Ami yang sudah mulai meminum minuman yang dia sajikan itu.


"Bi, Mas Fariz sedang tidak ada di sini, kan? tanya Ami melihat ke arah kamar Fariz, dia masih takut jika Fariz ada di sana, karena masih belum siap berhadapan dengan pria itu.


"Tidak ada, Den Fariz sedang pergi ke rumah orang-tuanya," sahut Ijah.


"Dia selalu baik-baik saja, kan?" tanya Ami lagi.


"Dari luar memang terlihat baik, tapi siapa tau bagaimana keadaan hatinya," sahut Ijah yang disertasi helaan napas sedikit kasar.


"Kenapa seperti itu, Bi?" Ami menatap Ijah dengan heran.

__ADS_1


"Semenjak Non Ami pergi dari sini, Den Fariz kembali ke dirinya yang semula, dia tidak pernah bicara apalagi tersenyum, setiap hari libur juga dia selalu duduk di depan tv, tapi matanya menatap tv dengan kosong, Den Fariz yang sekarang seperti, sebuah cangkang yang kosong, di luar terlihat baik, tapi di dalamnya tidak ada isinya," terang Ijah menatap Ami dengan intens.


"Apa benar seperti itu, Bi. bagaimana interaksi antara Mas Fariz sama wanita yang kini sudah menjadi tunangannya?"


"Setiap kali wanita itu berkunjung ke sini, Den Fariz hanya memasang wajah datarnya, dia pun selalu menjaga jarak dari Non Cindy, bahkan saat Non Cindy ingin lebih dekat dengan Den Fariz, dia segera menghindar," terang Ijah membuat Ami merasa sedih dan senang secara bersamaan dengan hal itu.


Dia merasa sedih karena membayangkan bagaimana tersiksanya pria itu yang merasa terpaksa saat berada di dekat Cindy dan merasa senang, karena ternyata hubungan antara mereka masih tidak ada kemajuan.


"Bahkan di hari sebelum acara pertunangan itu dilakukan, Bibi melihat Den Fariz berdiam diri di depan tv selama seharian, tidak beranjak sedikit pun, Bibi sudah membujuknya untuk makan, tapi Den Fariz menolaknya, dia mengatakan jika dia tidak lapar, padahal dari pagi tidak memakan apa pun," terang Ijah lagi


"Kenapa Mas Fariz, sampai nyiksa dirinya seperti itu," ucap Ami dengan sedih.


"Bibi juga khawatir dengan keadaannya, Den Fariz yang terus menyiksa dirinya sendiri dan membohongi hatinya sendiri seperti itu," ucap Ijah.


"Itulah kenapa, Bibi selalu berharap agar Non Ami segera datang ke sini dan menemui Den Fariz lagi."


"Dulu saat Ami sudah bisa melihat, tas yang diberikan oleh Bibi hilang, foto itu pun juga hilang, jadi aku tidak bisa mengenalinya," terang Ami.


"Kapan dia pulang?" tanya Ami yang kini sudah siap untuk bertemu dengan pria itu.


"Mungkin sebentar lagi," sahut Ijah.


Ami mulai berdiri, beberapa kali menghela napas dan mengeluarkannya secara perlahan, sedangkan Ijah langsung pergi ke dapur memberikan mereka ruang untuk saling bertemu.


Fariz membuka pintu dengan malas, dia berjalan dengan kepala menunduk, dia mengganti sendal terlebih dahulu dengan sendal khusus di rumah.


Tubuhnya yang sudah berdiri dengan tegap dan kepala yang sudah terangkat, tiba-tiba saja menegang, melihat siapa yang kini tengah berdiri depannya.


Apakah ini mimpi atau halusinasinya, di depannya tengah berdiri Ami yang sedang tersenyum padanya, tubuhnya kini menjadi terasa kaku sulit untuk di gerakan.


"Mas," panggil Ami dengan nada lembut, terasa menggelitik telinganya itu.


"Mas Fariz," panggil Ami lagi, kini dapat membuat Fariz tersadar dari lamunannya.


"Kenapa Mas diam saja? Apa Mas tidak senang bertemu denganku?" tanya Ami yang sudah melangkah mendekati Fariz.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Fariz yang sudah dapat mengendalikan dirinya.


"Bukankah aku sudah berjanji untuk menemuimu saat aku sudah dapat melihat lagi, aku hanya menepati janjiku," ucap Ami dengan senyum yang masih bertahan di bibir ranumnya itu.

__ADS_1


"Sekarang kamu sudah menemuiku dan tahu aku, jadi tunggu apalagi, pergilah." Fariz lagi dan lagi berbicara tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya.


"Jika aku tidak ingin pergi, kamu mau apa?" tanya Ami yang malah menantang Fariz.


"Sampai kapan kamu akan membohongi hatimu sendiri, Mas. Jangan terus menyakiti hatimu sendiri, sekali-kali cobalah untuk memikirkan perasaanmu sendiri."


Ami menatap ke dalam mata Fariz yang juga tengah menatapnya dengan dalam, pria itu kemudian membuang tatapan ke arah lain.


"Apa maksudmu, siapa yang membohongi hati dan menyakiti hati sendiri, ak—"


"Kamu selalu berbohong Mas, kamu terus menyakiti dirimu sendiri dengan sikapmu itu." Ami segera memotong ucapan Fariz itu.


"Terserah apa katamu, jika urusanmu sudah selesai pergilah," ucap Fariz yang langsung melangkah akan meninggalkan Ami, tapi Ami tidak membiarkannya.


Ami menghalangi tubuh Fariz dengan merentangkan sebelah tangannya, tepat di depan Fariz, hingga pria itu kembali berhenti dan menatap Ami yang berada di sampingnya.


"Mas mencintaiku, Mas membohongi hati dan perasaanmu karena kamu ingin membuat mamamu senang," ucap Ami dengan yakin.


"Aku juga mencintamu Mas, aku mohon terima rasa ini," sambung Ami dengan tatapan memelas.


"Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya merasa berterima kasih padaku karena aku sudah menolongmu." Fariz melewati tangan Ami dan akan menunju anak tangga.


"Ini bukan rasa terima kasih, apa kamu tau, setelah aku dapat melihat, aku berusaha mencarimu, seperti orang yang tidak waras, mencari orang yang bahkan tidak aku ketahui wajahnya!"


"Saat kemarin aku bertemu kamu lagi dan yakin jika itu kamu, aku merasa kecewa karena kamu sudah bertunangan, aku hampir menyerah dengan rasa ini, tapi lagi dan lagi hatiku meminta untuk menemuimu!" raung Ami membuat langkah Fariz terhenti.


Semua emosi bercampur menjadi satu, hingga mambuat Ami tidak mampu mengendalikan dirinya lagi dan menumpahkan segalanya saat ini.


"Apa kamu tau rasanya mencintai orang yang bahkan tidak kita ketahui bagaimana rupanya, tidak kita ketahui di mana keberadaannya, setiap waktu, aku hanya berharap kita bisa bertemu, tapi ternyata pertemuan kita tidak sesuai dengan apa yang diinginkan." Ami terus berbicara dengan air mata yang kian berjatuhan di pipinya.


Sementara Fariz hanya mematung di tempatnya, dadanya kian bergemuruh mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ami, hatinya terasa ngilu mendengar isakan tangis dari wanita itu.


"Jika kamu memang ingin tetap seperti ini, aku tidak akan memaksamu untuk menerima perasaan yang aku miliki ini, kamu teruslah berpura-pura seperti itu, semoga kamu dapat menemukan kebahagiaanmu dengan terus seperti itu." Ami mengusap pipinya dengan kasar.


"Mulai sekarang, aku tidak akan pernah menemuimu lagi, aku akan menganggap jika kita tidak pernah bertemu, dulu aku tidak ingin mengucapkan kata ini, tapi sekarang aku akan mengucapkannya, selamat tinggal dan terima kasih karena sudah menolongku waktu itu."


Ami segera mengambil tas yang semula di simpannya di sofa, setelah itu dia berjalan menuju ke arah pintu apartemen dan langsung keluar tanpa berbalik lagi, buliran air mata kian berjatuhan di pipinya.


Hatinya merasa kecewa berbalut luka dengan Fariz yang tetap kukuh untuk menyakiti dirinya sendiri, juga dirinya yang selama ini sudah berusaha mencarinya.

__ADS_1


__ADS_2