Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Hanyut Dalam Kesedihan.


__ADS_3

"Jadi kenapa kamu sampai seperti ini, Mas? Apa ada masalah?" tanya Ami menatap Fariz yang sedang duduk saling berhadapan di satu sofa dengan serius, setelah beberapa saat terdiam.


Fariz beberapa kali menghela napasnya terlebih dahulu, sebelum mulai bersuara lagi, saat ini hanya ada mereka berdua di ruangan itu, karena Tini sudah Ami minta untuk pergi ke kamarnya.


Fariz sudah berganti pakaian dengan pakaian milik papanya, rambutnya masih sedikit basah dan berantakan karena tidak disisir, Fariz melarang Ami untuk beranjak ke mana pun, dia terus meminta pacarnya itu untuk tetap berada di sana.


"Tadi siang, sebenarnya aku mau mengatakan tentang hubungan kita pada orang-tuaku, tapi ternyata semua tidak sesuai harapanku."


"Terus apa yang teejadi setelah itu?" tanya Ami yang entah kenapa, dia merasa tidak tenang saat mendengar penuturan pacarnya itu.


Fariz menatap jauh ke dalam mata Ami, dia tidak dapat menyembunyikan kesedihan yang ada di hatinya, percayalah, tidak mudah berada di posisinya sekarang, tapi dia harus tetap menghadapinya, meskipun rasanya dia ingin menghindar dari situasi saat ini.


"Ada apa Mas, apa mereka marah padamu?" Ami mengambil tangan Fariz dan menggenggamnya.


"Aku tidak bisa mengatakan hal itu, Mama masuk rumah sakit dan menurut keterangan dari dokter, Mama tidak boleh menerima kabar yang membuatnya tertekan lagi, aku takut untuk mengatakan semuanya, takut malah memperburuk kesehatannya," terang Fariz tanpa mengalihkan perhatian dari netra Ami.


"Kalau gitu jangan katakan itu sekarang Mas," ucap Ami dengan memasang senyuman di wajahnya.


"Tapi ...."


"Kenapa Mas? Apa ada masalah lain?"


"Orang-tuaku ingin agar aku setuju untuk menikah dengan Cindy dan mereka pun sudah memutuskan untuk melaksanakan pernikahanku minggu depan."


Ami merasa tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas, saat mendengar apa yang baru saja Fariz ucapkan itu.


"Apa Mas menyetujuinya?" Ami menatap Fariz penuh harap.


Dia berharap pria di depannya itu, kini menggeleng atau mengatakan dengan tegas jika dia menolak hal itu.


"Maaf, aku tidak bisa menolaknya, aku takut jika aku menolaknya saat ini, kondisi Mama akan semakin memburuk." Fariz berbicara dengan suara yang pelan, nyaris seperti bisikan.

__ADS_1


Runtuh sudah, kepercayaan diri yang berusaha Ami bangun selama ini, tergantikan oleh rasa sakit dalam hatinya.


Bahkan dia merasa jika matanya sudah mulai memanas, ditatapnya pacarnya yang kini telah menundukkan kepalanya, jadi ini alasan pria itu mendatanginya sekarang, untuk mengatakan jika tidak akan lama lagi dia akan menjadi milik orang lain seutuhnya.


Ami berusaha menahan air yang hampir saja merembes di pelupuk matanya itu, dia berusaha menampilkan senyumannya di depan pria yang beberapa waktu menjadi mimpi indahnya itu.


"Apa Mas akan bahagia dengan pernikahan Mas nanti?" pertanyaan Ami itu, membuat Fariz yang semula menunduk karena tidak sanggup melihat mata Ami, kini mulai mengangkat wajahnya.


"Bagaimana aku bisa bahagia, sementara hatiku hanya dipenuhi olehmu, apa yang harus aku lakukan Mi? Apa kita harus kawin lari saja," ucap Fariz dengan frustasi.


"Tidak Mas, jika kamu melakukan hal itu, itu hanya akan membuat orang-tua Mas semakin kecewa," ucap Ami menolak pikiran konyol Fariz itu.


Meskipun sebenarnya hati kecilnya menginginkan hal itu juga, tapi dia tidak ingin pria itu terus dihantui oleh rasa bersalah nantinya.


"Terus aku harus gimana Mi, aku tidak tau harus berbuat apa sekarang?"


"Kamu menikah saja dengan Mbak Cindy Mas," ucap Ami dengan hati yang perih.


"Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama Mas, mungkin cerita kita hanya cukup sampai di sini."


"Aku tidak ingin seperti ini Mi," lirih Fariz bahkan ujung matanya sudah mulai basah.


"Aku juga tidak ingin seperti ini, Mas. Tapi kita bisa apa, jika memang seharusnya seperti ini," sahut Ami membuang wajahnya ke arah lain.


Dia menarik napas beberapa kali, menenangkan hatinya yang terasa berdenyut nyeri itu, bukan hal yang mudah berada di situasi seperti itu.


Situasi yang tidak menguntungkan sama sekali untuknya, saat ini posisinya adalah orang ketiga dalam hubungan Fariz, meskipun Fariz tidak mencintai Cindy, tapi publik tidak tau tentang hal itu.


"Mas, sepertinya di luar hujannya sudah reda, ini juga sudah malam," ucap Ami mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin mulai sekarang kita tidak bisa bertemu lagi, Mas. Biarkan aku simpan rasa yang kian tumbuh ini di dasar hati, begitu pun denganmu Mas, ketika kamu menikah dengan Mbak Cindy, kamu harus bisa menerima dia dan melupakan Ami," ucap Ami dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan dengan di pipinya.

__ADS_1


Sekuat apa pun, dia menahan air matanya itu agar tidak jatuh, tapi tetap saja dia tidak mampu menyimpan air matanya lebih lama lagi.


Melihat Ami yang sudah berlinang air mata membuat hati Fariz kian teriris, dia mengusap pipi yang sudah basah oleh air mata itu, menempelkan keningnya dengan kening milik Ami.


"Jangan katakan itu Mi, jangan menangis juga, aku tidak sanggup melihatnya, aku tidak akan mampu melupakanmu, tidak akan mampu," lirih Fariz dengan setitik air mata yang mulai turun di pipinya.


Katakanlah dia cengeng, tapi dia sudah menahan air mata yang seolah mendesak ingin keluar sedari tadi itu dan sekarang, di hadapan Ami, dia tidak mampu menahan air matanya itu.


"Semoga kelak kamu bahagia Mas, kamu- kamu ...." Ami tidak mampu melanjutkan ucapannya itu.


Suaranya tercekat di kerongkogannya, hanya isakan tangis yang terus keluar dari mulutnya itu.


Fariz menggelengkan kepala dengan kening yang masih saling menempel, kedua tangannya masih berada di kedua sisi pipi Ami.


"Jangan katakan itu Mi, aku mohon, itu bukan hanya menyakitimu, tapi menyakitiku juga, aku benci diriku yang tidak bisa berbuat apa pun, saat ini Mi," racau Fariz.


Untuk beberapa saat, mereka tidak berbicara lagi, hanya isak tangis yang terdengar di antara mereka, tak lama kemudian Fariz kembali memeluk Ami.


Menyembunyikan wajah Ami yang masih terisak itu di dadanya, menngusap rambut Ami dengan usapan yang lembut.


Ami yang merasakan hangatnya pelukan itu, semakin terisak, mungkin ini adalah pelukan terakhir antara mereka, mungkin setelah ini mereka tidak akan pernah bisa bertamu kembali.


Mungkin setelah ini, mereka hanya akan saling merindukan satu sama lain dari jauh dan dalam diam, mereka akan mulai kehidupan mereka masing-masing mulai dari sekarang.


Memikirkan hal itu, tangis Ami kian pecah dalama pelukan Fariz, dia melingkarkan tangannya di pinggang Fariz dan mengeratkan pelukan antara mereka.


"Aku pasti bisa, kan Mas, aku pasti bisa melanjutkan hidupku lagi mulai dari sekarang, begitu pun denganmu, kamu pasti bisa melanjutkan hidupmu setalah ini," racau Ami dengan putus asa, tanpa mengangkat wajannya.


Mereka sama-sama hanyut dalan kesedihan yang menghancurkan hati mereka itu, hingga membuat mereka seolah tidak dapat bernapas dengan normal lagi.


...----------------...

__ADS_1


Lanjut gak nih😌, minta dukungannya dong, yang masih punya vote sama poin, sumbagin ke Fariz sama Ami yuk, biar mereka bahagia 🙏


__ADS_2