Sincerity (Ketulusan Hati)

Sincerity (Ketulusan Hati)
Desakkan Nevan dan Alish.


__ADS_3

Saat ini Fariz masih berada di rumah sakit, dia sedang menemani Alish yang sudah sadar beberapa jam yang lalu, Nevan pergi keluar untuk makan malam, sedangkan Aaric sudah pulang ke rumah Nevan semenjak hari sudah mulai gelap.


"Riz," panggil Alish dengan suara yang lemah.


"Ada apa, Ma? Apa Mama mau sesuatu?" tanya Nevan yang mulai bangun dari sofa yang semula dia duduki.


"Tadi siang Cindy, menelepon Mama, dia bilang dia ingin segera kamu mempercepat pernikahan kalian," ucap Alish berusaha tersenyum pada Fariz yang kini tengah berdiri, di samping ranjang tempatnya terbaring.


"Jadi, tadi Mama pingsan karena masalah itu?" tanya Fariz menatap Alish dengan serius.


"Mama pingsan bukan karena itu, saat ini mama memang sudah tidak muda lagi, mengalami gangguan seperti itu, sudah biasa bagi orang yang sudah lanjut usia seperti mama ini," sahut Alish tersenyum.


Fariz menatap Alish dengan intens, meskipun Alish membantah apa yang dia ucapkan tadi, tapi hati kecil Fariz mengatakan, jika wanita yang sudah memberikan kasih sayang dari dia kecil itu, sampai seperti itu karena memikirkan dirinya.


"Tapi, Nak. Bisakah kamu mengikuti permintaan mama sekali lagi, mama hanya ingin melihat kamu menikah, memiliki kehidupan rumah tangga." Alish menatap Fariz dengan mata sayunya.


"Mama tau, mungkin ini terlalu memaksakan kehendak, tapi umur kamu sama Cindy sudah matang untuk menikah, bahkan memiliki anak, dengan melihat kamu sudah menikah, itu bisa membuat mama tenang, meskipun umur mama sudah tidak akan lama lagi," sambung Alish lagi.


Fariz hanya mematung di tempatnya, suaranya tercekat di kerongkongan, hatinya terasa sesak seolah terhimpit oleh benda yang teramat besar, hingga dia merasa bahkan untuk bernapas pun sulit.


Apakah dia bisa menghindar dari pembahasan itu, bisakah dia pergi tanpa harus memberikan sebuah jawaban, dari ucapan wanita itu.


"Tapi, A—"


"Kenapa kamu tidak langsung mengiyakan saja keinginan Mamamu itu, Riz. Bukankah kamu dan Cindy sudah cukup mengenal, kalian sudah mengenal setahun lebih, itu bukan waktu yang singkat."


Nevan yang sudah berada di ruangan itu, langsung memotong ucapan Fariz, tanpa membiarkan Fariz menyelesaikan ucapannya itu.


Dia berjalan mendekati ranjang, saat sudah berada di samping ranjang, dia kemudian menatap Fariz yang juga tengah menatapnya dengan sedih.

__ADS_1


"Papa tau mungkin ini terdengar egois untukmu, tapi Papa tidak bisa melihat Mamamu seperti tadi lagi, meskipun dia tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi Papa yakin kamu pasti tau, salah satu penyebab Mamamu seperti ini, itu karena dia selalu memikirkan tentangmu dan kehidupanmu," tutur Nevan dengan tatapan lurus pada mata Fariz.


"Bukankah selama ini kami tidak pernah meminta apa pun padamu, kami hanya ingin yang terbaik untukmu."


"Jadi Papa mohon, sama kamu Riz, tolong kali ini kamu ikuti apa yang selalu Mama kamu inginkan itu, buat dia senang dan tenang, percepatlah pernikahan kamu dan Cindy," sambung Nevan lagi, bahkan saat ini pria itu sudah mengatupkan kedua tangannya memohon pada Fariz agar dia mau mengikuti keinginannya itu.


Fariz menatap Alish dan Nevan secara bergantian, dia ingin sekali mengatakan jika dia sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun pada Cindy.


Wanita yang dia cintai adalah Ami, Ami bukan Cindy, tapi sayang, dia tidak sanggup untuk mengatakan hal itu, dia tidak ingin membuat kesehatan mamamnya kembali memburuk.


"Kenapa kamu diam Riz, kamu setuju, kan jika pernikahan kamu diadakan bulan depan," ucap Nevan dengan tegas.


Tersirat nada yang tidak ingin dibantah dari ucapannya itu, melihat hal itu, Fariz hanya pasrah, bukankah akan percuma, jika dia membantah lagi.


"Kenapa harus secepat itu, kita belum persiapan apa pun," ucap Alish yang sedikit kaget saat mendengar ucapan suaminya itu.


"Baiklah, aku akan segera sehat agar aku bisa mengurus masalah pernikahan Fariz," sahut Alish dengan tersenyum lebar.


Alish kemudian menoleh kembali ke arah Fariz yang masih mengakar di tempatnya dan kembali bertanya, "Kamu setuju, kan Riz?"


Fariz yang dari tadi menundukkan kepala, memikirkan nasibnya yang entah akan bagaimana itu, mulai mengangkat kembali wajahnya dan berusaha memasang senyuman, meskipun dengan susah payah.


"Fariz setuju," ucap Fariz yang merasa dadanya bergemuruh saat dia mengucapkan hal itu.


"Baguslah, berarti sesuai dengan apa yang Papa kamu ucapkan, bulan depan adalah acara pernikahanmu," timpal Alish yang hanya dijawab anggukkan lemah oleh Fariz.


"Ya udah kalau gitu, sekarang sebaiknya kamu pulanglah dulu, ini sudah malam," ucap Nevan.


Fariz kembali menganggukkan kepalanya dan pergi begitu saja, meninggalkan orang-tua angkatnya tanpa berpamitan, Nevan dan Alish memaklumi sikap Fariz itu, mereka yakin jika Fariz pada akhirnya akan menerima Cindy dengan sepenuh hatinya.

__ADS_1


Nevan hanya ingin, melihat Alish kembali sehat, meskipun tanpa dia sadari, hal itu membuat Fariz sakit hati.


...******...


Sepanjang perjalanan, Fariz hanya menatap depannya dengan kosong, kakinya terasa tak menapaki bumi, dia merasa saat ini jika dia sedang melayang, jiwanya seolah telah lepas dari tempatnya.


Perlahan tapi pasti, langkahnya membawa dirinya ke arah parkiran, dia segera memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya itu dengan kecepatan di atas rata-rata.


Beberapa umpatan yang dilayangkan orang-orang padanya karena telah melajukan mobil dengan tidak beraturan, bahkan hampir menabrak pengendara lain, tidak dia hiraukan.


Pikiran dan hatinya benar-benar kacau, dia merasa jadi pria tidak berguna, dia merasa jadi pria pecundang, bahkan untuk mempertahankan hubungannya sendiri pun tidak bisa.


"Aaaakkkkhhh!" teriaknya di dalam mobil yang melaju tidak terkendali itu.


Dia memukul setir mobilnya itu dengan kepalan tangganya, dia melakukan hal itu bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, bahkan kini buku-buku jari di kedua tangannya itu telah memerah bahkan lecet, hingga mengeluarkan bercak darah.


Mulutnya juga tidak berhenti mengumpati dirinya sendiri, dia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa pun saat ini,


Alam seolah ikut merasakan apa yang tengah dia rasakan, hujan tiba-tiba saja turun dengan begitu lebatnya, hal itu tidak membuat Fariz mengendurkan kecepatan laju mobilnya.


Hanya satu tujuannya saat ini, dia ingin mencari ketenangan untuk hatinya, dia ingin mendinginkan hati dan pikirannya yang seolah terbakar itu.


Matanya terasa perih seolah ada benda tajam yang masuk ke dalam matanya itu, dia ingin menangis, tapi air mata pun tidak ingin menampakkan dirinya.


"Maafkan aku, Mi, Maaf!" gumam Fariz,


"Aku bodoh, sangat bodoh!" Fariz terus meracau sepanjang perjalanan itu.


Jalanan sudah mulai licin karena air hujan, tapi pria yang sedang dilanda guncangan yang cukup hebat dalam hatinya tidak memedulikan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2